Setiap kali membaca koran, kata cicak dan buaya terasa agak mendominasi – sebab mereka sudah menjadi istilah umum buat menggambarkan perseteruan antara KPK dan Mabes Polri. Tentu saja eufisime begitu terasa sangat cocok sebab dalam dunia nyata – meski keduanya dimasukkan ke dalam keluarga reptil – cicak tembok ogah bertarung melawan seekor buaya. Sebaliknya mereka menyadari peranan masing-masing dan patuh pada hukum alam.

Saya sih tidak takut cicak, gak seperti kawan saya yang suka histeris melihat reptil mini gemuk berkepala membulat dan kulit transparan itu. Bisa dibilang, kita di sini hidup harmonis dengan cicak, mereka kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan, atau sedang tenggelam dalam gelas kopi. Continue reading