Memeluk Kerinduan

Posted on Leave a commentPosted in Imperfect Rhyme

Dear kamu, Aku nggak akan repot-repot menanyakan kenapa kita nggak bisa lagi terus memelihara rasa cinta.  Tapi aku sering bertanya-tanya: Apakah kamu merindukan aku? Apakah ini juga sulit bagimu? Apakah kamu berusaha berhenti mengingat kita sepertiku? Karena walaupun aku tahu bahwa kita nggak akan pernah bisa bersama, tidak peduli seberapa kuat perasaan kita, aku masih merasakan kehilangan dalam semua hal yang aku lakukan. Aku nggak tahan mendengar lagu-lagu tertentu, karena hanya membuatku teringat senyummu Atau membuka media sosal tanpa mencari tahu kabarmu. Kenangan di antara kita menghantui. Memejamkan mata untuk mengusirnya pun tak selalu berhasil. Jika kamu penasaran, ya, aku masih menyimpan buku-buku pemberianmu. Buku-buku yang tidak pernah aku baca, sebab terlalu menyakitkan melihat dirimu di sana. Kadang aku berpikir apakah sebaiknya semua itu kukembalikan saja padamu? Jika kamu penasaran, ya, aku masih menyimpan percakapan-percakapan kita. Aku masih ingat semua perasaanku ketika kamu mengatakan perasaanmu. Membacanya kembali memang sangat menyakitkan, dan terus membuatku menangis. Aku tahu seharusnya aku melangkah dari bayangan. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk memikirkan semua hal selain kamu. Barangkali perasaanku sangat dalam tanpa aku sadari, sehingga mengenyahkanmu […]

Nggak Ada Waktu Buat Menulis

Posted on Leave a commentPosted in Personal, Random Thoughts, Tips Menulis, World as a Mom

Kadang bosan ditanya “bagaimana caranya jadi penulis produktif?” atau “bagaimana cara mengatur waktu untuk menulis?” sebab selalu ada yang ngeyel tiap kali saya menjawabnya. Saya sih nggak pernah keberatan kalau ada yang berargumen, cuma kadang argumen penanya terasa defensif. Misalnya, ya… “Ya, kan mbak Astrid enggak kerja (kantoran) jadi bisa punya waktu buat menulis.” “Mbak enak, anak-anaknya udah pada gede. Anak saya kan masih kecil, nggak bisa ditinggal.” “Duh, ibu-ibu kayak aku sih udah enggak ada waktu buat menulis. Harus masak, nyuci, nyetrika, ngurus anak dan suami. Habis deh waktunya.” Oh, argumen-argumen penuh pemakluman begitu suka bikin saya kesal setengah mati.

IDGAF

Posted on Leave a commentPosted in About LIfe, Random Thoughts

Saya punya masalah dengan dianggap serius, terutama saat sedang sedih. Beberapa kawan mengira saya lagi berpura-pura galau atas nama sensasi, sebagian lagi terheran-heran. Sebagian yang terakhir ini barangkali menganggap otak saya  nggak merekam file kesedihan. Nggak salah juga sih kalau kawan-kawan berpikir begitu, sebab

Pada Sebuah Gerbong

Posted on Leave a commentPosted in Personal, Random Thoughts

Menghabiskan beberapa hari di Jakarta minggu lalu. Melewati stasiun Gambir selalu membawa saya kembali pada kejadian delapan belas tahun yang lalu. Pada sebuah gerbong kereta malam, dari Jogjakarta menuju ibukota. Di sebelah saya duduk seorang laki-laki. Saya nggak pernah tahu siapa dia, sebab tak pernah bertanya namanya. Atau barangkali kami memang bertukar pertanyaan tentang nama, tapi saya tak mampu mengingatnya. Tak banyak yang yang saya ingat tentang laki-laki ini. Waktu membuat saya samar akan wajahnya. Saya hanya mengingat ia sebagai orang berperawakan sedang dan berkulit sawo matang. Tapi, saya nggak pernah melupakan percakapan kami sepanjang perjalanan kereta malam itu. Ia amat ramah dan menyenangkan. Saya bukan orang yang senang mengobrol dengan orang yang tak saya kenal, apalagi lawan jenis. Selalu ada prejudis. Menariknya, tidak dengan orang ini. Pertanyaan pertamanya standar. “Sendirian saja ke Jakarta? Mbaknya itu nggak ikut?” – ia mengomentari kawan yang mengantar saya ke stasiun dan melambaikan tangan ketika kereta berangkat. Biasanya, pertanyaan seperti itu hanya saya jawab sekenanya. Dan saya nggak paham kenapa laki-laki ini kemudian mampu membuat saya betah mengobrol berjam-jam dengannya. […]