Tentang Teror

Posted on 2 CommentsPosted in Beliefs, Democracy and Freedom

Tadi sore, anak laki-laki saya yang duduk di kelas tujuh bertanya mengapa ada terorisme dan siapa yang pertama kali memulainya. Pertanyaan yang muncul setelah menonton berita sore mengenai bom di Kampung Melayu Jakarta itu mau tak mau membuat saya berpikir keras. Saya mencoba mengingat-ingat lagi beberapa buku bertema sejarah yang pernah saya baca. Dan, meski senang baca buku, saya lumayan payah dalam hal mengingat apa yang saya baca. Setahu saya, kata terorisme berasal dari bahasa Perancis, le terreur. Kata ini digunakan pertama kali setelah masa Revolusi Perancis untuk menyebut kekerasan luar biasa yang dilakukan pemerintah pada kelompok yang dianggap menentang.  Pendukung kelompok anti pemerintah tersebut dipenggal, dan jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari dua puluh ribu kepala terlepas dari tubuh atas perintah penguasa saat itu. Tentu saja teror tersebut diciptakan agar tak ada lagi yang berani melawan pemerintah. Menyebarkan ketakutan memang menjadi cara paling efektif dalam melakukan revolusi, dan cara ini kemudian banyak dilakukan di Amerika, Rusia dan Eropa, terutama pada pertengahan tahun 1900an dan kemudian menular ke seluruh dunia. David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel […]

Majalah dan Saya

Posted on Leave a commentPosted in Chick Chat, Random Thoughts

Bulan depan, majalah Hai akan terbit buat terakhir kalinya. Konon sih, sebab belum ada pernyataan resmi dari pihak majalah. Saya hanya baca soal ini kemarin di Twitter dan forum Kaskus.     Jika benar, maka ini sudah kesekian kalinya majalah-majalah populer gulung tikar, nggak terbit lagi. Sedih deh dengernya, sebab majalah Hai itu memento banget buat saya. Majalah Gadis juga. Bisa dibilang kedua majalah itu berperan besar di masa remaja saya. Dari majalah Gadis, saya banyak banget belajar buat jadi perempuan mandiri. Kalau remaja sekarang meluangkan banyak waktu buat menonton beragam tutorial dari Youtube, saya belajar banyak hal dari majalah Gadis. Mulai dari cara beresin kamar, cara memilih outfit dan pakai make up (oke, yang terakhir bohong, soalnya saya termasuk ogah dandan), cara mengelola keuangan, cara bersikap asertif dan mengungkapkan pendapat, banyak deh! Sementara dari majalah Hai, saya belajar banyak tentang karya tulis. Banyak penulis-penulis keren muncul dari majalah ini. Mereka favorit saya – Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya, Gola Gong dengan Balada si Roy, Zara Zettira dengan puluhan cerita kerennya (sekarang saya tak suka dia […]

Taruna

Posted on Leave a commentPosted in Personal, Random Thoughts

Satu lagi anak muda mati sia-sia. Institusi ini atau itu, tak pernah ada kejelasan bagaimana kesalahan semacam itu terjadi dalam sistem ketika calon tarunanya mati atas nama kekerasan oleh senior. Oh, barangkali para kakak kelas itu tak jahat, mereka cuma tidak tahu bahwa gak setiap orang tahan dipukuli sampai mati. Begitulah, sejak remaja ayah saya melarang saya pacaran – apalagi kawin dengan tentara. Lucunya, sewaktu SD saya pernah tertarik masuk ABRI, sebab terinspirasi film 30S/PKI yang – demi mengutuki komunisme – wajib ditonton seluruh pelajar se-Indonesia. Dalam film itu, tokoh Pierre Tendean menjadi begitu hebat di mata saya, sebab ia berani mati untuk melindungi atasannya. Poster pahlawan revolusi itu bahkan saya tempel di dinding kamar tidur, tepat di ujung ranjang, agar saya bisa berlama-lama menatap wajah ganteng sang letnan. Namun kekaguman itu tak terlalu lama. Ia pudar begitu saja ketika anak tetangga saya yang masuk akademi militer membawa pulang teman-teman angkatannya. Mereka senang tertawa keras, merokok, dan bersiul-siul genit ketika saya lewat. Persis preman pasar. Saya kira tidak semua calon taruna begitu, tapi saya keburu […]

Random Kindness

Posted on Leave a commentPosted in About LIfe, Random Thoughts

Suatu siang di Jakarta, saya menumpang mobil kawan. Saat melewati gerbang tol, ia membuat saya terheran-heran, sebab ia membayari juga mobil di belakangnya. Tentu saja saya bertanya, dan jawabannya membikin saya lebih heran lagi. Katanya ia tak tahu siapa empunya mobil di belakang itu, ia hanya suka berbuat baik. Ia senang membayangkan wajah pengemudi tak dikenal itu bahagia karena tak perlu lagi membayar. Dalam hati saya meledek, “Konyol, ah!’. Tentu saja saya begitu karena tak terima. Sebab saya malas mengakui kalau kawan saya itu orang baik. Soalnya, saya pernah mencoba berbuat baik juga, tetapi malah ditertawakan. Misalnya, saat makan di restoran burger, saya berinisiatif membuang bungkus burger dan gelas karton ke tempatnya – mencoba berempati pada pelayan restoran. Tak ada pujian, malah kawan-kawan saya bilang saya kebarat-baratan – “Halah…tiru-tiru bule lo!” kata mereka sambil meninggalkan nampan-nampan penuh sampah di meja. Kali lain, saat naik mobil, kawan yang mengemudi membunyikan klakson keras-keras sambil menyumpah pada sopir angkot yang menyalipnya. Saat itu saya mencoba berempati pada sopir angkot dengan mengatakan pada kawan saya, “Dia kan lagi ngejar […]

Ngapem, Nyadran dan Padusan

Posted on Leave a commentPosted in About LIfe, Beliefs

Menjelang bulan puasa, saya suka mengamati kegiatan penduduk kampung dekat rumah, yang barangkali juga dilakukan kebanyakan kampung di Jogja dan Jawa tengah. Setidaknya ada tiga tradisi sakral turun temurun yang masih wajib dijalankan sampai sekarang; Ngapem, Nyadran dan Padusan. Namanya tradisi, memang gak berhubungan dengan ajaran Islam, cuma tanpanya berpuasa terasa ada yang kurang. Ngapem adalah kegiatan membuat kue apem. Dilakukan dalam kurun waktu sebulan sebelum puasa dimulai, setelah pihak Keraton mengadakan acara Ngapem. Kue apem ini bersama ketan dan kolak – setelah dibacakan doa – akan dikirim ke para tetangga, teman, kenalan, besan, bahkan atasan. Karena penasaran saya pernah bertanya apa esensi dari Ngapem ini, sayangnya tidak ada yang ingat – barangkali karena tradisi ini sudah berusia ratusan tahun. Yang menarik adalah bila saya dikirimi sepaket apem ketan kolak, maka kemudian saya harus membalas mengirimi paket yang sama kepada si pengirim tadi. Bayangkan kalau saya mendapat lima puluh paket dalam sehari! Beruntung saya suka makan. Lalu ada tradisi Nyadran, sebuah ritual ziarah ke makam para moyang, tetua dan kerabat. Diawali dengan bersih-bersih makam, lalu penduduk kampung – dengan membawa besek nasi dan lauk […]

Jemawa

Posted on Leave a commentPosted in Random Thoughts

Saya lagi kecewa, dan kepingin ngomongin seseorang. Ia seorang penulis yang (tadinya) saya sukai. Buku-bukunya banyak dan ia terkenal. Lantas, saya merasa ia telah berubah menjadi jemawa. Tak tahan kritik. Merasa penulis best seller, lantas marah ketika ada orang lain yang memiliki pendapat atas buku-bukunya. Meski tak benar-benar marah secara verbal, gestur-nya menunjukkan “Emang lo siapa? Berani-berani ngritik gue, udah pernah nulis buku lo?” Ini saya lihat ketika menghadiri bedah buku dan book signing event-nya di Jogja dua tahun lalu. Ia memperlihatkan ekspresi tak senang ketika beberapa mahasiswa dari fakultas sastra mempertanyakan sesuatu dari karyanya. Dan tentunya saya langsung kecewa, sebab (sebelum saya tahu bagaimana reaksinya atas kritik) saya penyuka tulisannya. Beberapa hari lalu, saya lihat di medsos-nya, penulis tersebut marah-marah atas masukan follower-nya tentang konten bukunya. “Kalau ngasih komen, yang sopan, dong!” begitu reaksinya. Duh, saya langsung ilfil dan berniat tak akan pernah membeli karyanya lagi. Dan kayaknya saya nggak sendirian. Lagipula siapa sih yang nggak males kalau kasih feedback aja dimarahi hanya karena si penulis merasa dia lebih tahu sastra ketimbang pemberi komentar? […]

Apa yang Paling Kamu Sesali dalam Hidup?

Posted on Leave a commentPosted in Chick Chat, Personal

“Astrid, apa yang paling kamu sesali dalam hidupmu?” tanya seorang sahabat suatu kali, membuat saya terperangah dan berpikir lama. Sebab saya belum pernah memikirkannya. Oke, barangkali ada beberapa hal yang ingin saya lakukan tetapi nggak jadi. Mengambil S2, kursus bahasa Spanyol, dan menjadi model. Tapi semua itu ada alasannya, jadi tak pernah saya sesali. Saya tidak jadi mengambil kuliah S2 karena pekerjaan saya waktu itu sangat menyenangkan. Sayang kalau saya berhenti hanya untuk sekolah, pikir saya waktu itu. Lagipula alasan saya bukan benar-benar ingin  mendapatkan gelar Master, tapi lebih karena beberapa teman mengambil S2 dan mereka kelihatan keren. Saya kepingin kayak mereka. Alasan yang sama juga saya gunakan ketika berencana jadi model dan kursus bahasa Spanyol. Ikut-ikutan saja. Tinggi saya 170cm dan sangat kurus ketika itu. Banyak orang menyarankan saya jadi model, dan saya pernah mencobanya. Dua kali. Dan tak pernah bisa menikmati. Barangkali karena tak sekeren para model yang saya lihat di majalah, saya nggak memahami esensi dari berjalan ke sana kemari di atas panggung, dengan make up tebal dan baju mewah, membiarkan orang-orang […]