Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Month: June 2017

Tak (Lagi) Terhubung

Juni. Benar-benar bulan yang sibuk. Saya baru punya waktu luang sekitar dua hari yang lalu setelah sejak awal bulan ini, pekerjaan seperti gak membolehkan saya bersantai. Senang ada momen lebaran, jadi semua kegiatan bisa berhenti untuk beberapa hari. Meski tak benar-benar istirahat karena tetap menyiapkan segala keperluan hari raya, setidaknya saya punya waktu untuk curhat di blog sendiri.

Jadi kali ini saya ingin masturbasi, artinya bersenang-senang dengan diri sendiri, menceritakan hal-hal tak penting dalam postingan ini. Sebentar, tak sepenuhnya tak penting sih, sebab akhir April lalu ada insiden kecil yang lumayan mengubah cara pandang saya hingga hari ini.

Continue reading

Pancasila dan Orang-Orang di Medsos

Iya, ngaku. Saya nggak terlalu hafal lagi kalimat-kalimat dalam sila-sila Pancasila. Kalau mendengar orang lain membacakannya sih masih bisa mengikuti, cuma kalau harus mengingatnya lantas mengucapkannya secara lantang barangkali saya bakal gelagapan. Jadi, hei… siapa bilang bahwa tak hafal Pancasila itu hanya masalah generasi milenial?

astridsv blog

Cuma barangkali saya sedikit beruntung (untuk tidak mengatakan sedang menyombong) karena pernah mengikuti penataran P4 di sekolah dulu. Mendapat sertifikat lagi, meski tak ingat di mana menyimpannya. Ini mungkin yang tak dimiliki generasi setelah saya.

Apakah itu artinya saya dan generasi yang menikmati penataran P4 menjadi lebih baik? Tidak selalu sih, sebab yang jago menghafal selalu mendapat nilai baik (dan saya payah dalam hal ini). Saya kira di sinilah alasannya mengapa banyak orang, termasuk saya, tak memahami Pancasila, sebab ia hanya dijadikan wacana hafalan.

Dan seperti semua yang dihafal, bukan dipahami, ingatan akan lenyap dengan mudah tergantikan oleh memori-memori baru di otak. Kita tahu cara kerja otak. Ia selalu men-delete file-file yang tak lagi dianggap irrelevant atau berguna . Tujuannya agar ada space baru untuk informasi-informasi yang lebih baru. Otak hanya sedia menyimpan ingatan yang memang kita inginkan, dan sesuatu yang menjadi kebiasaan umumnya tak pernah dihapus.

Nah, kebiasaan ber-Pancasila ini – atau dalam istilah yang lebih keren disebut pengamalan Pancasila, yang seringkali tak terdeteksi. Penataran P4 memasukkan kata Pengamalan, namun sebatas soal dan simulasi di kelas.

Minggu ini, ketika Saya Indonesia Saya Pancasila menjadi trending topic dalam menyambut Pekan Pancasila 2017, saya kira kita akan mulai mengingat kembali bagaimana dulu bangsa ini dipersatukan oleh para pendirinya. Nyatanya? Saya dibikin puyeng membaca timeline yang mirip Hari Nyinyir Nasional itu.

Pekan Pancasila yang saya yakin tak bertujuan jelek, malah menjadi pemicu perang baru, setidaknya ini saya lihat di Twitter (sebab Facebook saya relatif bersih, isinya teman-teman yang sepaham. Dan, ya… medsos saya hanya dua itu).

Ironis. Padahal pendiri bangsa harus mumet berbulan-bulan untuk menemukan cara agar kita bisa bersatu. Sampai kemudian mereka sepakat untuk menjadikan bangsa yang saat itu baru lahir sebagai bangsa yang berketuhanan, bangsa yang welas asih serta menghargai kemanusiaan, bangsa yang bersatu tanpa pernah tercerai-berai,  demokratis, dan mengagungkan keadilan.

“Dasar negara kita berbentuk Philosophische Grondslag atau Weltanschauung. Dasar negara Indonesia merdeka adalah kebangsaan, internasionalisme atau peri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan yang berkebudayaan.” ~ Soekarno, dalam pidato tanggal 1 Juni 1945  di Gedung Merdeka, Bandung, di depan sidang BPUPKI pertama.

Saya nggak punya masalah sih dengan siapapun yang mengatakan bahwa Pancasila bukanlah murni pemikiran Bung Karno. Beliau hanya mengotak-atik, atau terpengaruh oleh ide atau faham tokoh lain. Saya pernah baca artikel yang mengatakan bahwa Pancasila itu mirip dengan Pridi Banoyong. Ia adalah empat asas pemersatu Filipina yang terdiri dari Nasionalisme, Demokrasi, Sosialisme, Religius.

Ada juga seorang ahli politik yang bercerita pada saya bahwa India memiliki dasar negara, yaitu Nasionalisme, Humanisme, Demokrasi, Religius, Sosialisme. Perdana menteri Jawarhal Nehru mengungkapkan pemikiran ini di depan kongres dan menyebutnya Panc Svila. Apakah Soekarno meng-copy gagasan Nehru? Saya tidak pernah tahu. Beliau amat dekat dengan perdana menteri India tersebut, bisa jadi mereka saling terinspirasi.

Cuma, saya juga pernah baca bahwa sebenarnya istilah “Pancasila” justru berasal dari buku Sutasoma karangan Mpu Tantular. Kata yang dipublikasi pada abad ke-14 ketika nusantara berada dalam kekuasaan kerajaan Majapahit itu merupakan perintah penguasa kepada rakyat. Perintah itu meliputi larangan untuk mencuri, berbohong, mendengki, melakukan kekerasan dan mabuk-mabukan.

Mengapa kelima hal itu penting hingga dijadikan perintah oleh negara? Sebab mereka dianggap sebagai perusak kesusilaan dan moral bangsa. Dan rusaknya moral bangsa efeknya jauh lebih buruk daripada penjajahan fisik.

Inilah barangkali yang terjadi pada medsos. Kita mungkin tak mencuri, berbohong dan mabuk-mabukkan, tapi kita mendengki dan melakukan kekerasan verbal di sana. Kita menghina siapapun yang bisa kita hina. Kita menertawakan siapapun yang bisa ditertawakan. Kita nyinyir pada siapapun yang sedia mendengarkan.

Saya mungkin tak lagi hafal sila-sila dalam Pancasila, tapi saya masih punya harapan bahwa Pancasila akan terus menjadi sesuatu dalam hidup kita, dan anak-anak saya di masa depan. Pancasila akan terus menjadi dasar dan falsafah negara, pandangan hidup, dan jiwa bangsa.

Jadi, meski miris mendengar tuduhan “mualaf Pancasila” yang sedang happening di medsos, saya tetap berharap kita tak sebodoh itu, bertengkar tentang hal yang tak esensial. Hanya karena ingin tampil beda, kita jadi sok pintar menuduh Pancasila tak pantas jadi dasar negara, padahal ia sudah teruji puluhan tahun.

Utopia

I think John Lennon gave us nothing but utopia…

astridsv's blog

Begitu potongan komentar seorang kawan beberapa waktu lalu pada postingan Beyond Border.

Utopia. Benar, mendengar kata ini mungkin kamu akan langsung teringat tulisan Sir Thomas More yang terbit tahun 1516. Buku tersebut mendeskripsikan kehidupan masyarakat sempurna di negeri khayalan.

Tapi saya malah teringat pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD. Buat saya, kalimat ”Ini Budi. Itu ibu Budi” bukan sekedar pelajaran mengeja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah doktrin tentang kehidupan ideal yang terus ditanamkan ke otak.

Budi, Wati, Iwan — kakak adik yang tinggal di kota dengan kedua orang tuanya. Setiap pagi sehabis sarapan, mereka berangkat ke sekolah sementara bapak pergi bekerja dan ibu pergi ke pasar.

Di sore hari, bapak santai membaca koran sementara duduk ibu menjahit di samping bapak. Wati dan Budi belajar sementara Iwan bermain bola. Ketika liburan tiba, mereka pergi ke desa mengunjungi kakek nenek serta paman bibinya. Bermain di sawah yang menguning, menggembala ternak, memberi makan unggas kemudian bermain di kali lalu menikmati pemandangan alam.

Begitu idealnya gambaran kehidupan Budi dan keluarganya, sehingga saya sempat heran kenapa nenek kakek serta paman bibi saya tidak tinggal di desa. Tak ada keluarga saya yang punya pertanian subur apalagi peternakan makmur. Mereka semua tinggal di kota. Kalau libur, saya dan mereka malah pergi ke Ancol (waktu itu Dufan belum ada) atau kebun raya, pernah juga ke Monas.

Oh, tentu saja saya masih terlalu kecil untuk mengerti apapun tentang kehidupan yang sempurna. Saya cuma merasa hidup saya kok nggak sekeren hidupnya si Budi itu.

Begitulah. Utopia dijabarkan lewat mata pelajaran, dongeng sebelum tidur, novel fiksi, film, bait lagu, atau apa saja. Namun pertanyaannya, kalau tahu tempat ideal itu nggak pernah ada, lalu kenapa kita menciptakannya dalam khayalan?

Entahlah. Barangkali supaya saat seseorang yang bangun subuh buat mengantri sembako, melepas sawah untuk biaya menjadi TKW, menggadaikan motor untuk biaya rumah sakit, atau menjual diri untuk melunasi uang sekolah ~ mereka tetap punya sesuatu; harapan untuk hidup!

Saat situasi menjadi begitu sulit, mengkhayalkan sebuah negeri yang ideal dengan kehidupan yang sempurna bisa jadi sebagai cara untuk bertahan – agar manusia tetap waras dan gak bunuh diri.

Ironisnya, di tengah korupsi, pertikaian antar kepentingan dan segala macam permasalahan bangsa — bait lagu koes plus tentang bukan lautan hanya kolam susu, dimana hanya dengan menancapkan tongkat kayu, maka tumbuhlah ia menjadi pohon berbuah subur, terasa seperti satir.

————-

Utopia/yoo’towpieeu/n; 1 an imaginary place considered to be perfect or ideal. 2 ideally perfect state; especially in its social and political and moral aspects. [Oxford Learner’s Pocket Dictionary]

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: