Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Month: July 2017

Xenophobia dan Inferior Complex

Medsos saya diblokir seorang kawan yang gak menyukai saya lagi. Menurutnya saya sok kebarat-baratan. Sebetulnya saya gak pasti juga bagian mana dari pikiran saya yang ia tuduh begitu, tapi malas bertanya karena sudah sebal duluan. Cuma kemudian saya penasaran, apa sih kebarat-baratan itu?

Sebab saya gak berbikini saat liburan di pantai, meski bukan dengan alasan moralitas tetapi lebih soal minder sama bentuk tubuh sendiri. Saat makan kentang goreng, saya selalu mencocolnya ke sambal botol. Kalau saya memang keamrik-amrikan, maka saya  akan menggunakan saus tomat, atau dengan mayonise kalau saya ke-eropa-eropaan.

Continue reading

Masih Penting, Ya?

Dua kawan membaca brosur seukuran folio sambil cekikian, mirip saat saya cekikikan krn membaca komik Benny & Mice – Lost in Bali. Karena penasaran, saya bertanya. Ternyata mereka menertawakan sebuah testimoni.

“Waktu kuliah saya melakukan hal terlalu jauh dgn pacar saya. Kemudian kami putus. Sekarang saya bingung sekali karena tak mau calon suami saya kecewa dengan kondisi saya yang sudah tidak perawan lagi. Bisakah ibu membantu saya agar kembali perawan?”

Continue reading

Bule Minded

Pada tahun-tahun awal mengajar BIPA, saya pernah kepingin berpacar bule. Sekarang, setelah sepuluh tahun lewat, tak pernah sekalipun saya kencan dengan orang asing. Persoalannya cuma satu. Tak ada bule yang mau menjadikan saya pacar. ‘Terlalu outspoken’ katanya. ‘Kurang Indonesia’ kata yang lain. ‘Kulit lo nggak eksotis sih!’ ejek seorang kawan.

Barangkali label-label itu gak benar, tapi tetap membikin saya terpengaruh. Lantas saya mencoba mengingat-ingat kenapa saya (pernah) berniat pacaran dengan pria asing.

Continue reading

En Route

Saya enggak mudik, sebab memang tak punya kampung halaman.

Sejak kecil saya terbiasa nomaden, hidup berpindah-pindah, mengikuti ayah yang berdinas di beberapa pulau berbeda. Sebenarnya saya punya keluarga besar di Bandung dan Jakarta, mereka sering ngumpul di salah satu kota itu setiap tahun. Hanya saja saya lebih sering absen, sebab keluarga inti saya, ibu dan adik-adik, ada di Jogja. Keluarga mertuapun tinggal 60 kilometer saja dari rumah, jadi tak bisa benar-benar disebut mudik.

Makanya dari dulu saya menyukai program TV yang rutin melaporkan arus mudik dan arus balik. Saya mencoba merasakan atmosfirnya, mencoba berempati pada mereka yang bela-belain pulang kampung naik motor berempat atau lebih. Sebab saya tak pernah mengalaminya.

Terus terang, saya termasuk yang rewel dalam hal bepergian jauh. Kendaraan adalah yang selalu membikin saya menjadi cerewet. Berkali-kali saya ke Jakarta, baik untuk urusan kerja maupun mengunjungi sanak keluarga, dan saya selalu menghadapi dilema.

Naik pesawat? Saya punya  persoalan dengan movement sickness. Iya, ini kata keren untuk bilang mabok udara. Memalukan memang. Makanya, jika tak harus buru-buru, saya malas naik pesawat. Nyetir mobil? Capek dan stress. Naik bis malam? Saya susah tidur karena skeptis sama supir bis yang barangkali menegak nipam berulang-ulang selama perjalanan.

Maka kereta api pagi menjadi yang paling nyaman buat saya, sebab bisa tidur siang, dan ini sama artinya dengan memiliki ekstra jatah tidur. Risiko terberat adalah kebagian gerbong dengan AC tak dingin atau duduk bersebelahan dgn tukang tanya-tanya.

Meski begitu saya kekeuh untuk tidak jajan selama di perjalanan. Saya paranoid karena pernah apes membeli bakpia apek dan wajik Nyonya Week kadaluarsa di stasiun Tugu. Juga sakit perut setelah memesan makanan di Argo Lawu. Sejak itu, saya hanya percaya pada air mineral bersegel yang saya beli di mini market.

Berbeda dengan seorang kawan yang merasa nasi goreng restorasi ArgoLawu itu super enak, saya bahkan ogah menyentuh teh manis atau kopi hangat yang ditawarkan pramugari kereta. Saya telanjur prejudis, berpikir bahwa minuman-minuman manis itu hanya campuran dari sisa-sisa gelas orang lain. Manis perlu dicurigai, seperti senyum pria hidung belang, ia bisa menyamarkan. Apalagi di perjalanan.

Apapun, transportasi bisa jadi persoalan bagi setiap orang. Ia adalah sesuatu yg memungkinkan kita berpindah dari satu ke lain tempat. Transportasi tercipta akibat kebutuhan (dan kemampuan) manusia untuk bergerak. Dalam makna luas, transportasi adalah prilaku manusia dalam bergerak. Maka bisa dipahami bahwa setiap perjalanan punya cirinya sendiri yg membikin kita layak waspada. Perjalanan mirip sebuah keadaan non permanen, tak ada kesetiaan dan tanggung jawab di sana.

Dan itu membuat saya salut pada teman-teman yang setia pada kebiasaan mudik di hari raya. Meski harus berpayah-payah, mereka tetap mampu menikmatinya. Barangkali ini bukan masalah perjalanan, ini masalah bertemu dengan orang-orang tercinta di akhir perjalanan itu sendiri.

Petasan

Satu hal yang saya gak suka dari bulan puasa adalah suara petasan. Entah di tempat lain, tapi di sekitar rumah saya suara petasan masih menjadi hal yang wajib ditoleransi. Sayangnya saya kurang bisa mentoleransi bunyi -bunyian keras. Telinga saya peka dan saya gampang kaget.

Beruntung saya gak lemah jantung, tapi saya suka kasihan sama bayi-bayi yang menangis atau ayam-ayam yang susah bertelur karena gelisah mendengar dentuman mercon-mercon itu. Saya kepingin mengutarakan kekesalan saya kepada anak-anak (bahkan orang dewasa) yang main petasan setelah sholat Tarawih dan menjelang subuh itu. Tapi saya yakin mereka cuma akan bilang; “Ya itu sih masalah lo, kita asyik-asyik aja kok!’.

Begitulah, asyik adalah alasan kuat untuk memainkan sejumput bahan peledak. Mungkin bermain petasan memang asyik buat orang lain. Saya tidak, sebab waktu kecil saya tidak pernah main petasan. Saya cuma menyalakan kembang api, dan senang melihat percikannya jatuh ke tanah saat digantung di ranting pohon. Sayangnya kembang api sekarang beda dengan di masa saya kecil, sumbunya lebih pendek dan lebih tipis sehingga percikannya kurang heboh dan menyala hanya sebentar.

Kembang api memang musti beli, beda dengan petasan yang bisa dibikin sendiri. Menikmati kembang api juga cuma bisa di malam hari dan jelas gak ada bunyi dar-der-dor. Kembang api juga terlalu aman, gak bisa melukai badan dengan ledakannya, seperti petasan yang bisa membikin gosong seluruh badan, membakar rumah atau minimal membuat jari buntung.

Saya yakin sebetulnya Pemda Jogja sudah resmi melarang peredaran petasan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan cuma sedikit yang mematuhi. Kalaupun dipatuhi, hal itu tak membuat kehebohan main bahan peledak berkurang. Saya ingat ketika petasan belum sepopuler sekarang, anak-anak (dan orang dewasa) dengan kreatif membikin long bumbung. Benda ini dentumannya bisa bikin bangun orang mati saking kagetnya.

Apapun bentuknya, buat saya suara petasan mengesalkan. Cuma saya kira buat sebagian orang lain, tanpa gelegar mercon disana sini barangkali puasa terasa begitu sepi.

Catatan:
Long bumbung; sejenis mercon yang bisa dibuat sendiri dari bambu yang ujungnya diberi sumbu sementara ujung lainnya diisi karbit. Dengan namanya yang berbeda-beda saya kira tiap daerah punya mercon macam begini.

Beard Talk

Bulan puasa kemarin, ketika sedang menulisi slip setoran di sebuah bank, saya menoleh pada orang di sebelah yang juga sedang melakukan hal sama. Ternyata dia Duta Sheila On7.

Mestinya saya histeris atau minimal minta foto dan tanda tangan, tapi saya terlalu tertarik dengan jenggotnya sebab seingat saya ia klimis. Lantas saya bertanya, “Kok mas Duta sekarang berkumis dan jenggotan?” Ia menjawab sambil tersenyum, ”Iya, biar tuaan dikit.” – dan ia pun dengan sopan berlalu meninggalkan saya yang sibuk bingung.

Continue reading

Bus Story

Ini kisah beberapa tahun lalu ketika saya berada di dalam sebuah bis wisata bertingkat. Di sebelah saya adalah seorang turis asing, yang dari logat Inggris-nya saya bisa menebak bahwa ia berasal dari Australia.

Setelah bisa berjalan beberapa saat, bule Australia itu mencoba memulai percakapan dengan ramah. Awalnya tak ada masalah dengan obrolan kami hingga tiba-tiba ia bertanya, “Kamu orang Melayu?” katanya dalam bahasa Inggris.

Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: