8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya:

Beres-beres. Orang kayak saya mengidentifikasi kreatif sebagai berantakan. Ketika bekerja kreatif, meja saya seperti kapal pecah. Jadi, saya suka banget meluangkan waktu untuk merapikan meja, mengarsip catatan atau membersihkan komputer sampai kinclong sehingga siap buat digunakan untuk naskah berikutnya.

Membaca. Menunggu adalah waktu sempurna untuk membaca. Saya suka membaca buku dari genre berbeda, tapi juga suka memilih buku yang sesuai pasar buku saya. Kalau pergi ke toko buku, saya suka ‘main’ ke rak-rak yang jarang dikunjungi, mencari buku dari penulis-penulis yang belum saya dengar namanya. Hal ini nggak hanya membuat saya bertualang ke dalam lautan ide, tapi juga mengisi ulang kreatifitas, membuka lebih banyak sudut pandang, dan mengembangkan style menulis.

Nonton. Saya suka nonton pameran seni di Bentara Budaya Jogja. Kamu mungkin suka nonton film terbaru di bioskop atau Netflix, nonton teater, sendra tari, drama Korea atau apapun yang paling kamu sukai. Semua yang kamu tonton bisa jadi sumber ide buat naskah kamu berikutnya. Selain itu, pikiran teralih dan nggak sebentar-sebentar cek inbox, melihat apa ada email dari penerbit (percaya deh, editor mungkin belum baca naskahmu sama sekali).

Luangkan sedikit waktu untuk medsos. Saya memberi penekanan pada ‘sedikit’ hanya karena hal tersebut bisa jadi lubang hitam penundaan dan kekecewaan bila kamu tidak hati-hati. Usahakan timeline ter-update, tapi tak perlu juga posting perasaan frustasi di internet karena penerbit belum juga kasih kabar.

Update juga blog atau websitemu. Pastikan rumah maya kamu terlihat se-elegan dan se-up-to-date mungkin. Rapikan halaman ABOUT, dan pastikan kamu menuliskan hal-hal tentang dirimu yang dapat menarik perhatian penerbit atau editor (yang bisa saja tiba-tiba mampir membacanya)

Mulai blog. Jika kamu belum punya, sekarang saat yang tepat untuk menjadi penulis blog. Sebab blog sangat membantumu mengembangkan kemampuan menulis.  Percaya deh, kamu juga akan merasa lebih berguna karena setiap hari (atau setiap minggu) bisa membagi gagasanmu pada orang lain. Berbeda dengan naskah, blog bisa memberikan pembaca kedekatan pada penulis. Pembaca bisa tahu proses menulismu, kesukaanmu atau passion-mu. Bonusnya, menambahkan konten segar pada websitemu secara rutin membuat Google jatuh cinta sama kamu sehingga bersedia menampilkan blogmu di halaman depan.

Rancang jawaban. Katakan saja momen itu tiba, saat penerbit tempatmu mengirim naskah menelpon atau mengirim email, lantas berkata “kami suka naskahmu.” Biasanya setelah itu mereka akan menanyakan beberapa pertanyaan misalnya:

  • Kenapa ingin kami yang menerbitkan naskahmu?
  • Bagaimana proses penulisannya?
  • Bersediakah jika harus membuat beberapa perubahan pada naskah?
  • Bagaimana kamu melihat bukumu dari kacamata pembaca?
  • Maukah kamu membantu memasarkan bukumu?

Nah, pikirkan bagaimana kamu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jadi saat email datang, kamu tak berlama-lama membalasnya.

Ngobrol dengan penulis lain. Saya suka banget jika ada teman penulis yang menggarap naskah atau baru menerbitkan buku. Begitu banyak ilmu bermanfaat yang bisa didapat dari mereka. Sesama penulis, pasti nggak bosan membicarakan topik dan tren kepenulisan. Jejaring penulis ini sangat berharga, jadi coba deh masuk ke dalam suatu komunitas penulis.

Mulai buku berikutnya. Nah, setelah beberapa saat menunda, waktunya mulai naskah baru. Naskah yang kamu kirim, mungkin akan berada di meja editor selama beberapa bulan. Sambil menunggu nasib naskah tersebut, mulai tulis naskah lain yang lebih bersinar dan penuh gagasan baru. Nggak kerasa, tau-tau penerbit sudah menelpon  kamu untuk memberi kabar baik.

Life isn’t about waiting for the storm to pass. It’s about learning to dance in the rain. So, happy waiting, happy writing! 🙂

Facebook Comments

Leave a Reply