Atribut

Saya langsung puyeng waktu baca headline portal berita tentang fatwa atribut non muslim. Seingat saya isu ini sudah basi, sebab setiap menjelang Natal selalu muncul. Mirip dengan isu halal haram mengucapkan selamat Natal atau merayakan pesta tahun baru. Menarik bahwa kita gak bakal mau mengonsumsi makanan basi, tapi tidak demikian isu basi. Padahal isu-isu semacam itu adalah makanan otak. Pendeknya mengonsumsi isu basi bakal membikin otak sakit.

Mungkin itu yang bikin kepala saya langsung sakit. Seharusnya saya enggak baca berita-berita semacam ini, sebab sedang liburan. Payahnya, saya enggak bisa menghindari broadcast menyebalkan dari beberapa grup whatsapp. Jadi, ya sudah. Saya membatasi diri membaca headline saja, bukan isi beritanya. Saya memilih untuk tidak tahu, dan tidak peduli. Sebab bosan dan gagal paham mengenai apa sebenarnya atribut non muslim yang diributkan?

Topi sinterklas? Bando bentuk tanduk rusa? Aksesoris bentuk pohon natal atau manusia salju?

Sinterklas adalah ikon yang dekat dengan Natal, tapi bukan bagian dari agama. Ia adalah tokoh rekaan yang diciptakan berdasarkan kisah nyata santa bernama Nikolas yang suka bagi-bagi hadiah, tapi sinterklas sendiri bukan santa. Tak ada satu pun umat Kristiani, baik Protestan maupun Katolik, yang mengimaninya.  Apapun yang dikenakan sinterklas, hanya kostum lucu-lucuan, bukan atribut keagamaan.

Begitu pun dengan bando rusa, pernak-pernik pohon natal, manusia salju dan kue jahe yang tak lain adalah bentuk kapitalisme Barat yang diciptakan untuk memeriahkan hari tersebut. Mirip dengan ketupat, sarung, peci dan busana muslim yang gencar dipromosikan menjelang lebaran. Tujuannya satu, dagangannya laku!

Gagal paham membuat saya overthinking. Dan bertanya-tanya. Sebetulnya apa sih atribut yang harus dikenakan atau dimiliki seorang muslim?

Sorban?

Ribuan tahun lalu, sorban/surban/turban dikenakan oleh para pria negara-negara India, Timur Tengah, Afghanistan, Afrika Utara, bahkan Jamaika. Selain sebagai aksesoris kepala serta penanda kelas sosial dan suku bangsa, fungsi praktis surban adalah untuk menghindari pasir gurun agar tidak mengenai wajah para pria tersebut. Tapi surban bukan atribut yang identik dengan Islam, sebab orang-orang India penganut Hindu dan Sikh pun mengenakannya. Surban juga menjadi atribut tradisional pengikut agama Abrahamik, kaum Beta Israel (komunitas Yahudi berkulit hitam), dan kaum Sabean di Irak Selatan (pengikut ajaran Yohannes Pembaptis). FYI, mereka masih mengenakannya hingga hari ini.

Jubah?

Saya tahu jubah memang dikenakan pria-pria bangsa Arab. Tapi saya pun tahu bahwa komunitas Rasta terpopuler, Bobo Shanti, juga memakainya. Jubah dan sorban bahkan wajib dipakai para pria penganut sekte yang meyakini bahwa pemimpin mereka merupakan reinkarnasi Kristus dan perwujudan YHWH (Tuhan dalam bahasa Ibrani). Pakaian panjang hingga semata kaki ini pun biasa dikenakan di dalam gereja, oleh pemuka tinggi agama hingga putra altar. Jadi, saya ragu menyebutnya sebagai atribut muslim. Saya lebih percaya bahwa jubah (dan sorban) merupakan bentuk kapitalisasi Islam. Pasalnya, para kapitalis tersebut memaksakan pakaian yang kearab-araban itu masuk ke industri fashion Indonesia. Dan kalau ada yang berkilah bahwa Nabi Muhammad mengenakan jubah, saya cuma bisa bilang bahwa Abu Jahal pun memakainya. Oleh karena itu, jubah tidak suci. Ia tak lebih sebagai penutup tubuh dan aurat.

Janggut?

Ah, benar. Para ulama mengatakan Nabi Muhammad berjanggut. Para pemimpin Islam dunia seperti Ayatollah Hajj Sayyid Ali Khamenei, Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud, dan Sheikh Mohammed bin Zayed al Nahyan juga. Di Afghanistan, pemertintah Taliban pun memaksa pria untuk berjanggut. Oleh karena itu laskar jihad abal-abal yang senang menyodorkan kotak sumbangan di perempatan atau berteriak keras pakai toa saat demonstrasi pun perlu berjanggut. Tapi sebentar… Yesus pun memelihara berjanggut, sehingga berabad-abad yang lalu para patriakh Ortodoks Rusia mewajibkan pria berjanggut sebagai tanda kesucian. Sebab yang bercukur hanyalah para Romawi kafir. Dan bicara soal janggut, Fidel Castro, Che Guevara, dan Trotsky yang jelas-jelas komunis juga berjanggut (meski saya nggak tahu apa itu karena ingin kelihatan keren atau malas bercukur).

Baju Koko?

Baju Koko merupakan adaptasi gaya berpakaian kaum Tionghoa di Betawi. Dulu sebutannya adalah baju Tui-Khim atau baju Tikim. Baju pria dengan kerah tegak berkancing lima di bagian depan serta menjuntai hingga setengah paha dulu umum dipakai oleh para “engkoh-engkoh.” Barangkali dari sebutan bagi lelaki paruh baya Tionghoa itu lah muncul kata Koko. Masyarakat Betawi kala itu menyukai model pakaian ini karena nyaman dan bisa dikenakan dalam acara formal. Pasca reformasi, popularitas baju koko naik daun, dan akhirnya menjadi style fashion pria muslim muda setelah dipopulerkan oleh Ustadz Jeffry Al Buchory, dan beberapa selebriti lain. Para kapitalis pun tak sedia menyia-nyiakan peluang ini. Jadilah baju koko sebagai baju muslim, meski tak merepresentasikan atau menjadi simbol muslimin.

Lalu apa dong atribut muslim itu?

Entahlah, saya sendiri penasaran. Sebab orang-orang yang yakin bahwa jihad utama adalah melawan angkara dalam diri sendiri umumnya tidak identik dengan atribut tadi. Dan seperti Cak Nun, saya sih yakin bahwa “Gusti Allah tidak ndeso.” Tuhan tak melihat keimanan penganut ajarannya lewat atribut.

—————————–

atribut/at·ri·but/ n 1 tanda kelengkapan (berupa baret, lencana, dan sebagainya):  2 ki lambang: 3 sifat yang menjadi ciri khas (suatu benda atau orang)

Facebook Comments

Leave a Reply