Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Author: Astrid Savitri (page 1 of 12)

Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?

Mengawali karier sebagai freelance writer sejak delapan tahun yang lalu, dan kemudian memulai bisnis penulisan, mengajari saya banyak hal. Ternyata benar bahwa kemampuan menulis cuma salah satu keahlian yang wajib dikuasai, jika ingin menjadi penulis freelance sukses.

Sama hal dengan jenis pekerjaan freelance lain, penulis freelance juga menjalankan bisnis sendiri. Dengan begitu, pekerjaan menulis bukan satu-satunya, sebab penulis freelance juga harus bisa mengatur banyak hal, mulai dariinvoice dan pembayaran, hingga marketing dan membangun jejaring.

Continue reading

Borobudur

Ah, saya sebal sekali mendengar sekelompok orang nggak beres bakal melakukan demonstrasi irrelevant di Candi Borobudur tanggal delapan September nanti. Walau yakin bahwa pemerintah tidak akan mendiamkan niat mencurigakan kelompok  tersebut, saya tetap kesal.

Sebab,saya suka Candi Borobudur. Benar bahwa saya sudah puluhan kali berkunjung ke sana. Di musim libur, monumen bersejarah itu  memang jadi tak menarik akibat lautan wisatawan menutupi kemegahan The World Herritage itu, namun buat saya ia tetap menawan, terutama sejarahnya.

Continue reading

Jatah

Sebetulnya saya jarang menyantap daging kambing atau sapi, sebab dilema. Bukan soal kolesterol atau diet, hanya saja saya selalu menderita sembelit akut bila makanan saya beurusan dengan daging. Padahal seperti kebanyakan orang, saya ya ngiler juga mencicipi tongseng, gule atau sate kambing. Kebetulan keluarga sayajuga bukan fans berat daging hewan berkaki empat. Mereka lebih suka ikan dan sesekali daging unggas. Ini kenapa ketika Idul Adha datang, sementara ibu-ibu rumah tangga biasanya heboh menyiapkan santapan berbahan daging, saya tak terlalu memusingkan hal itu.

Setiap Idul Adha, saya melihat begitu banyak orang yang mengantri – lengkap dengan kuponnya – buat mendapat daging sapi dan kambing gratisan. Kecuali si mbah yang suka membantu membersihkan rumput di halaman rumah saya.

Continue reading

Semangat Kemerdekaan

Bagaimana semangat kemerdekaan kamu?

Di masa perjuangan, semangat kemerdekaan diejawantahkan lewat kata ”Merdeka!” yang dipekikan sambil mengepalkan tangan ke atas sementara tangan lain menggenggam bambu runcing. Kata ”Merdeka” diucapkan sebagai salam sehari-hari, saat bertemu siapa saja. Di jalan, di pasar, di warung kopi, di kota, di desa, di hutan. Pokoknya di mana pun kita bisa bertemu manusia Indonesia lain.

Continue reading

Hari Kemerdekaan

Beberapa tahun lalu, seseorang berkebangsaan Australia tinggal di homestay yang saya kelola. Pada pagi di tanggal tujuh belas Agustus, ia dengan tulus mengucapkan selamat hari kemerdekaan pada saya. Entah kenapa ucapannya terasa aneh, namun saya tetap berterima kasih.

Continue reading

Misuh

Seorang kawan lama, ia diplomat Kanada yang sedang berlibur di Indonesia, mengunjungi saya di Jogja akhir pekan lalu. Dulu, ia belajar bahasa Indonesia dari saya, dan setelahnya kami berteman baik meski frekuensi bertemunya jarang.

Maka, Minggu malam kemarin kami seperti menumpahkan semua cerita setelah beberapa tahun tak berjumpa. Kami mengobrol banyak hal, mulai dari situasi politik dunia, pengalamannya tinggal di Jakarta, perjalanan tugasnya ke beberapa negara di Afrika, hingga topik-topik recehan.

Continue reading

Troli

Sebetulnya, ada yang lumayan mengganggu saya kalau pergi ke hipermarket. Areal koridor yang begitu luas seperti tak rela menganggur. Ia dipenuhi rak-rak barang yang membuat lebarnya berkurang sehingga tak beda dengan gang. Padahal troli belanja gak lagi berukuran medium, sebaliknya ia didesain dengan ukuran jumbo sehingga tak hanya bisa memuat belanjaan, tetapi anggota keluarga sekaligus. Dan troli-troli sebesar itu harus melewati gang-gang kelinci dalam bangunan hipermarket.

 

Continue reading

Xenophobia dan Inferior Complex

Medsos saya diblokir seorang kawan yang gak menyukai saya lagi. Menurutnya saya sok kebarat-baratan. Sebetulnya saya gak pasti juga bagian mana dari pikiran saya yang ia tuduh begitu, tapi malas bertanya karena sudah sebal duluan. Cuma kemudian saya penasaran, apa sih kebarat-baratan itu?

Sebab saya gak berbikini saat liburan di pantai, meski bukan dengan alasan moralitas tetapi lebih soal minder sama bentuk tubuh sendiri. Saat makan kentang goreng, saya selalu mencocolnya ke sambal botol. Kalau saya memang keamrik-amrikan, maka saya  akan menggunakan saus tomat, atau dengan mayonise kalau saya ke-eropa-eropaan.

Continue reading

Older posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: