Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Author: Astrid Savitri (page 11 of 12)

Pengalaman Pertama Menulis Buku Dongeng

Selalu ada yang pertama buat semua hal. Pertengahan 25-dongeng-nusantara-dan-dunia-tepopuler-sepanjang-masabulan Mei lalu, saya ditantang penerbit buat menulis buku dongeng. Wah, seneng banget karena memang sudah lama pingin bisa menulis kisah-kisah menarik buat anak-anak. Pingin membukukan dongeng-dongeng yang sering saya ceritakan ke anak-anak saya, tepatnya.

Sayangnya, saya salah menangkap maksud penerbit. Mereka maunya saya re-write kumpulan dongeng nusantara, bukan menulis dongeng baru. Re-write di sini artinya mem-parafrase dongeng-dongeng populer dengan bahasa versi saya, tapi kisahnya tetap ikut pakem. Kecewa? Ya, sedikit. Tapi karena sudah kadung senang, ya tetap saja saya jalan. Pikir saya, “Ah, lebih mudah, nih! Kan tinggal kumpulkan materinya, sumbernya banyak, lantas ditulis ulang dengan kalimat sendiri.”

Kalau dilihat dari proses itu, ya sih lebih mudah. Makanya proses penulisan buku dongeng bisa saya selesaikan dalam dua minggu. Tapi ternyata justru di sini tantangannya.

Continue reading

Gimana Sih Cara Nulis Buku?

Menulis itu mudah. Yang harus kamu lakukan adalah mencoret kata-kata yang salah –Mark Twain

Pertanyaan itu hampir selalu ditanyakan ke saya oleh mereka yang tahu saya penulis, atau ingin bisa menulis (seperti saya, haha…). Barangkali, seperti beberapa teman penulis, saya akan menjawab malas dengan “Menulis itu mudah kok!” dan jawaban ini mirip template default sebab kenyataannya menulis itu tidak mudah.

Bagian tersulit bagi kebanyakan penulis bukanlah menerbitkan bukunya, apalagi sekarang ini ada lebih banyak peluang untuk menjadi penulis daripada sebelumnya. Saya bisa bilang, menerbitkan buku bukan bagian yang harus saya lakukan dengan kerja keras, melainkan penulisan itu sendiri.

Continue reading

8 + 1 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Nulis Cerpen

  1. Latihan. Cerpen merupakan cara yang tepat untuk melatihmu mengembangkan sebuah cerita, lengkap dengan bagian awal, pertengahan dan akhir – dengan lebih mudah daripada sebuah nove.
  2. Dumay. Pembaca sekarang itu, selain layar ponselnya kecil, rentang perhatiannya juga lebih singkat. Jurnal sastra, jurnal online, dan majalah yang memuat cerpen seringkali dibaca secara online. Oleh karena itu, kamu bisa mencapai target pasar yang berlainan melalui cerpen-cerpenmu
  3. Terhubung. Cerpen dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk menulis di internet. Kamu bisa mengembangkan e-book antologi atau cerita serial. Kamu juga bisa melakukannya dengan memulai blog dan memosting berkala.
  4. Awal yang Baik. Banyak penulis hebat memulai karier kepenulisannya dengan menulis cerpen. Stephen King, Ernest Hemingway, and Mark Twain menjadi novelis terkenal sepanjang masa, dan mereka menyempurnakan karyanya dengan menulis cepren.
  5. Eksperimen. Cerpen merupakan cara yang baik untuk mencoba beberapa genre berbeda tanpa harus menghabiskan ribuan kata, yang harus direvisi, ditulis ulang dan dicetak di atas kertas. Kamu juga mungkin menemukan bahwa kamu lebih cocok menulis genre tertentu, yang amat berbeda dengan yang selama ini kamu sering tulis.
  6. Reputasi. Cerpen juga cara yang baik untuk membantumu membangun reputasi sebab bisa menunjukkan pada penerbit bahwa kamu adalah penulis yang berkarya. Majalah-majalah yang memuat cerpen seringkali dibaca oleh para reviewer, penerbit dan editor.
  7. Kompetisi. Mengikuti lomba menulis cerpen dapat menjadi lompatan karir. Memenangkan kompetisi bergengsi, atau jika ceritamu dilibatkan dalam buku antologi, dapat menjadi resume yang bagus bagi karier dan juga penghargaan yang luar biasa bagi dirimu sendiri. Selain feedback, kamu bahkan mungkin memenangkan hadiah berupa uang dari beberapa lomba. Hal ini jarang terjadi dalam penulisan novel.
  8. Konsentrasi. Cerpen memaksamu menuliskan kisah secara to the point. Tidak adanya sub-plot, dan juga jumlah karakter yang terbatas, membuatmu lebih mudah berkonsentrasi pada plot utama. Ini bagus bagi penulis yang harus sering kesulitan mengisi kisah latar belakang pada novel-novelnya

    +1 Cinta. Menulis cerpen karena kamu cinta banget menulis.

    Ingin belajar menulis cerpen? Kontak saya di savitriastrid@gmail.com atau gabung di Facebook fanpage Penulis Menulis

Kok Kamu Ingin Jadi Penulis?

Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan pada saya. Buat orang-orang yang sudah mengenal saya sejak lama, pertanyaannya malah lebih spesifik, “Kok bisa sih kamu jadi penulis?” Pertanyaan mereka bukan tanpa dasar. Latar belakang pendidikan sarjana saya jauh dari dunia tulis menulis. Saya kuliah di jurusan arsitektur. Iya, arsitektur! Seharusnya saat ini saya berprofesi sebagai arsitek, perancang bangunan dan gedung, bukan penulis buku.

Saya kira kita semua setuju bahwa jalan hidup memang unik, dan sulit ditebak. Belajar arsitektur selama enam tahun, lulus dengan nilai baik dan sempat bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen di almamater saya. Sebelum lulus kuliah, saya juga bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing – atau bahasa kerennya ekspatriat. Dan pekerjaan inilah yang kemudian saya tekuni lebih serius setelah menerima gelar sarjana teknik. Aneh, kan? Susah-susah belajar arsitektur, malah memilih jadi pengajar bahasa.

Continue reading

Pernikahan Hijau

10.10.10

Tanggal bagus katanya, makanya banyak pernikahan diadakan pada tanggal itu, termasuk oleh seorang kenalan. Berbeda dengan pernikahan artis Indra Bekti yang bertema 1001 malam, kenalan saya itu malah menanam pohon. Kalau tak mahal, barangkali ia akan menanam 101010 pohon, tapi karena kemampuan ekonomi yang terbatas, ia hanya menanam dua bibit pohon. Barangkali ia ingin membuat acara pernikahannya unik, meski tetap tidak masuk Indonesia Book of Records seperti Indra Bekti. Dan saya ingat dia – dulu sekali – memang pernah bernazar buat menanam pohon bila ia menikah kelak.

Continue reading

Door Duisternis Tot Licht

Sudah pernah baca buku “Door Duisternis Tot Licht”?

Saya belum. Soalnya saya gak bisa bahasa Belanda. Kalaupun bisa, saya gak yakin kepingin membacanya sebab ada sentimen pribadi dengan motivasi penyusun buku itu, Mr. Abendenon. Dialah orang yang bersusah payah mengumpulkan surat-surat Kartini dan menyusunnya menjadi buku lantas diberi judul Door Duisternis Tot Licht.

Doorduisternistotlicht

Ironisnya dia jugalah yang menghalang-halangi niat Kartini untuk bersekolah di negeri Belanda, padahal sudah ada sponsor dan beasiswa untuknya dan kedua adik perempuannya. Seperti semua tahu, Kartini batal berangkat, lantas digiring kawin dengan lelaki yang sudah punya sekian istri.

”Door Duisternis Tot Licht” terbit tahun 1911 dan langsung menyedot perhatian berbagai kalangan hingga para bangsawan Belanda, termasuk ratu Wilhelmina, menyumbangkan ratusan gulden kepada yayasan Kartini untuk memperbaiki kondisi pendidikan perempuan di Jawa. Sebagai catatan; Yayasan Kartini dikelola oleh anak lelaki Abendenon sendiri, dan gak pernah ada catatan sejarah tentang perbaikan pendidikan yang didanai oleh yayasan ini.

Saya kenal Kartini sebagai legenda – sama legendanya dengan Ratu Pantai Selatan dan Rara Jongrang. Buat saya, Kartini cuma wajah dalam poster, yang ultahnya selalu dirayakan dengan kontes berkebaya di sekolah dan komoditas mall. Padahal kebaya cuma identitas kultural yang gak ada hubungannya sama sekali dengan perjuangannya.

Cuma sepuluh tahun terakhir saya gak lagi melihat Kartini sebagai sosok yang melulu sedih sepanjang hidupnya (seperti yang diperankan Yenny Rachman dalam filmnya) atau dari sisi domestik bahwa ia perempuan pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan dan mati.

Pandangan saya — bahwa Kartini adalah pahlawan bangsa, pendekar kaumnya, pelopor dan perintis emansipasi dan berkat Kartini, perempuan sekarang bisa sampai di sekolah tinggi dan sejajar kedudukannya dengan lelaki — juga berubah. Sebab ternyata itu semua cuma sebagian kecil dari perjuangan Kartini yang sebenarnya yaitu; melawan feodalisme dan mengangkat derajat rakyat kecil.

Memang, saya lebih mengenal Kartini dari buku ”Panggil Aku Kartini Saja”karya Pramoedya Ananta Toer, bukan dari ”Door Duisternis Tot Licht” maupun ”Habis Gelap Terbitlah Terang.” – Dan saya lebih percaya analisa Pramoedya ketimbang si Belanda itu, sebab Pramoedya membuat riset sedangkan Abendenon hanya memilih (tanpa pertimbangan siapapun) surat-surat Kartini yang dirasanya layak dan menguntungkan politik etis Belanda saat itu. Cuma dia dan Tuhan yang tahu apa isi surat-surat lain dari Kartini yang tidak dipilihnya (atau di mana surat-surat lainnya itu)

Dan tentang ”Habis Gelap Terbitlah Terang” itu, setahu saya diterjemahkan Armijn Pane ke dalam bahasa Melayu – bahasa yang saya juga gak ngerti. Entah kalau sekarang sudah ada edisi bahasa Indonesia modern, soalnya sudah lama saya gak sempat ke toko buku.

The Truth About Cicak and Buaya

Setiap kali membaca koran, kata cicak dan buaya terasa agak mendominasi – sebab mereka sudah menjadi istilah umum buat menggambarkan perseteruan antara KPK dan Polri. Tentu saja eufisime begitu terasa sangat cocok sebab dalam dunia nyata – meski keduanya dimasukkan ke dalam keluarga reptil – cicak tembok ogah bertarung melawan seekor buaya. Sebaliknya mereka menyadari peranan masing-masing dan patuh pada hukum alam.

Saya sih tidak takut cicak, gak seperti kawan saya yang suka histeris melihat reptil mini gemuk berkepala membulat dan kulit transparan itu. Bisa dibilang, kita di sini hidup harmonis dengan cicak, mereka kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan, atau sedang tenggelam dalam gelas kopi. Continue reading

Toilet Story

Saya kagum sama toilet, ruang terpenting dari semua bangunan di dunia.

Size doesn’t matter,  yg penting fungsinya. Fitrahnya, memang toilet cuma buat BAK atau BAB, tapi semua juga tahu kalau kenyataannya lebih dari itu.

Banyak seniman mendapat ilham lalu menghasilkan karya-karya besar saat duduk di toilet. Seorang teman pecinta buku (utk gak menyebutnya kutu buku) gak bisa menyelesaikan panggilan alam tanpa membaca di toilet. Teman lain yg meskipun sudah kebelet, tetap ogah masuk toilet tanpa iPod-nya, atau rekan kerja yg katanya susah plong tanpa nge-game dgn N series terbarunya.

Toilet adalah tempat yg paling pas buat mengekspresikan diri sebebas-bebasnya tanpa ada yg menghakimi. Seseorang gak mungkin jaim saat mengejan, bukan? Dan siapa saja bebas ngelamun, nangis, merokok (apalagi pas puasa gini), ngumpet, dandan, ngisi TTS, cari tisu gratisan, menulis kata-kata jorok, menggambar alat kelamin, atau mengungkapan cinta di tembok toilet, atau bahkan meninggalkan nomor hp dgn penuh harapan.

Toilet juga tempat yg sangat aman utk sms atau menelpon selingkuhan, masturbasi atau bahkan sekalian quicky kalau beruntung.  Pokoknya buat saya, toilet itu banyak banget manfaatnya.

Nah, yg terbaru yg saya tahu (mgkn juga sebenarnya sdh lama, tapi saya baru tahu) – toilet juga dipakai sebagai sarana promosi. Di bandara, ipar saya mengambil selebaran yg diletakan di atas urinoir. Isinya promosi terapi dan obat utk masalah disfungsi ereksi.

Saya jadi penasaran kenapa brosur seukuran ¼ folio itu enggak ada di toilet wanita? Buat saya, penis loyo juga bagian dari permasalahan perempuan. Saya jadi iseng pingin coba mengontak nomor bebas pulsa yg tercantum utk menanyakannya, tapi gak jadi sebab saya takut jawabannya akan begini:

Hai, Sisy di sini. Apakah Anda kesepian…?”

Older posts Newer posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: