Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Author: Astrid Savitri (page 11 of 12)

Pernikahan Hijau

10.10.10

Tanggal bagus katanya, makanya banyak pernikahan diadakan pada tanggal itu, termasuk oleh seorang kenalan. Berbeda dengan pernikahan artis Indra Bekti yang bertema 1001 malam, kenalan saya itu malah menanam pohon. Kalau tak mahal, barangkali ia akan menanam 101010 pohon, tapi karena kemampuan ekonomi yang terbatas, ia hanya menanam dua bibit pohon. Barangkali ia ingin membuat acara pernikahannya unik, meski tetap tidak masuk Indonesia Book of Records seperti Indra Bekti. Dan saya ingat dia – dulu sekali – memang pernah bernazar buat menanam pohon bila ia menikah kelak.

Continue reading

Door Duisternis Tot Licht

Sudah pernah baca buku “Door Duisternis Tot Licht”?

Saya belum. Soalnya saya gak bisa bahasa Belanda. Kalaupun bisa, saya gak yakin kepingin membacanya sebab ada sentimen pribadi dengan motivasi penyusun buku itu, Mr. Abendenon. Dialah orang yang bersusah payah mengumpulkan surat-surat Kartini dan menyusunnya menjadi buku lantas diberi judul Door Duisternis Tot Licht.

Doorduisternistotlicht

Ironisnya dia jugalah yang menghalang-halangi niat Kartini untuk bersekolah di negeri Belanda, padahal sudah ada sponsor dan beasiswa untuknya dan kedua adik perempuannya. Seperti semua tahu, Kartini batal berangkat, lantas digiring kawin dengan lelaki yang sudah punya sekian istri.

”Door Duisternis Tot Licht” terbit tahun 1911 dan langsung menyedot perhatian berbagai kalangan hingga para bangsawan Belanda, termasuk ratu Wilhelmina, menyumbangkan ratusan gulden kepada yayasan Kartini untuk memperbaiki kondisi pendidikan perempuan di Jawa. Sebagai catatan; Yayasan Kartini dikelola oleh anak lelaki Abendenon sendiri, dan gak pernah ada catatan sejarah tentang perbaikan pendidikan yang didanai oleh yayasan ini.

Saya kenal Kartini sebagai legenda – sama legendanya dengan Ratu Pantai Selatan dan Rara Jongrang. Buat saya, Kartini cuma wajah dalam poster, yang ultahnya selalu dirayakan dengan kontes berkebaya di sekolah dan komoditas mall. Padahal kebaya cuma identitas kultural yang gak ada hubungannya sama sekali dengan perjuangannya.

Cuma sepuluh tahun terakhir saya gak lagi melihat Kartini sebagai sosok yang melulu sedih sepanjang hidupnya (seperti yang diperankan Yenny Rachman dalam filmnya) atau dari sisi domestik bahwa ia perempuan pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan dan mati.

Pandangan saya — bahwa Kartini adalah pahlawan bangsa, pendekar kaumnya, pelopor dan perintis emansipasi dan berkat Kartini, perempuan sekarang bisa sampai di sekolah tinggi dan sejajar kedudukannya dengan lelaki — juga berubah. Sebab ternyata itu semua cuma sebagian kecil dari perjuangan Kartini yang sebenarnya yaitu; melawan feodalisme dan mengangkat derajat rakyat kecil.

Memang, saya lebih mengenal Kartini dari buku ”Panggil Aku Kartini Saja”karya Pramoedya Ananta Toer, bukan dari ”Door Duisternis Tot Licht” maupun ”Habis Gelap Terbitlah Terang.” – Dan saya lebih percaya analisa Pramoedya ketimbang si Belanda itu, sebab Pramoedya membuat riset sedangkan Abendenon hanya memilih (tanpa pertimbangan siapapun) surat-surat Kartini yang dirasanya layak dan menguntungkan politik etis Belanda saat itu. Cuma dia dan Tuhan yang tahu apa isi surat-surat lain dari Kartini yang tidak dipilihnya (atau di mana surat-surat lainnya itu)

Dan tentang ”Habis Gelap Terbitlah Terang” itu, setahu saya diterjemahkan Armijn Pane ke dalam bahasa Melayu – bahasa yang saya juga gak ngerti. Entah kalau sekarang sudah ada edisi bahasa Indonesia modern, soalnya sudah lama saya gak sempat ke toko buku.

The Truth About Cicak and Buaya

Setiap kali membaca koran, kata cicak dan buaya terasa agak mendominasi – sebab mereka sudah menjadi istilah umum buat menggambarkan perseteruan antara KPK dan Mabes Polri. Tentu saja eufisime begitu terasa sangat cocok sebab dalam dunia nyata – meski keduanya dimasukkan ke dalam keluarga reptil – cicak tembok ogah bertarung melawan seekor buaya. Sebaliknya mereka menyadari peranan masing-masing dan patuh pada hukum alam.

Saya sih tidak takut cicak, gak seperti kawan saya yang suka histeris melihat reptil mini gemuk berkepala membulat dan kulit transparan itu. Bisa dibilang, kita di sini hidup harmonis dengan cicak, mereka kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan, atau sedang tenggelam dalam gelas kopi. Continue reading

Toilet Story

Saya kagum sama toilet, ruang terpenting dari semua bangunan di dunia.

Size doesn’t matter,  yg penting fungsinya. Fitrahnya, memang toilet cuma buat BAK atau BAB, tapi semua juga tahu kalau kenyataannya lebih dari itu.

Banyak seniman mendapat ilham lalu menghasilkan karya-karya besar saat duduk di toilet. Seorang teman pecinta buku (utk gak menyebutnya kutu buku) gak bisa menyelesaikan panggilan alam tanpa membaca di toilet. Teman lain yg meskipun sudah kebelet, tetap ogah masuk toilet tanpa iPod-nya, atau rekan kerja yg katanya susah plong tanpa nge-game dgn N series terbarunya.

Toilet adalah tempat yg paling pas buat mengekspresikan diri sebebas-bebasnya tanpa ada yg menghakimi. Seseorang gak mungkin jaim saat mengejan, bukan? Dan siapa saja bebas ngelamun, nangis, merokok (apalagi pas puasa gini), ngumpet, dandan, ngisi TTS, cari tisu gratisan, menulis kata-kata jorok, menggambar alat kelamin, atau mengungkapan cinta di tembok toilet, atau bahkan meninggalkan nomor hp dgn penuh harapan.

Toilet juga tempat yg sangat aman utk sms atau menelpon selingkuhan, masturbasi atau bahkan sekalian quicky kalau beruntung.  Pokoknya buat saya, toilet itu banyak banget manfaatnya.

Nah, yg terbaru yg saya tahu (mgkn juga sebenarnya sdh lama, tapi saya baru tahu) – toilet juga dipakai sebagai sarana promosi. Di bandara, ipar saya mengambil selebaran yg diletakan di atas urinoir. Isinya promosi terapi dan obat utk masalah disfungsi ereksi.

Saya jadi penasaran kenapa brosur seukuran ¼ folio itu enggak ada di toilet wanita? Buat saya, penis loyo juga bagian dari permasalahan perempuan. Saya jadi iseng pingin coba mengontak nomor bebas pulsa yg tercantum utk menanyakannya, tapi gak jadi sebab saya takut jawabannya akan begini:

Hai, Sisy di sini. Apakah Anda kesepian…?”

Kisah Dua Manohara

Kamu pasti sudah khatam sama kisah Manohara Pinot, tapi apa kamu pernah dengar kisah Putri Manohara yg telah ratusan tahun tercetak pada relief candi Borobudur?? Yup! Kisah Putri Manohara ada di relief deretan bawah pd dinding utama sebelah barat di lorong lantai dua Candi Borobudur. Nah, yg menarik, ada sedikit kemiripan antara legenda putri Manohara yg juga dikisahkan dalam kitab Jataka-Avadana dgn kisah Manohara Pinot. Setidaknya pada bagian KDRT…atau seharusnya KDI (Kekerasan Dalam Istana, hehe..)

 

kisah manohara

 

Menurut budayawan Borobudur dan penulis buku ‘Temples of Java’, Ariswara Sutomo, legenda Manohara itu menuturkan tentang seorang putri dari kerajaan Manusia Burung yang digambarkan berwajah sangat cantik. Suatu hari seorang pemburu bernama Halaka menangkap putri tersebut dengan jaring istimewa di suatu pemandian. Kemudian ia menukar sang putri dengan hadiah melimpah kepada seorang pangeran yg jatuh cinta pada sang putri. Dikisahkan Manohara hidup bahagia sebagai istri sang pangeran, namun pihak keluarga istana tidak menyukai sang putri. Ibu mertuanya menjadi biang duka bagi kehidupan putri Manohara selanjutnya.

Saat sang pangeran mendapat tugas berperang melawan musuh di garis terdepan, Manohara mendapat perlakuan buruk dari ibu mertua dan keluarga kerajaan lainnya, sampai kemudian melarikan diri dari istana. Manohara lantas pulang ke kampung halamannya di Kerajaan Manusia Burung dengan mengusung segala dukanya. Ketika suaminya pulang dari medan perang, ia begitu sedih karena tidak menjumpai isteri tercintanya di istana.

Ia lalu menemui Halaka untuk mencari Manohara, namun Halaka tidak mengetahui tempat tinggal Putri Manohara. Ia hanya memberitahu sang pangeran tentang sebuah telaga dimana ia sering menjumpai sekumpulan manusia burung di sana. Pangeran pun kemudian mencari putri Manohara di telaga itu, namun dia hanya menemukan beberapa manusia burung dan tidak ada Manohara. Lantas ia menitipkan cincin kawinnya kepada salah seorang di antara sejumlah manusia burung itu untuk disampaikan kepada putri Manohara.

Semula Manohara takut kembali kepada istana, namun demi kesetiaannya sebagai isteri, ia lalu memutuskan kembali kepada suaminya. Cerita itu berakhir dengan relief yang menggambarkan kebahagiaan putri Manohara.

Legenda Manohara sudah begitu dikenal di negara-negara yang berpenduduk mayoritas pemeluk Buddha seperti India, Tibet dan Thailand. Meski saya gak tahu apa tautan antara kisah putri Manohara dengan kisah hidup Sidartha Gautama, tapi ini akan menjadi hal menarik buat kepariwisataan Candi Borobudur apalagi sebentar lagi musim kunjungan wisatawan dan liburan sekolah, tentu legenda ini menjadi cukup seru.

Madam Air

Cita-cita saya waktu SD standar aja, jadi pilot. Waktu saya jatuh cinta sama Tom Cruise di film Top Gun, cita-cita itu jadi lebih spesifik yaitu jadi pilot pesawat tempur. Setelah masa ABG lewat, saya mulai kepingin jadi pramugari, sebab lebih feminin dan tentu saja tidak harus bertempur. Tapi, saya kecewa waktu ayah saya bilang profesi itu gak ada bedanya dengan pembantu, cuma sedikit lebih keren. Akhirnya saya memilih cita-cita standar lainnya, yaitu jadi dokter dan tentu saja gak pernah kesampaian.

Untungnya saya ganti cita-cita, sebab kalau saya ngotot saya pasti kecewa sendiri. Bukan karena banyak maskapai penerbangan yang gak jelas standar keselamatannya, bukan pula karena shock dengan berita-berita kecelakaan pesawat yang seolah gak pernah berhenti, bukan pula karena saya agak claustrophobia, tapi lebih karena saya punya masalah dengan… motion sickness alias gampang mabok udara.

Itulah kenapa setiap kali saya harus memasuki kabin pesawat, saya merasa gak nyaman. Keringat dingin dan rasa mual sudah muncul sejak sebelum check in. Tentu saja karena beberapa hal yang lebih penting, saya harus rasional melawan semuanya dan tetap memasuki kabin pesawat. Setelah duduk, kantong kertas dan balsem biasanya sudah ada di tangan saya dan dengan noraknya saya selalu mengambil banyak permen yang ditawarkan untuk mengurangi rasa mual selama perjalanan.

Seorang teman bilang, mungkin semua itu hilang kalau saya naik maskapai yang lebih bagus, terus duduk di kelas bisnis yang lebih luas dan nyaman, bukan di kelas ekonomi yang penuh sesak. Buat saya, mau kelas bisnis, mau eksekutif, mau naik Madam Air, Emprit Air, Cacar Air, Kutu Air, Pompa Air… tetap aja saya mabok!

*Saya sedang berduka cita untuk seorang teman. Ia adalah Atase Pers di Kedutaan Besar Australia, yang tewas dalam kecelakaan Garuda Airways di Jogjakarta pada tanggal 7 Maret 2007

May you rest in peace, Elizabeth O’Neil. 🙁

Apa Salahnya Menjadi Hedonis?

Beberapa waktu yang lalu saya ke Jkt untuk urusan kerja dan menginap di apartemen kawan. Sebetulnya saya bisa saja menginap di rumah tante, tapi saya gak tahan bujukan kawan itu.

FYI; dia selalu menanggap saya begitu penting dalam hidupnya, sedangkan saya tidak. Entahlah, mungkin karena buat dia tanpa saya dia gak akan ketemu sama suaminya sekarang. Suaminya, seorang diplomat Australia, memang mantan siswa saya.

Anyway, kawan saya itu tahu banget kalau saya adalah tipe orang rumahan tinggal di kota kecil yang masih kental atmosfir tradisionalnya (sebetulnya dia juga, tapi sekarang tidak lagi). Dia “menantang” saya untuk sesekali merasakan gaya hidup “orang Jakarta.” Saya pikir, kenapa tidak? toh gak menganggu kerjaan dan semuanya traktiran kawan saya.

Jadilah, malam pertama saya habiskan dengannya di sebuah restoran bernama Blowfish. Restorannya cozy dan masakan Jepangnya memang mak nyus tenan – padahal kokinya org San Fransisco. Saya pulang kekenyangan.

Besok sorenya, kami memanjakan diri di spa selama lima jam. Saya senang tapi sedikit bosan di sini, bagaimana tidak? Facial satu setangah jam, kemudian krimbat satu setengah jam dan terkahir luluran komplit makan waktu dua jam. Memang kemudian saya merasa lebih segar & wangi.

Setelah itu, dia mengajak saya berbelanja di butik bernama Zara. Di sana saya naksir sebuah baju terusan, dan tersenyum manis saat melihat price tag-nya: tujuh juta rupiah.

Malam terakhir, dia dan suaminya mengajak saya ke sebuah tempat ajeb-ajeb (saya lupa namanya). Meski terganggu asap rokok tapi musik dan suasananya keren. Kami pulang jam setengah empat pagi, dan saya setengah mati menahan kantuk sebab dua jam kemudian saya harus sudah ke bandara untuk pulang ke Jogja.

Yup! Pulang ke kota kecil saya. Pulang ke rumah mungil saya.

Saya senang kawan saya memberi pengalaman baru tapi saya memutuskan bahwa saya gak akan bahagia dgn gaya hidupnya. Terlalu hedonis.

Memang apa salahnya menjadi hedonis?

Tak ada – kecuali bahwa saya proletar 🙁

Ibu

Apa logika fashion show dengan penghormatan kepada kaum ibu?

Emang gak ada. Itu cuma ide para perancang busana yang dijelmakan sebagai komoditas pusat belanja terbesar di Jogja. Dan orang kayak saya yang (sok) feminis akan segera menganggapnya konyol. Padahal, hal begitu tidak menghinakan perempuan. Hal begitu hanya memberi alasan untuk merayakan hedonisme. Tak ada relevansinya dengan penghormatan terhadap seorang ibu. Kalaupun ada, tentunya lebih kepada narsisime sang ibu, bukan dedikasi atau komitmennya, maka sebenarnya hal begitu tidak jahat, bahkan sebaliknya mencoba menghormati perempuan.

Pertanyaannya, penghormatan macam apa?

Ada masa dimana pemujaan terhadap dwi peran perempuan disimbolkan dengan seorang perempuan bertangan banyak; memegang sapu, piranti masak, bayi, sampai tas kantor dan segala perlengkapannya. Belakangan, para feminis menyerang pengkultusan super woman ini, sebab menjebak perempuan dalam nilai ideal yang mustahil dipenuhi.

Dan inilah, problem wanita karier: tuntutan berperan ganda. Perkawinan tidak mau membebaskannya. Pasti ada satu titik dimana dia harus memilih antara menjadi ibu atau berkarier. Mungkin di negara kita, seorang perempuan bisa dengan bangga mengatakan dia mampu menjalani kedua peran itu – sebab dia punya pembantu yang menjaga anaknya dengan upah rendah. Kemiskinan memang menguntungkan. Sebab di negara yang tak miskin, pekerja kelas menengah gak mungkin menggaji penjaga bayi 24 jam.

Satu hal lagi, di negara ini, kalaupun perempuan bekerja gak mampu menggaji pembantu utk anak-anaknya. Mereka selalu punya IBU yang dengan penuh suka cita dan tanpa pamrih mau mengopeni cucu-cucunya.

SELAMAT HARI IBU!

Older posts Newer posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: