#3. Bukan Piring yang Sama

selingkuh

Hari Ketiga #28harimenulistentangcinta challenge

Pernahkah kamu menyukai pasangan orang lain?

Saya sering sih. Waktu remaja saya suka banget sama Tom Cruise dan pingin pacaran sama dia, padahal saya tahu dia sudah menikah sama Nicole Kidman. Pas gedean dikit, saya ngefans berat sama Keanu Reeves lantas berimajinasi menjadi pasangan sehidup sematinya, padahal kala itu dia belum bercerai dari istrinya. Belakangan, gara-gara sering nonton K-Drama, saya jadi suka berkhayal ciuman sama Lee Min Ho, meski tahu dia punya pacar (dan saya juga sudah menikah) Continue reading “#3. Bukan Piring yang Sama”

#2. Sometimes It’s Chemistry

jatuh cinta

Posting kedua dari #28harimenulistentangcinta challenge

Apa yang membuatmu jatuh cinta?

Pertanyaan retorik ini sebenarnya lebih mirip jebakan, karena tentu saja penyebab jatuh cinta adalah orang yang kita cintai itu.

Namun pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana hal-hal lain di luar kekuasaan kita mempengaruhi cara kita memilih siapa yang ingin kita jatuhi cinta? Beberapa orang percaya bahwa cinta itu substansi yang tangible dan abstrak, akan tetapi saling berkaitan dan mampu membuat seseorang merasa ingin mencintai. Saya enggak percaya. Continue reading “#2. Sometimes It’s Chemistry”

Uniformity

pensil warna, jadi penulis
Pernah dengar kata demassification?

Saya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman. Continue reading “Uniformity”

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading “8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu”

My Comfortable and Perfect Life

comfort zone zona nyaman hidup perubahan berubah

Sepuluh tahun yang lalu, kehidupan saya nyaman dan sempurna. Hanya saja saya merasa enggak ke mana-mana.

Berada di zona ternyaman dalam hidup. Tinggal di rumah seluas 400 meter persegi yang dipinjamkan perusahaan untuk memudahkan kerja saya, di lokasi elit dan berjarak hanya empat menit jalan kaki dari kantor. Digaji sesuai rate dollar. Pesta atau makan malam bersama ekspatriat hampir setiap Jumat. Berteman dan membuat jejaring dengan para diplomat, duta besar dan orang-orang dari banyak organisasi internasional. Hidup saya sangat menyenangkan.

Dan lantas membosankan setelah beberapa waktu. Setiap hal dalam hidup terasa sangat benar, sekaligus terasa sangat salah.

Continue reading “My Comfortable and Perfect Life”