Borobudur

Borobudur

Ah, saya sebal sekali mendengar sekelompok orang nggak beres bakal melakukan demonstrasi irrelevant di Candi Borobudur tanggal delapan September nanti. Walau yakin bahwa pemerintah tidak akan mendiamkan niat mencurigakan kelompok  tersebut, saya tetap kesal.

Sebab,saya suka Candi Borobudur. Benar bahwa saya sudah puluhan kali berkunjung ke sana. Di musim libur, monumen bersejarah itu  memang jadi tak menarik akibat lautan wisatawan menutupi kemegahan The World Herritage itu, namun buat saya ia tetap menawan, terutama sejarahnya.

Tentu saya tak akan ngeblog mengenai sejarah berdirinya Borobudur. Tulisan tentang itu sudah ada di mana-mana, dan saya hanya penyuka kisah-kisah sejarah, bukan ahli. Sudah pasti saya tak punya kemampuan menulis tentang hal tersebut.

Buat saya, justru fenomena-fenomena alam yang pernah melewati Borobudur itu jauh lebih memesona. Candi Budha ini sudah mengalami banyak hal, ia pernah dibom oleh teroris, dan yang paling seru adalah ia pernah dilalui oleh gerhana matahari total.  Nggak cuma sekali, tapi empat kali.

Teorinya adalah gerhana matahari yang sama akan melewati tempat yang sama satu kali dalam tiga setengah abad. Itu berarti GMT tanggl 11 Juni 1983 bukan kali pertama yang dialami candi abad kesembilan itu. Gerhana matahari total pernah melewatinya tiga ratus lima puluh tahun sebelumnya, juga tiga ratus lima puluh tahun sebelumnya dan tiga ratus lima puluh tahun sebelumnya lagi. Keren kan?

Empat memang bilangan yang kecil, namun di antara kedatangan fenomena alam tersebut, ada ratusan tahun yang sudah berlalu, jutaan orang telah hidup dan juga mati, lusinan bencana, peperangan dan masa-masa keemasan telah menjadi sejarah.

Menurut catatan, saat GMT ketiga mampir ke Borobudur, Sultan Agung sedang dalam perjalanan menyerang Batavia. Lalu apakah yang akan terjadi saat gerhana kelima untuk Borobudur nanti terjadi? Saya pastinya sudah mati, dan barangkali penduduk bumi sudah bisa instagram-an dengan penduduk Jupiter atau bahkan bumi mungkin sudah sehancur planet Krypton. Entahlah!

Gak heran kalau fenomena tiga setengah abad sekali itu membuat setiap orang terinspirasi. Saya sendiri senang membayangkan sedang berdiri di kaki candi, menatap puncaknya, dan menjadi imortal yang ikut melihat GMT pertama, kedua dan ketiga yang lewat di atas jajaran stupa, juga segala kehidupan yang berlangsung dalam setiap abad.

Imajinasi saya itu memang gara-gara saya fans berat karya-karya fiksi ilmiah, dan sedikit terobsesi dengan kisah-kisah time traveler. Cuma saya tetap merasa beruntung pernah melihat gerhana matahari total keempat yang melewati Borobudur, meski tak secara langsung, sebab saya berada di Jakarta kala itu.

Saya merasakan euforia gerhana matahari total, Mulai dari informasi pemerintah yang tak edukatif hingga larangan keluar rumah pada saat gerhana melintas, sehingga orang-orang hanya bisa menyaksikan peristiwa alam tersebut lewat TVRI, satu-satunya saluran TV saat itu.  Daerah rumah saya mendadak berubah seperti pukul empat sore (padahal sebenarnya pagi menjelang siang), tidak gelap sekali tapi ayam-ayam tetangga mendadak brisik dan dua anjing peliharaan kami menjadi sangat gelisah. Pintu dan jendela ditutup rapat-rapat, kentongan dipukul bertalu-talu, juga sirine yang meraung selama beberapa menit. Seru banget lah pokoknya.

Saya sih, sebagai anak kecil, sudah cukup bahagia ketika ayah mengajak saya “melanggar” larangan pemerintah untuk tidak melihat GMT. Kami bertiga, ayah, saya dan adik perempuan saya, berusaha melihat bayangan bulan ”memakan” matahari lewat baskom yang diisi air sambil menutup mata dengan negatif film. Nggak kelihatan juga sih karena Jakarta bukan lintasan utama. Btw, milenial barangkali bingung dengan kedua medium untuk melihat GMT itu, sebab sekarang mereka bisa dengan mudah melihat fenomena ini lewat YouTube. Tapi, ya sudahlah ya 😀

Dan, sewaktu membaca komik Tawanan Dewa Matahari pertama kali, saya terkesan banget bagaimana Tintin mampu memanipulasi sang surya agar patuh padanya sehingga suku Inca ketakutan. Buat saya keren banget idenya. Sejak itu, saya menjadi suka sekali pada bacaan atau film tentang tata surya, planet-planet, bintang dan segala teori dan fenomenanya.

Saya jadi iri dengan Borobudur, sebab ia mungkin masih akan ada di tempatnya tiga ratus lima puluh tahun lagi untuk menikmati gerhana matahari total melintas di atasnya. Sementara saya, sudah pasti tidak akan ada di bukit yang sama untuk menyaksikannya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: