Ini kisah beberapa tahun lalu ketika saya berada di dalam sebuah bis wisata bertingkat. Di sebelah saya adalah seorang turis asing, yang dari logat Inggris-nya saya bisa menebak bahwa ia berasal dari Australia.

Setelah bisa berjalan beberapa saat, bule Australia itu mencoba memulai percakapan dengan ramah. Awalnya tak ada masalah dengan obrolan kami hingga tiba-tiba ia bertanya, “Kamu orang Melayu?” katanya dalam bahasa Inggris.

Pertanyaan itu sedikit membuat saya sebal. Saya yakin turis macam dia, yang pemahaman tentang Asia cuma didapatnya dari Lonely Planet, pasti gak paham bahwa Melayu menjadi label rasial di Singapura dan Malaysia. Barangkali mirip kata Negro, yang buat orang Indonesia gak ada nuansa rasialnya namun bisa memicu aksi anarkis di Amrik sana.

Lucunya, saya gak bisa langsung menjawab pertanyaan dia. Soalnya meski serumpun, saya keberatan dianggap orang Melayu. Di sekolah dasar, saya belajar kata ini sebagai nama suku bangsa, meski secara informal kata ini juga dipakai untuk mengolok-olok, setidaknya sewaktu menghabiskan masa kecil di Jakarta, saya terbiasa mendengar ejekan, ”Mental melayu, lo!”

Entah dari mana pemahaman itu berawal.

Saya pernah membaca buku Hikayat Abdullah. Dalam catatan sejarah  tahun 1823 ada peristiwa ketika Raffles berusaha membujuki Sultan Malayu agar memberi pendidikan formal buat anak-anaknya. Ini karena Raffles melihat gak ada orang Melayu yang kompeten dalam berbisnis, sebab mereka gak bisa menulis apalagi berhitung. Menurutnya, kalau saja Malaysia bisa seperti Singapura di mana orang-orangnya hidup sejahtera dari berbisnis, pastilah seluruh negeri akan sejahtera. Namun pemikiran itu ditolak mentah-mentah oleh Sultan. Menurutnya, anak raja gak perlu belajar bahasa Inggris sama aritmetika segala, sebab kekuasaan yang dipunyainya turun temurun sudah cukup untuk mensejahterakan rakyat.

Barangkali keputusan tak bertanggung jawab dari sang penguasa ini adalah karena kegagalannya melihat nasib bangsanya di masa depan. Seperti yang dikatakan Eric Hoffman; “There’s a tendency to judge a race, or a nation, or a disticnt group by its least worthy member.” ~ jadi kalau pemimpin kelihatan ogah-ogahan dan malas, maka seluruh bangsa akan dilihat begitu. Kalau mereka korup, maka orang di seluruh negeri dianggap korup juga. Dan, kalau ada yang gak bisa bekerja sesuai tuntutan zaman, maka dunia akan bilang; ini masalah mental! Lantas, meski salah kaprah, inilah barangkali asal muasal mereka yang gak ingin maju diolok bermental melayu.

Dan ini jugalah yang menjadi keberatan saya dikira berbangsa Melayu oleh si bule.

Dengan sok diplomatis, saya akhirnya menjawab pertanyaan itu. ”Yah, rumpun bangsa saya adalah Melayu tapi saya lahir di Indonesia,” Jelas jawaban saya membuat si Australia itu bingung. Ia tak paham akan keberatan saya. Barangkali jika bisa berbahasa Indonesia, dia akan bilang; ”Maksud looooo??”

Facebook Comments

Leave a Reply