Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Category: 28 Hari Menulis Tentang Cinta (page 3 of 3)

#5. Pertukaran

Putusnya sebuah hubungan selalu menyisakan rasa tak karuan. Entah karena tak direstui ortu, kekasih berselingkuh, pacar diculik mahkluk planet atau apapun alasannya, bersedih adalah reaksi pertama yang muncul. Reaksi ini bisa berlangsung beberapa minggu, bulan atau bahkan tahunan, tergantung bagaimana kamu meresponsnya. Seringnya sih, semakin lama kita mempertahankan kesedihan, semakin kacau hari-hari yang kita jalani.

Melepas bayang-bayang masa lalu

Berlama-lama mempertahankan kenangan terhadap mantan barangkali dianggap sebagai tanda ketegaran dan kesetiaan oleh sebagian orang. Namun bagaimana jika hal itu sudah nggak sehat lagi? Bagaimana jika mempertahankan perasaan justru membuatmu berubah menjadi super sensitif? Marah-marah sama diri sendiri, ngomel-ngomel mas go food yang telat antar makanan beberapa detik “Gara-gara kamu sih telat ngantar, saya jadi diputusin!” hingga menjambaki rambut sampai rontok lalu menyalahkan dan membantingi semua botol shampo di minimarket.

Pada tahap ini, kamu mungkin akan mengendalikan keadaan dan mengupayakan segala peluang agar bisa balikan lagi. Mulai dari stalking medsos-nya, atau pura-pura nanyain kabarnya ke teman-temannya. Jika tak berhasil, kamu mungkin mulai sibuk mengumbar janji-janji kayak peserta pilkada “Kalau kita balikan, saya janji enggak akan pernah pakai kostum Tinky Winki lagi saat kencan, mas,” hingga mengumbar ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak mau balikan lagi, saya bakal nyanyi jingle Mastin pakai toa setiap hari di depan rumahmu.”

Rayuan atau ancaman bisa saja membuat mantanmu balik. Tapi bagaimana jika tidak? Kamu mungkin akan mulai masuk ke tahap depresi. Menangis setiap kali ingat masa-masa indah berdua, merasa tak mampu move on, lantas bersimpuh di tengah hujan deras disertai kilat dan guntur, merentangkan tangan, mengadahkan kepala lalu berteriak “Kenapa kita harus putus… kenapa, Tuhan? Kenapaaaaa….” (lalu disambar petir, halah…)

Kenapa sulit banget move on dan melupakan mantan, padahal tahu bahwa semua telah selesai? Dan bagaimana seharusnya kita melewati tahap-tahap patah hati ini?

Pertama-tama sih, kita harus memahami hati (jangan ambigu dengan organ tubuh lho ya). Sekali hati kita terpaut pada seseorang, akan sangat sulit melepaskannya. Bahkan jika pun kamu tahu ia sebenarnya bukan pacar yang tepat, kamu tetap bertahan, sebab kenangannya terlalu dalam dan kuat.

Umumnya, seseorang tetap merasa lekat pada orang yang sangat ia cintai. Kelekatan ini diterima sebagai cinta, meski hubungan tersebut penuh dengan kesulitan. Cinta adalah cinta. Tak peduli apakah si dia sebenarnya cocok atau tidak dengan kita.

Dengan prejudis, saya bisa saja mengatakan bahwa orang-orang yang dibutakan oleh cinta memiliki masalah self-esteem. Tapi, rasanya kok tak sesederhana itu ya? Saya masih yakin setiap orang memiliki kapasitas untuk mencintai seseorang dengan amat dalam. Feel deep love. Ketika perasaan cinta yang dalam ini berubah menjadi cinta tanpa syarat, kita akan cenderung tidak melihat keburukan pasangan. Bagi kita, ia begitu sempurna.

Kondisi inilah yang membuat melepaskan sang mantan menjadi begitu sulit. Untungnya, manusia dilengkapi dengan sistem pertahanan diri, yaitu keikhlasan. Cuma, aktivasi sistem ini memang berbeda-beda pada setiap orang, ada yang cepat ada yang lama. Dan itu semata-mata pilihan.

Tahap berduka ketika kehilangan orang yang kita cintai memang harus dilampaui, sebab jika kamu skip, tak ada pelajaran berguna yang bisa kamu ambil dari pengalaman patah hati. Ketika merasa sangat kacau karena kandasnya sebuah hubungan, lalui saja tahap berdukanya, lantas berdamai dengan diri sendiri. Hanya dengan cara itu kamu bisa membuat pertukaran antara kehilangan dan mendapatkan (yang baru) terjadi.

#4. Ketika Rindu Terhalang Ragu

Ketika rindu terhalang ragu

Ketika jarak tak juga terlipat

Ketika waktu seakan tak bergerak

Ketika peluk berubah menjadi pelik

Ketika pertemuan berhenti pada khayalan

Ketika melangkah pergi menjadi satu-satunya pilihan

Ketika kehilangan menjadi sesuatu yang harus direngkuh tanpa dirasakan kehadirannya

Ketika saatnya melupakan tiba

Aku menyelipkan namamu dalam doa-doa baik tentang kita yang lantas kukirimkan pada Tuhan

 

——-

Terima kasih pernah menempatkanku secara istimewa di hatimu

#28harimenulistentangcinta

#3. Bukan Piring yang Sama

Hari Ketiga #28harimenulistentangcinta challenge

 

Pernahkah kamu menyukai pasangan orang lain?

Saya sering sih. Waktu remaja saya suka banget sama Tom Cruise dan pingin pacaran sama dia, padahal saya tahu dia sudah menikah sama Nicole Kidman. Pas gedean dikit, saya ngefans berat sama Keanu Reeves lantas berimajinasi menjadi pasangan sehidup sematinya, padahal kala itu dia belum bercerai dari istrinya. Belakangan, gara-gara sering nonton K-Drama, saya jadi suka berkhayal ciuman sama Lee Min Ho, meski tahu dia punya pacar (dan saya juga sudah menikah)

selingkuh

Jadi, menyukai kekasih atau pasangan orang lain itu enggak salah menurut saya. Yang salah adalah eksekusinya. Persis seperti anak kecil. Ia melihat mainan temannya jauh lebih menarik, dan ingin memilikinya. Itu nggak salah, manusiawi malah. Yang kemudian membuatnya dicap nakal adalah ketika ia memenuhi keinginannya dengan cara merebut mainan milik temannya itu.

Nah, itu hanya merebut mainan. Lalu bagaimana dengan merebut (hati) pasangan orang lain? Sudah pasti urusannya enggak sesederhana menjulurkan kelingking dan berbaikan. Sebuah persahabatan bisa rusak selamanya jika kamu menyukai kekasih sahabatmu. Sebuah hubungan kerja bisa hancur total ketika kamu menyukai rekan kerjamu yang sudah memiliki pasangan hidup.

Barangkali ada kesenangan sesaat ketika kita berhasil merebut hati seseorang, apalagi jika ia sudah ada yang punya. Sama seperti anak yang merebut mainan tadi, ia akan senang sebentar. Tapi sesudah itu apa?

Misalkan, kamu jatuh hati pada pria beristri dan berhasil membuat pria itu kemudian memilihmu dan meninggalkan istrinya. Apa yang kamu rasakan? Yang pasti, lambat laun perasaan bersalah akan muncul. Sebab bagaimana pun juga kamu sudah menghancurkan hati atau bahkan kehidupan orang lain. Jika tidak begitu, kemungkinan lainnya adalah kamu akan selalu dihantui perasaan cemas. Jika ia berani meninggalkan istrinya demi kamu, apa nggak mungkin suatu hari ia juga meninggalkanmu demi perempuan lain?

Tapi begitulah uniknya sebuah cinta terlarang. Adrenalin berperan besar di sini. Sesuatu yang salah, sesuatu yang tak seharusnya, bisa terasa sangat menggairahkan pada awalnya. Cinta yang harus dinikmati secara rahasia, pertemuan secara sembunyi-sembunyi, bahkan obrolan dengannya yang harus kamu simpan rapat-rapat di hati, semuanya memunculkan adrenaline rush. Dan kita tahu betapa membiusnya kesenangan semacam ini.

Sayangnya, seperti anestesi, bius kesenangan itu ada masa berakhirnya. Suatu hari kita akan tersadar dan merasa jenuh. Kita ingin lebih dari sekedar sembunyi-sembunyi. Kita ingin bebas menggenggam tangannya, menatap matanya, mencium bibirnya, mengatakan I Love You tanpa rasa cemas ketahuan orang lain. Kita mulai butuh kepastian.

Di sinilah, kawan, perempuan biasanya lebih dulu sampai. Perempuan lebih membutuhkan kepastian. Entah single atau sudah menikah, ketika perempuan berselingkuh, ia akan sampai di suatu titik di mana ia membutuhkan kepastian. Dan hampir bisa dipastikan sang lelaki tidak bisa memberikan hal tersebut.

Dalam konteks ini, saya sering melihat perempuan membiarkan dirinya menderita. Baik perempuan peselingkuh maupun yang menjadi korban perselingkuhan pasangannya.  Pada si peselingkuh selamanya akan dilekatkan label perusak rumah tangga orang. sementara pada korban peselingkuhan, pilihannya ada dua, bercerai atau dimadu. Dua-duanya pilihan pahit!

Jika pun tak dimadu, misalnya suaminya lantas insyaf dan meninggalkan selingkuhannya, cinta mereka tak mungkin sama lagi. Mirip dengan sebuah piring keramik utuh. Ketika dipecahkan, memang kemudian bisa dilem lagi. Tapi ia bukan piring yang sama sepeti sebelumnya.

So what’s the point of having an affair? None!

Bersedia menjadi orang ketiga sama saja memaksamu berhenti menghormati diri sendiri. Perempuan yang memiliki self-respect tidak akan membiarkan dirinya dibutakan oleh cinta. Jika telanjur menyukai atau bahkan berselingkuh dengan pasangan orang lain, akui saja kesalahan tersebut dan kemudian berhenti. Jangan memaksakan diri terus menjalani hubungan penuh toksin semacam ini. Jangan pula memaksanya untuk memilih, sebab kamu bukan pilihan.

Kamu adalah pribadi terbaik yang sudah disiapkan Tuhan untuk menerima pasangan terbaik juga, yaitu pasangan yang setia dan tak sedia berselingkuh meski ada jutaan orang ketiga di luar sana.

#2. Sometimes It’s Chemistry

Posting kedua dari #28harimenulistentangcinta challenge

 

Apa yang membuatmu jatuh cinta?

Pertanyaan retorik ini sebenarnya lebih mirip jebakan, karena tentu saja penyebab jatuh cinta adalah orang yang kita cintai itu.

jatuh cinta

 

Namun pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana hal-hal lain di luar kekuasaan kita mempengaruhi cara kita memilih siapa yang ingin kita jatuhi cinta? Beberapa orang percaya bahwa cinta itu substansi yang tangible dan abstrak, akan tetapi saling berkaitan dan mampu membuat seseorang merasa ingin mencintai. Saya enggak percaya.

Abaikan dongeng, sebab cinta di dalamnya selalu dibuat terjadi “begitu saja” – tanpa sebab. Snow white bisa langsung jatuh cinta pada ciuman pertama. Belle yang digambarkan sebagai seorang penyuka buku (tentunya dia intelek dong) membuang nalarnya dan mencintai manusia setengah monster. Bahkan dewa-dewi khayangan banyak yang dikisahkan bersedia keluar dari comfort zone lantas turun kasta jadi manusia bumi hanya karena jatuh cinta.

Saya sendiri percaya bahwa cinta tidak sesederhana itu. Cinta tidak terjadi karena sihir atau proses yang tak dapat dipahami pikiran. Jatuh cinta terjadi karena ada mekanisme dalam tubuh manusia yang memfasilitasi. Banyak faktor berperan di belakang munculnya sebuah cinta. Tampilan fisik seseorang, sudah pasti salah satunya – dan ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang hubungan tampilan fisik dan ketertarikan. Ternyata, manusia itu jauh lebih mudah tertarik pada sesuatu yang simetris dan mengikuti aturan rasio tertentu, termasuk wajah. Ketertarikan ini bahkan muncul pada bayi yang notabene belum punya referensi. Eksperimen dalam film dokumenter itu meperlihatkan bahwa bayi cenderung lebih tenang ketika memandang wajah orang dewasa yang simetris daripada yang tidak.

Di luar urusan simetri tadi, status sosial merupakan faktor juga. Latar belakang seseorang, bagaimana ia dibesarkan, dan tingkat kecerdasan memegang peran utama dalam menentukan siapa yang akan kita jatuh cintai. Meski demikian, ini bukan faktor satu-satunya. Reaksi kimia tubuhlah yang memainkan peran besar ketika kita memutuskan mau jatuh cinta pada siapa.

Ada empat senyawa kimia di dalam otak yang mempengaruhi keputusan kita, yaitu dopamin, estrogen, serotonin dan testosteron. Dopamin memunculkan sikap menghargai dan ingin dihargai. Estrogen dan testosteron yang ada dalam tubuh pria dan wanita memunculkan keinginan seksual. Di sisi lain, serotonin membantu mengatur mood dan juga menjadi neurotransmitter yang memunculkan sikap dan pikiran obsesif.

Tentu saja, ada beberapa senyawa kimia lain dalam tubuh yang kayaknya berubah hiperaktif ketika kita jatuh cinta, tapi tidak berpengaruh besar. Pertanyaannya sekarang; apakah senyawa-senyawa kimia itu juga berperan dalam menentukan siapa yang ingin kita beri cinta?

Kemungkinan besar sih iya. Saya pernah membaca jurnal psikologi milik Universitas John Hopkins yang menjelaskan teori ‘kode cinta.’ Kromosom kita ternyata sudah mencatat selera terhadap orang yang akan kita pilih untuk dicintai. Mulai dari bentuk mata, warna rambut, tinggi badan, dan bahkan bau badan. Buat saya, teori ini menjelaskan banget bagaimana seseorang bisa memiliki kriteria pasangan ideal. Jadi, nggak perlu heran apalagi komentar “wah, sayang ya cakep-cakep tapi muka pasangannya gitu doang,”  – sebab semua itu ada penjelasan ilmiahnya.

Penjelasan ilmiah itu buat saya juga membuat ungkapan bahwa “jodoh di tangan Tuhan” menjadi masuk akal. Saat otak kita dibentuk di dalam kandungan, Tuhan sudah memprogram seperti apa jodoh kita kelak ke dalamnya. Seru ya 🙂

Lantas, bagaimana jika ternyata di tengah jalan kita merasa bahwa pasangan kita saat ini bukanlah jodoh kita yang sebenarnya? Atau bagaimana jika kita merasa “kok jodoh saya nggak datang-datang?”

Ya,nggak usah salahkan takdir dong. Sebab ‘kode cinta’ tadi hanya berperan sekitar tujuh puluh atau delapan puluh persen dalam kelancaran urusan jodoh. Sisanya adalah usaha kita sendiri dalam menemukan orang yang sesuai dengan catatan dalam DNA tadi.

People fall in love without reason, without even wanting to. You can’t predict it. That’s love.’

Itu kata Haruki Murakami. Kalau kata saya sih, pasti ada alasannya. Saya kekeuh dengan hipotesa sendiri bahwa cinta tidak pernah terjadi begitu saja. Dan kalau mempertahankan hal tersebut di depan teman-teman, mereka akan mulai menarik napas panjang, lantas mengeluh, “Mulai lagi deh nih si skeptis cinta ngomyang.” 😀

#1. Cinta Pada Pandangan Pertama

Ini posting pertama dari ide #28harimenulistentang cinta. Iya, bulan Februari ini saya tiba-tiba kepingin banget mengisi blog ini dengan cerita apapun yang berkaitan dengan cinta dan kasih sayang. Cita-citanya sih sampai akhir bulan saya posting tiap hari, moga-moga kesampaian.

Eh tapi, kenapa memilih Februari? Apa karena ini bulan cinta?

Ah, enggak juga. Ntar saya dikira kebarat-baratan kalo bilang iya 🙂 Memang sih sebagian orang merayakan hari Valentine sehingga Februari dianggap bulan paling romantis. Tapi sebenarnya alasan utama saya adalah karena banyak orang yang saya cintai lahir pada bulan ini, termasuk almarhum ayah saya. Selain itu, saya menikah di bulan ini. Jadi, ya lumayan istimewa buat saya.

Istimewa lagi karena jumlah harinya 28 saja. Gimana pun juga menulis setiap hari selama itu nggak mudah, apalagi kalau harus 30 atau 31 hari. Iya, yang terakhir itu memang alesan banget 😀

Pagi tadi saya dapat ide menulis dari quote bagus ini:

When two people love each other, nothing is more imperative and delightful than giving ~ Guy de Maupassant

Saya termasuk pendukung skeptis cinta pada pandangan pertama. Mungkin karena saya tidak pernah mengalaminya. Entah karena dulu kalau ketemu cowok ganteng, saya malah lebih sibuk sama pikiran-pikiran nggak penting. Rambut udah oke belum ya? Lipstik ketebalan gak? Aduh nih perut kok one pack gini? dan seterusnya, dan seterusnya — sehingga melewatkan pandangan pertama. Bisa juga karena sering prejudis sama orang lain. Pada pandangan pertama, saya malah langsung berpikir “Ih, ngapain sih nih orang liat-liat?” Hehe.. nggak ding!

Alasan utamanya adalah saya lebih percaya bahwa proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan deal kelompok dari mana kita berasal. Bohong besar deh kalau seseorang merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban apabila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu hari nanti.

Kehilangan perspektif bukan pertanda jatuh cinta, tapi sinyal kebodohan. Saya percaya cinta nggak datang dari pandangan pertama, sebab cinta membutuhkan proses. Cinta tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks sehingga membutuhkan waktu. Cinta bukan panah yang ditembakkan Cupid dan juga tidak jatuh dari langit.

Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru.

Mungkin yang terjadi pada cinta pada pandangan pertama adalah timbulnya serangan perasaan saling tertarik yang kompulsif dan sangat kuat, yang lalu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus itu, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri.

Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta, mereka mencintai pasangan sebagai pribadi yang utuh. Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi. Kalau seseorang berkeinginan menguasai kekasih atau melulu mengalah berarti dia belum siap memberi dan menerima cinta. Orang yang mencinta menganggap pasangan sebagai tempat untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.

Nah, kamu termasuk pendukung cinta pada pandangan pertama atau cinta pada pandangan kesekian?

Newer posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: