Evil And Devil

Barangkali benar kalau ada yang bilang penulis itu nggak pernah libur. Dalam masa liburan pun otaknya terus mencari jalan untuk bisa menulis. Kayak saya sekarang ini. Seharusnya santai-santai menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga. Eh, jelang tengah malam, di kamar hotel yang nyaman, dengan koneksi wifi cepat, tiba-tiba saya nggak bisa menahan diri untuk menulis. Padahal sudah sengaja meninggalkan laptop di rumah. Masalahnya, saya selalu bisa blogging dari ponsel.  Continue reading “Evil And Devil”

Atribut

Saya langsung puyeng waktu baca headline portal berita tentang fatwa atribut non muslim. Seingat saya isu ini sudah basi, sebab setiap menjelang Natal selalu muncul. Mirip dengan isu halal haram mengucapkan selamat Natal atau merayakan pesta tahun baru. Menarik bahwa kita gak bakal mau mengonsumsi makanan basi, tapi tidak demikian isu basi. Padahal isu-isu semacam itu adalah makanan otak. Pendeknya mengonsumsi isu basi bakal membikin otak sakit.

Mungkin itu yang bikin kepala saya langsung sakit. Seharusnya saya enggak baca berita-berita semacam ini, sebab sedang liburan. Payahnya, saya enggak bisa menghindari broadcast menyebalkan dari beberapa grup whatsapp. Jadi, ya sudah. Saya membatasi diri membaca headline saja, bukan isi beritanya. Saya memilih untuk tidak tahu, dan tidak peduli. Sebab bosan dan gagal paham mengenai apa sebenarnya atribut non muslim yang diributkan?

Continue reading “Atribut”

Lagu Natal

Memasuki bulan Desember, tetangga depan rumah mulai lebih sering lagi menyetel lagu-lagu natal. Tak keras memang, tapi karena jarak rumah kami tak terlalu jauh, maka lagu-lagu pujian yang keluar dari CD player mereka, terdengar dari dalam rumah kami. Terganggu?

Tidak. Lagu-lagu natal justru membawa saya ke ingatan masa kecil. Almarhum ayah punya banyak koleksi kaset barat. (Btw, Milenial tahu kaset kan? Bukan. Itu bukan tempat membersihkan kaki. Itu adalah nenek moyang compact disc). Continue reading “Lagu Natal”

Soetomo

Time chooses a great man for its period. The year 1908 had Soetomo as its great man. In a special way, the founder of Boedi Oetomo was a suitable choice for the 20 may 1908 National Awakening Movement. He was a suitable person with no political passion since we were in the midst of serious thought but no intention of large scale shifts of power.

But is true that what happened on that famous day in 1908 wasn’t agitation?Soetomo was 19. He and some of his friends established something that had never existed before; an organization for natives. They fought for a national community, with no distinctions of race, gender and belief. In short, a completely modern nationalism – and ideal that persist to this very day. Continue reading “Soetomo”

Great Leaders

Leaders; they don’t always emerge through upheavals of history like we had in 1965 and 1998. A great number of the world’s leaders in late 21st century didn’t emerge through a situation of crisis. They rose to their positions of where chosen in atmosphere of normality, even blandness – without revolution, coup or drama. Continue reading “Great Leaders”