Borobudur

Ah, saya sebal sekali mendengar sekelompok orang nggak beres bakal melakukan demonstrasi irrelevant di Candi Borobudur tanggal delapan September nanti. Walau yakin bahwa pemerintah tidak akan mendiamkan niat mencurigakan kelompok  tersebut, saya tetap kesal.

Sebab,saya suka Candi Borobudur. Benar bahwa saya sudah puluhan kali berkunjung ke sana. Di musim libur, monumen bersejarah itu  memang jadi tak menarik akibat lautan wisatawan menutupi kemegahan The World Herritage itu, namun buat saya ia tetap menawan, terutama sejarahnya.

Continue reading “Borobudur”

Door Duisternis Tot Licht

Doorduisternistotlicht

Sudah pernah baca buku “Door Duisternis Tot Licht”?

Saya belum. Soalnya saya gak bisa bahasa Belanda. Kalaupun bisa, saya gak yakin kepingin membacanya sebab ada sentimen pribadi dengan motivasi penyusun buku itu, JH. Abendanon. Dialah orang yang bersusah payah mengumpulkan surat-surat Kartini dan menyusunnya menjadi buku lantas diberi judul Door Duisternis Tot Licht.

Ironisnya dia jugalah yang menghalang-halangi niat Kartini untuk bersekolah di negeri Belanda, padahal sudah ada sponsor dan beasiswa untuknya dan kedua adik perempuannya. Seperti semua tahu, Kartini batal berangkat, lantas digiring kawin dengan lelaki yang sudah punya sekian istri. Continue reading “Door Duisternis Tot Licht”

Kisah Dua Manohara

kisah manohara

Kamu pasti sudah khatam sama kisah Manohara Pinot, tapi apa kamu pernah dengar kisah Putri Manohara yg telah ratusan tahun tercetak pada relief candi Borobudur?? Yup! Kisah Putri Manohara ada di relief deretan bawah pd dinding utama sebelah barat di lorong lantai dua Candi Borobudur. Nah, yg menarik, ada sedikit kemiripan antara legenda putri Manohara yg juga dikisahkan dalam kitab Jataka-Avadana dgn kisah Manohara Pinot. Setidaknya pada bagian KDRT…atau seharusnya KDI (Kekerasan Dalam Istana, hehe..) Continue reading “Kisah Dua Manohara”

Drupadi

Drupadi was dragged by her long hair across the great hall to the gambling table. Everyone in that room could hear her cry, yet no one to help her. Even her husband, Yudhistira, was mute. Arjuna, Nakula and Sadewa were likewise. There was only Bima, grinding his teeth in unstilted anger, muttering under his breath that Yudhistira had done wrong. Continue reading “Drupadi”

Soetomo

Time chooses a great man for its period. The year 1908 had Soetomo as its great man. In a special way, the founder of Boedi Oetomo was a suitable choice for the 20 may 1908 National Awakening Movement. He was a suitable person with no political passion since we were in the midst of serious thought but no intention of large scale shifts of power.

But is true that what happened on that famous day in 1908 wasn’t agitation?Soetomo was 19. He and some of his friends established something that had never existed before; an organization for natives. They fought for a national community, with no distinctions of race, gender and belief. In short, a completely modern nationalism – and ideal that persist to this very day. Continue reading “Soetomo”