Pengalaman Kedua Menulis Buku Dongeng; Kolaborasi Dengan Irvan Kartawiria

dongeng kirana

Byuh! Dua bulan berlalu tanpa menulis apapun di blog. Rasa bersalah terus mencolek-colek sebab sudah berkomitmen buat rutin menulis di sini. Salahkan kesibukan, itu hal termudah yang bisa saya bilang. Cuma, saya juga bisa bilang dengan bangga bahwa sok sibuknya saya menghasilkan karya. Akhir Februari ini, sebuah novel dongeng lahir. Karya kolaborasi antara saya dan Irvan Kartawiria. Judulnya KIRANA.

Continue reading “Pengalaman Kedua Menulis Buku Dongeng; Kolaborasi Dengan Irvan Kartawiria”

Pseudonyms

Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀 Continue reading “Pseudonyms”

Cuti Medsos dan Seni Beres-Beres

IT’S 2017. SELAMAT TAHUN BARU!

Desember lalu menyenangkan banget. Pertama, saya berhasil mengatur agar tak ada satupun order kerjaan masuk untuk bulan tersebut. Tujuannya agar tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya masih harus berjibaku dengan naskah-naskah yang belum kelar di masa liburan. Akibatnya liburan tak nyaman, dan anak-anak tak menjadi perhatian. Meski minggu pertama Desember saya masih menyelesaikan beberapa hal, bobotnya ringan-ringan saja. Dan tiga minggu berikutnya, saya benar-benar puas menghabiskan liburan bareng keluarga. Continue reading “Cuti Medsos dan Seni Beres-Beres”

Pengalaman Pertama Menulis Buku Dongeng

Selalu ada yang pertama buat semua hal. Pertengahan bulan Mei lalu, saya ditantang penerbit buat menulis buku dongeng. Wah, seneng banget karena memang sudah lama pingin bisa menulis kisah-kisah menarik buat anak-anak. Pingin membukukan dongeng-dongeng yang sering saya ceritakan ke anak-anak saya, tepatnya.

Sayangnya, saya salah menangkap maksud penerbit. Mereka maunya saya re-write kumpulan dongeng nusantara, bukan menulis dongeng baru. Re-write di sini artinya mem-parafrase dongeng-dongeng populer dengan bahasa versi saya, tapi kisahnya tetap ikut pakem. Kecewa? Ya, sedikit. Tapi karena sudah kadung senang, ya tetap saja saya jalan. Pikir saya, “Ah, lebih mudah, nih! Kan tinggal kumpulkan materinya, sumbernya banyak, lantas ditulis ulang dengan kalimat sendiri.” Continue reading “Pengalaman Pertama Menulis Buku Dongeng”