Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Category: Random Thoughts (page 3 of 8)

Random Kindness

Suatu siang di Jakarta, saya menumpang mobil kawan. Saat melewati gerbang tol, ia membuat saya terheran-heran, sebab ia membayari juga mobil di belakangnya. Tentu saja saya bertanya, dan jawabannya membikin saya lebih heran lagi. Katanya ia tak tahu siapa empunya mobil di belakang itu, ia hanya suka berbuat baik. Ia senang membayangkan wajah pengemudi tak dikenal itu bahagia karena tak perlu lagi membayar.

berbagi kebaikan

Dalam hati saya meledek, “Konyol, ah!’. Tentu saja saya begitu karena tak terima. Sebab saya malas mengakui kalau kawan saya itu orang baik. Soalnya, saya pernah mencoba berbuat baik juga, tetapi malah ditertawakan. Misalnya, saat makan di restoran burger, saya berinisiatif membuang bungkus burger dan gelas karton ke tempatnya – mencoba berempati pada pelayan restoran. Tak ada pujian, malah kawan-kawan saya bilang saya kebarat-baratan – “Halah…tiru-tiru bule lo!” kata mereka sambil meninggalkan nampan-nampan penuh sampah di meja.

Kali lain, saat naik mobil, kawan yang mengemudi membunyikan klakson keras-keras sambil menyumpah pada sopir angkot yang menyalipnya. Saat itu saya mencoba berempati pada sopir angkot dengan mengatakan pada kawan saya, “Dia kan lagi ngejar setoran, lo kan enggak’. Dan kawan itu memandang saya dengan tatapan aneh. Barangkali seaneh tatapan saya pada teman yg membayari tol untuk mobil di belakangnya tadi.

Berbuat baik sering jadi dilematis. Ada kawan yang ogah membantu orang yang kecelakaan. Alasannya, takut nanti malah berurusan dengan polisi. Kalau ketemu polisi, ujung-ujungnya duit juga. Makanya meski kesal, saya tak marah pada orang di depan saya yang membuka pintu minimarket lalu lebih suka menghempaskannya ketimbang menahannya sebentar, meski tahu ada orang lain di belakangnya.

Saya pun tak mencoba menegur mahasiswa yang terus duduk di bangku bis padahal di dekatnya ada simbok sayur yang kehabisan tempat duduk, berdiri tanpa bisa berpegangan karena keduanya tangannya sibuk memegangi bakulnya. Saya juga hanya bisa membatin bila melihat anak kecil membuang sampah di jalan, karena saya tahu ia tak salah. Ia cuma tak mengerti, sebab orang tuanya tak pernah memberi tahu.

Saya percaya bahwa berbuat baik tak bisa disuruh. Hal begitu cuma bisa dilakukan saat ada kesadaran pribadi. Saya bisa saja menceramahi atau memberi tahu orang lain agar tak menyampah sembarangan, tidak menyumpahi orang lain, tidak merokok di depan anak-anak, dan segala hal tentang perbuatan moral lainnya. Hanya saja itu tak terlalu berguna.

Yang saya tahu, kesadaran tentang moral timbul setelah melihat kebaikan yang dilakukan orang lain, bukan yang diucapkan. Persis seperti yang digambarkan oleh Anne Herbert dalam bukunya Random Acts of Kindness. Buku terbitan tahun 93 ini mengupas tentang kisah nyata orang-orang yang berbuat kebaikan secara acak, dan tanpa pamrih.

Pada teman saya yang berbuat kebaikan di jalan tol itu, ada keinginan buat meniru apa yang dilakukannya – membayari tol buat kendaraan tak dikenal di belakangnya. Persoalannya cuma satu; Jogja tak punya jalan tol.

Ngapem, Nyadran dan Padusan

Menjelang bulan puasa, saya suka mengamati kegiatan penduduk kampung dekat rumah, yang barangkali juga dilakukan kebanyakan kampung di Jogja dan Jawa tengah. Setidaknya ada tiga tradisi sakral turun temurun yang masih wajib dijalankan sampai sekarang; Ngapem, Nyadran dan Padusan. Namanya tradisi, memang gak berhubungan dengan ajaran Islam, cuma tanpanya berpuasa terasa ada yang kurang.

ngapem tradisi sebelum ramadhan
Ngapem adalah kegiatan membuat kue apem. Dilakukan dalam kurun waktu sebulan sebelum puasa dimulai, setelah pihak Keraton mengadakan acara Ngapem. Kue apem ini bersama ketan dan kolak – setelah dibacakan doa – akan dikirim ke para tetangga, teman, kenalan, besan, bahkan atasan. Karena penasaran saya pernah bertanya apa esensi dari Ngapem ini, sayangnya tidak ada yang ingat – barangkali karena tradisi ini sudah berusia ratusan tahun.

Yang menarik adalah bila saya dikirimi sepaket apem ketan kolak, maka kemudian saya harus membalas mengirimi paket yang sama kepada si pengirim tadi. Bayangkan kalau saya mendapat lima puluh paket dalam sehari! Beruntung saya suka makan.

Lalu ada tradisi Nyadran, sebuah ritual ziarah ke makam para moyang, tetua dan kerabat. Diawali dengan bersih-bersih makam, lalu penduduk kampung – dengan membawa besek nasi dan lauk pauk berjalan menuju makam. Seorang Modin (pemimpin agama) akan mengumpulkan besek-besek ini lalu membacakan doa, dan kemudian upacara diakhiri dengan menaburkan bunga ke pusara-pusara leluhur.

Nah, yang terakhir ini, Padusan, adalah yang paling unik. Dilakukan 1-2 hari sebelum puasa hari pertama. Pantai, kolam renang, sumber mata air dan pemandian umum di Jogja akan begitu penuh orang. Tua-muda, besar-kecil, dewasa dan anak-anak, semua tumplek jadi satu.

Larangan mandi di pantai-pantai selatan yang berombak ganas seolah gak ada artinya lagi. Buat kamu yang pada hari itu ingin bisa berenang santai di kolam atau pantai, jangan harap bisa bergaya dada, bergerak pun cukup sulit. Meski lucu, tradisi ini adalah bentuk sinkretis kebudayaan Jawa-Islam. Di dalamnya ada keharusan membersihkan diri sebelum mulai berpuasa.

Puasa memang bukan melulu milik agama Islam. Hampir semua agama dan kepercayaan menyarankan berpuasa mengingat manfaatnya yang baik. Namun menuru saya, puasa Ramadhan adalah yang paling unik, sebab dilakukan terus menerus selama satu bulan.

Saya belum tahu persis kapan awal puasa tahun ini akan dimulai, tapi buat semua yang akan berpuasa… selamat menjalankannya ya! Semoga lancar 🙂

Jemawa

Saya lagi kecewa, dan kepingin ngomongin seseorang.

Ia seorang penulis yang (tadinya) saya sukai. Buku-bukunya banyak dan ia terkenal. Lantas, saya merasa ia telah berubah menjadi jemawa. Tak tahan kritik. Merasa penulis best seller, lantas marah ketika ada orang lain yang memiliki pendapat atas buku-bukunya. Meski tak benar-benar marah secara verbal, gestur-nya menunjukkan “Emang lo siapa? Berani-berani ngritik gue, udah pernah nulis buku lo?”

Ini saya lihat ketika menghadiri bedah buku dan book signing event-nya di Jogja dua tahun lalu. Ia memperlihatkan ekspresi tak senang ketika beberapa mahasiswa dari fakultas sastra mempertanyakan sesuatu dari karyanya. Dan tentunya saya langsung kecewa, sebab (sebelum saya tahu bagaimana reaksinya atas kritik) saya penyuka tulisannya.

Beberapa hari lalu, saya lihat di medsos-nya, penulis tersebut marah-marah atas masukan follower-nya tentang konten bukunya. “Kalau ngasih komen, yang sopan, dong!” begitu reaksinya. Duh, saya langsung ilfil dan berniat tak akan pernah membeli karyanya lagi. Dan kayaknya saya nggak sendirian. Lagipula siapa sih yang nggak males kalau kasih feedback aja dimarahi hanya karena si penulis merasa dia lebih tahu sastra ketimbang pemberi komentar? Padahal buku solo-nya sedikit, sisanya buku keroyokan alias antologi, atau duet dengan penulis lain.

Karena setengah kecewa dan setengah sebal, saya langsung berujar sambil ketok-ketok meja,“Amit-amit deh aku jadi penulis sombong begitu.” Tapi lantas tersadar, jangan-jangan saya sudah seperti dia. Kemudian saya berusaha mengingat semua yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Benar, saya sudah menulis dua puluh buku, tiga per empatnya saya tulis sendiri. Sisanya saya tulis berdua dengan teman penulis. Eh, ini termasuk jemawa, kan ya? 🙂

Satu hal yang diajarkan suami pada saya, bahwa banyaknya buku saya yang sudah terbit hanya menunjukkan satu hal, yaitu saya bisa menulis sesuatu yang disukai penerbit dan dibeli pembaca. Jika mau terus seperti itu, satu-satunya cara adalah dengan terus belajar . Meng-upgrade diri. Tidak melulu dengan banyak baca buku atau mengikuti pelatihan menulis, tapi juga dengan belajar menerima kritik.

Bagaimana pun juga, pembaca adalah pembeli buku-buku saya. Mereka berhak mengkritik apapun yang mereka beli, dengan harga yang tak murah pula! Wajar jika ada yang nggak puas atau merasa terkecoh dengan tulisan saya, lantas memprotes. Lha wong, duit buat beli buku itu bisa buat beli satu cup Caramel Macchiato ukuran Venti di Starbuck, kok.

Trus, apa saya harus pasrah saja jika ada yang mengritik? Awalnya sih, siapa pun pasti langsung panas jika diprotes, apalagi saya yang mudah kesal dan baper. Cuma, memberi respons negatif juga enggak akan memperbaiki keadaan sih. Ya, ditampung saja dulu sambil bilang thank you, lalu setelah tenang gunakan kritikan itu sebagai panduan buat menulis dengan lebih baik.

Respons negatif cuma bakal membuat namamu sebagai penulis tercoreng. Padahal, kelangsungan karier penulis bergantung dari namanya. Dan mendapatkan nama dalam dunia penulisan (atau profesi apapun) bukan hal yang bisa dicapai semalam dua malam. Perlu kerja keras konsisten. Nah, masa cuma gara-gara kita emosi dan merespons kritik secara negatif, trus kerja keras kita berantakan? Malesin banget kan?

Lantas, bagaimana kalau pembaca mengkritik tanpa sopan santun? Tahu kan bagaimana kebanyakan orang sekarang berbahasa di medsos? Kadang pilihan katanya benar-benar menyakitkan. But well, we can’t control other people anyway. Jadi, kendalikan saja diri sendiri. Kalau komentarnya kejam, ya jangan dijawab dengan kejam. Apa bedanya saya dengan mereka kalau saya ikut-ikutan berkata pedas atas komentar mereka.

Lagipula, bukannya kalau ada kritik artinya karya kita memang benar-benar dibaca ya? Pembaca yang peduli akan selalu berusaha agar penulis kesayangannya tetap berada di jalur, tidak berubah menjadi jemawa.

Apa yang Paling Kamu Sesali dalam Hidup?

“Astrid, apa yang paling kamu sesali dalam hidupmu?” tanya seorang sahabat suatu kali, membuat saya terperangah dan berpikir lama.

Sebab saya belum pernah memikirkannya. Oke, barangkali ada beberapa hal yang ingin saya lakukan tetapi nggak jadi. Mengambil S2, kursus bahasa Spanyol, dan menjadi model. Tapi semua itu ada alasannya, jadi tak pernah saya sesali.

Continue reading

Nggak Ada Waktu Buat Menulis

Kadang bosan ditanya “bagaimana caranya jadi penulis produktif?” atau “bagaimana cara mengatur waktu untuk menulis?” sebab selalu ada yang ngeyel tiap kali saya menjawabnya. Saya sih nggak pernah keberatan kalau ada yang berargumen, cuma kadang argumen penanya terasa defensif. Misalnya, ya…

“Ya, kan mbak Astrid enggak kerja (kantoran) jadi bisa punya waktu buat menulis.”
“Mbak enak, anak-anaknya udah pada gede. Anak saya kan masih kecil, nggak bisa ditinggal.”
“Duh, ibu-ibu kayak aku sih udah enggak ada waktu buat menulis. Harus masak, nyuci, nyetrika, ngurus anak dan suami. Habis deh waktunya.”

Oh, argumen-argumen penuh pemakluman begitu suka bikin saya kesal setengah mati. Continue reading

IDGAF

Saya punya masalah dengan dianggap serius, terutama saat sedang sedih. Beberapa kawan mengira saya lagi berpura-pura galau atas nama sensasi, sebagian lagi terheran-heran. Sebagian yang terakhir ini barangkali menganggap otak saya  nggak merekam file kesedihan.

jangan lupa bahagia

Nggak salah juga sih kalau kawan-kawan berpikir begitu, sebab Continue reading

It Started With A Dream (Part 2)

Kawan,

Pernahkah kamu tiba-tiba bermimpi tentang seorang dari masa lalu, yang terlalu lama enggak pernah kamu jumpai, lalu bangun dan bertanya-tanya mengapa kamu bermimpi tentangnya? Lantas kamu mulai memikirkannya. Dan tak lama setelahnya, dengan tiba-tiba juga, orang itu menyapamu akrab di whatsapp dan kemudian berlanjut di fesbuk – sesuatu yg belum pernah terjadi sebelumnya, meski kamu memiliki kontaknya.

Continue reading

When Life Gives You Surprises (Part 2)

I feel a bit sentimental tonight

Buat beberapa orang, ngomongin saat-saat sulit di masa lalu itu bikin malu. Kebanyakan orang tenar juga lebih senang membagikan kisah suksesnya ketimbang masa-masa susahnya. Buat saya, hal-hal sulit di masa lalu justru harus diomongin atau diceritain ke orang-orang terdekat. Bukan pingin sok menderita, sebab saya perlu mengingat hal-hal nggak enak itu sebagai reminder bagi diri sendiri.

Sebenarnya, saya nggak pernah melalui titik balik kehidupan yang ekstrim. Saya juga enggak pernah menganggap masa lalu suram hanya karena ada kejadian-kejadian nggak enak yang menghalangi rencana atau keinginan saya. Barangkali karena dasarnya saya senang mikir positif, enggak merasa sedang bawa beban dan nggak betah mendengarkan pendapat orang lain tentang hidup saya.

Ada masa, saat ayah saya meninggal mendadak karena serangan jantung beberapa tahun yang lalu (tujuh belas tahun yang lalu sih tepatnya), situasi di rumah jadi lumayan keganggu. Saya dan adik-adik yang biasanya dikasih uang bulanan ratusan ribu (dan kadang masih minta tambah) harus mulai berhemat. Terbiasa tinggal di rumah besar, naik mobil bagus ke mana-mana, liburan ke Bali-Lombok bolak-balik, pesan tiket pesawat semudah pesan ojek online, mendadak harus mengerem kemewahan-kemewahan tersebut.

Beruntung bahwa sejak semester lima (meski tanpa sepengetahuan ayah) saya sudah punya kerjaan. Gaji kecil waktu itu nggak masalah, yang penting pengakuan terhadap intelegensi dan bakat. Namun, mendadak saya harus mencari cara agar bisa bergaji lebih tinggi. Bukan untuk bantu-bantu keuangan keluarga, tapi lebih untuk membiayai diri sendiri. Ayah saya meninggalkan cukup materi agar ibu, saya dan adik-adik bisa tetap hidup senang. Cuma saya terlalu angkuh buat menerimanya, dan lebih suka menikmati penghasilan sendiri.

Ayah saya meninggal satu setengah bulan sebelum pernikahan saya. Kepergiannya yang tiba-tiba banget sempat membuat saya kebingungan untuk meneruskan rencana pernikahan yang telah disusun sejak setahun sebelumnya. Sempat terpikir buat membatalkan saja, tapi keluarga mencegah. Ibu saya bilang, teruskan saja sebab itu yang diinginkan ayah. Jadilah, selepas empat puluh hari kepergiannya, saya menerima janji nikah yang diucapkan suami saya di depan penghulu. Perasaan saya kacau waktu itu, antara senang karena akhirnya menikah dan masih begitu berduka akan kepergian ayah saya.

Tapi ya, memang kayaknya saya harus deh kehilangan ayah saya saat itu. Dengan begitu, saya jadi jauh lebih mandiri mengelola keluarga. Saya sempat membayangkan, jika ayah masih ada, barangkali sampai hari ini kami enggak akan punya rumah hasil jerih payah sendiri. Ayah yang terlalu sayang sama anak-anaknya, enggak akan tega membiarkan saya bekerja keras hanya untuk memiliki rumah dan mobil dan lebih suka menghadiahi. Ia juga pasti akan terus membantu keuangan kami setiap bulan.

Akibatnya sudah ketebak. Saya enggak akan tahu rasanya susah atau kerja keras. Saya juga mungkin enggak pernah belajar menghargai kemampuan diri sendiri, sebab terbiasa dengan hidup yang mudah. Dan barangkali saya akan tetap jadi orang yang nggak ngerti nilai uang yang sebenarnya. Malu hati deh kalau cerita begini, sebab di luar sana banyak banget yang lebih tidak beruntung daripada saya. Tapi untuk ukuran orang yang biasa ‘hidup enak’ dan ‘gampang, masa-masa setelah ayah pergi itu bener-bener sebuah ujian.

Lantas, apa saya menjalan hidup dengan tenang dan hepi-hepi aja?

Ya enggak lah. Namanya juga manusia, pasti ada emosi-emosinya.  Tapi apa boleh buat, kerjaan saya menuntut agar tetap ramah dan profesional karena waktu itu saya menghadapi klien-klien orang asing. Nggak cocok deh ya kalau saya sering galau di depan mereka dan teman-teman kerja. Jadi, di satu sisi, hidup rasanya berat banget, tapi di sisi lain harus jadi pribadi yang bisa diajak kerja sama, brainstorming, dan ngobrol. Multi-tasking mental nggak tuh judulnya?

Untung saya perempuan. Dan perempuan itu yang udah dari sananya dikaruniai kelebihan yaitu bisa lembut sekaligus kuat dalam waktu yang bersamaan. Marah, kesal, bete, baper pasti ada, tapi saya nggak punya alasan untuk menunjukkannya di muka umum, kan? Mesti kuat dong. Lagipula, yang lagi nggak enak itu cuma satu sisi kehidupan aja kok, selebihnya sangat bisa dinikmati dan disyukuri. Mental saya nggak goyah dan sisi perempuan saya tetap lembut. Saya malah menjadi lebih humoris sejak saat itu. Sampai sekarang, teman-teman mengganggap saya sebagai ‘si lucu yang nggak pernah sedih dan baper’ – meski sebenarnya nggak gitu-gitu amat sih.

Tujuh belas tahun setelah kepergian ayah, dan saya merasa bisa membuatnya bahagia. Meski sukses yang saya inginkan belum di tangan, saya merasa ayah bangga. Dulu, saya sering melihatnya berwajah cemas dalam mimpi-mimpi saya, tapi sekarang tidak lagi. Barangkali ia sekarang lebih tenang karena tahu anak perempuannya baik-baik saja setelah ia tak lagi menjaganya. Barangkali saat ini, ia sedang memamerkan kehebatan saya di depan malaikat-malaikat di surga, seperti dulu ia suka membanggakan saya di depan teman-temannya.

Hope you’re doing well in heaven,Dad. I love you to the moon and back.
Older posts Newer posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: