Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Category: Writing & Writerpreneurship (page 1 of 3)

21 Jangan di Media Sosial

Baik di dunia nyata maupun di dunia maya, kita tahu kita harus menjaga ucapan, pikiran dan  tindakan kita dalam berteman. Terutama di internet, akan jauh lebih baik jika kita paham tata cara bermedia sosial yang baik. Bagaimanapun, media sosial itu adalah tentang follower kita, bukan platform iklan, tempat jual drama, dan juga bukan forum keluhan. Buat pembaca media sosial menyukai postingan kita supaya follower bertambah banyak dengan cara yang benar.

Berikut ini, ada 21 JANGAN yang sebaiknya kita terapkan dalam platform kita:

Continue reading

Menemukan Inpirasi dalam Menulis

Tidak peduli seberapa cintanya kamu pada kegiatan menulis, akan selalu ada hari dimana kamu kehabisan inspirasi. Berikut 10 cara favorit saya menemukan kembali inspirasi baru dalam menulis:

Blog

Blog walking adalah salah satu kegiatan favorit saya, terutama ketika menunggu. Selain blog milik sendiri, ada puluhan blog bagus di luar sana yang menulis beragam topik. Saya suka membaca pemikiran dan pengalaman orang lain, ini menginspirasi saya untuk menulis lagi.

Continue reading

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading

Morning Pages

Duh, mana mungkin saya punya waktu buat menulis tiga halaman setiap pagi?

Itu reaksi spontan ketika pertama kali mendengar tentang Morning Pages-nya Julia Cameron. Rasanya siapapun akan bereaksi seperti saya… pada awalnya.

Dan saya senang bahwa ternyata saya salah.

Continue reading

Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?

Mengawali karier sebagai freelance writer sejak delapan tahun yang lalu, dan kemudian memulai bisnis penulisan, mengajari saya banyak hal. Ternyata benar bahwa kemampuan menulis cuma salah satu keahlian yang wajib dikuasai, jika ingin menjadi penulis freelance sukses.

Sama hal dengan jenis pekerjaan freelance lain, penulis freelance juga menjalankan bisnis sendiri. Dengan begitu, pekerjaan menulis bukan satu-satunya, sebab penulis freelance juga harus bisa mengatur banyak hal, mulai dariinvoice dan pembayaran, hingga marketing dan membangun jejaring.

Continue reading

Nggak Ada Waktu Buat Menulis

Kadang bosan ditanya “bagaimana caranya jadi penulis produktif?” atau “bagaimana cara mengatur waktu untuk menulis?” sebab selalu ada yang ngeyel tiap kali saya menjawabnya. Saya sih nggak pernah keberatan kalau ada yang berargumen, cuma kadang argumen penanya terasa defensif. Misalnya, ya…

“Ya, kan mbak Astrid enggak kerja (kantoran) jadi bisa punya waktu buat menulis.”
“Mbak enak, anak-anaknya udah pada gede. Anak saya kan masih kecil, nggak bisa ditinggal.”
“Duh, ibu-ibu kayak aku sih udah enggak ada waktu buat menulis. Harus masak, nyuci, nyetrika, ngurus anak dan suami. Habis deh waktunya.”

Oh, argumen-argumen penuh pemakluman begitu suka bikin saya kesal setengah mati. Continue reading

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading

Pseudonyms

Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀

Padahal nama pena atau pseudonyms adalah hal yang umum buat seorang penulis. Banyak penulis besar atau best seller yang tak menggunakan nama aslinya. JK Rowling, misalnya, bernama asli Joanne. Mark Twain dilahirkan dengan nama Samuel  Clemens, dan Multatuli adalah nama samaran dari Edward Douwes Dekker.

Lantas kenapa seorang penulis menggunakan nama pena? Alasannya beragam, ada yang karena ingin menyebrang genre, menjaga privacy dari penggemar, menjaga perasaan penggemar atau beralih penerbit.

Stephen King barangkali bakal ditinggalkan penggemarnya jika ia Continue reading

Older posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: