Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Category: Writing & Writerpreneurship (page 2 of 3)

Plot Outline vs Sinopsis

Apa perbedaan antara plot outline dan sinopsis? Pertanyaan ini banyak masuk ke kontak saya.

Di awal belajar menulis, saya juga kesulitan membedakan istilah-istilah tersebut. Lantas saya belajar bahwa sinopsis adalah ringkasan dari novelmu. Penerbit mungkin akan meminta kamu menulis sinopsis sebagai bagian dari proposal naskah. Jadi, sinopsis umumnya dibuat setelah naskah selesai ditulis.

Sedangkan plot outline adalah sesuatu yang harus dibuat sebelum menulis novel. Plot outline ini kemudian kita gunakan sebagai panduan selama proses penulisan untuk membantu kita mengingat bagaimana cerita tersebut ingin kita ungkapkan. “Plotters” atau penulis yang mengandalkan plot outline akan merencanakan isi novel terlebih dahulu. Merencanakan bagaimana novelmu akan ditulis ngebantu banget dalam mengurangi waktu menulis ulang naskahmu.

Continue reading

Working Without Seeing The Clock

Semalam saya mampir ke fesbuknya Elizabeth Gilbert. Dia salah satu penulis favorit saya. Memoarnya “Eat Pray Love” ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya membantu dirinya bangkit dari keterpurukan. Buku itu benar-benar menginspirasi saya untuk lebih berani menjadi diri sendiri.

Dalam fesbuknya, Liz banyak berbagi pemikiran, pengalaman dan tips penulisan. Satu posting menarik yang pernah saya baca adalah ketika ia menceritakan bahwa saat kreatifitasnya muncul, tak ada yang bisa menghentikannya. Ia tak peduli jika badannya bau, jika tak ada makanan di lemari es selama berhari-hari atau jika tumpukan pakaian kotor sudah menggunung.

Saya ingat, saya pun pernah ada dalam keadaan itu. Beberapa kali malah. Saya menyebutnya Working Without Seeing The Clock, namun belakangan saya tahu penulis luar menyebutnya Creative Mayhem. Nggak tau dalam bahasa Indonesia artinya apa, tapi barangkali terjemahan bebasnya “kekacauan dalam kreatifitas.”

Continue reading

70 20 10

Mentor saya suka ngeledekin saya pelit, sebab saya jarang bagi-bagi tipsmenulis. Mungkin dia benar, tapi saya punya alasan. Saya nggak pernah yakin bahwa cara saya menulis itu bagus atau bisa ditiru orang lain. Saya penulis yang santai, suka bersenang-senang, benci rutinitas dan tak nyaman dengan aturan ketat.

Beberapa teman, baik yang belajar menulis maupun yang kepo, juga menanyakan. “Mbak, kok kayaknya hangout terus tapi bukunya terbit terus,” atau “Mbak itu produktif banget nulis, padahal dari status-status FB, keliatannya luang banget.”

Ya, sebenarnya saya juga nggak paham kenapa dibilang suka hangout dan punya banyak waktu luang. Saya pernah nulis tentang deadline di blog lama, dan meski saya suka nyetatus “sedang banyak deadline” atau semacamnya, kebanyakan hanya pencitraan. (Hei, jangan mencibir dulu! Buat saya, media sosial memang dirancang untuk pencitraan, lagipula kata itu enggak negatif kan sebetulnya?)

Continue reading

Deadline Is My Lifeline

Saya sering bikin status FB begini:

“Wah, kurang tidur. Lagi deadline ketat nih!”

“Duh, deadline kian mendekat tapi ide nggak muncul-muncul juga”

“Sakit kepala malam ini disponsori oleh deadline ketat.”

Dan sejenisnya. Hehe, percayalah. Itu hanya pencitraan. Bukan kebohongan publik, sebab memang saya selalu punya deadline menulis tapi kenyataannya nggak drama-drama amat kayak di status-status itu.

Lantas, kok saya bisa tetap santai. Lagi deadline kok  sempet-sempetnya nulis status dan balas belasan komen di bawahnya. Lah, gimana ya? Kenyataannya memang saya santai kok meski deadline di depan mata.

Begini, saya itu nulisnya suka-suka, sesempatnya, semaunya. Saya menulis setiap hari. Apapun yang terlintas di otak, saya tulis. Entah itu, saat nunggu antrian CS di bank, menemani anak belajar atau nunggu mereka selesai les, atau ketika momen “enggak tau mau ngapain” muncul. Menulisnya juga nggak lama-lama. Dua menit, lima menit, setengah jam, yang penting tulis dulu.

Continue reading

Blurb

Blurb adalah informasi mengenai isi bukumu. Biasanya blurb dicantumkan pada cover belakang, dibuat dengan kata-kata menarik dan menyisipkan misteri di bagian akhir supaya calon pembeli bukumu penasaran. Dari blurb, mereka akan bisa memutuskan apakah jadi membeli bukumu atau tidak.

Blurb adalah bagian penting dari marketing bukumu. Sangat penting untuk mendapat perhatian pembaca. Blurb yang bagus dibuat sependek mungkin. Jika bukumu non fiksi, tuliskan fakta yang up-to-date, lalu beri sejumlah pertanyaan di bagian akhir. Jika kamu menulis novel, kamu bisa menghapus sub-plot, menambahkan ketegangan untuk membuat isinya lebih dramatis. Usahakan blurb novelmu tidak menyebut lebih dari dua nama karakter, dengan begitu pembaca akan semakin kepo lalu tak tahan membeli novelmu.

Continue reading

Mentor

Menulis itu kan bakat, kan… lantas kenapa juga perlu mentor?

Ada dua hal yang saya nggak setuju dari kalimat itu. Pertama, menulis itu perlu kerja keras. Sama dengan profesi-profesi lain, seorang penulis harus punya disiplin tinggi, keinginan untuk terus belajar dan juga latihan terus menerus. Kalau ada bakat, itu bagus. Kamu bisa lebih cepat dalam menciptakan karya. Kalau tidak, kamu tetap bisa punya karya hebat.

Kedua, seorang penulis sangat perlu (setidaknya) seorang mentor.  Enggak masalah apakah kamu penulis pemula atau penulis yang buku-bukunya best seller terus, kamu bakal mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki mentor.

Continue reading

Ditolak? Jangan Baper Ah…

Dalam dua tahun, delapan buku saya diterbitkan dan bisa dengan mudah dicari di toko buku.

“Wah, Astrid.. kamu hebat banget, ih”

Eh, bentar. Dalam dua tahun itu sebenarnya saya mengirim sekitar dua puluh naskah, dan delapan saja yang berhasil terbit. Lantas ke mana dua belas naskah lainnya? Ya, ditolak. Sekarang masih saya simpan di laptop dengan rencana suatu hari mau saya revisi dan kirim lagi ke penerbit lain.

Memang sedih dan terluka banget ya (tsah..) kalau sampai naskah yang udah kita tulis berbulan-bulan ditolak begitu saja oleh penerbit. Tapi mau bagaimana lagi? Itu hak mereka. Oya, omong-omong, selain penolakan-penolakan dari penerbit, saya juga pernah mengalami diketawain editor karena kesalahan riset naskah, dimarahin klien ghostwriting, ditinggal kabur tanpa dibayar padahal naskah sudah setengah jadi, didepak dari proyek impian tanpa alasan jelas, naskah yang telanjur jual putus ternyata dicetak ulang dan saya nggak dapat bagian. Ya, gitu deh. Kebayang kan bete-nya.

Continue reading

Gimana Sih Cara Nulis Buku?

Menulis itu mudah. Yang harus kamu lakukan adalah mencoret kata-kata yang salah –Mark Twain

Pertanyaan itu hampir selalu ditanyakan ke saya oleh mereka yang tahu saya penulis, atau ingin bisa menulis (seperti saya, haha…). Barangkali, seperti beberapa teman penulis, saya akan menjawab malas dengan “Menulis itu mudah kok!” dan jawaban ini mirip template default sebab kenyataannya menulis itu tidak mudah.

Bagian tersulit bagi kebanyakan penulis bukanlah menerbitkan bukunya, apalagi sekarang ini ada lebih banyak peluang untuk menjadi penulis daripada sebelumnya. Saya bisa bilang, menerbitkan buku bukan bagian yang harus saya lakukan dengan kerja keras, melainkan penulisan itu sendiri.

Continue reading

Older posts Newer posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: