Compliments

Dua hari lalu saya potong rambut. Begini komentar teman baik saya;

“Ih mbak…rambut baru ya?! Bagus banget. Cocok sama bentuk muka mbak”

“Masa sih? Padahal aku sebel nih soalnya pipiku jadi kelihatan chubby gitu”

Lalu, ia berkata begini;
“Mbak, pernah gak mbak ngasih kado dengan tulus ke seseorang, eh dianya malah ngelemparin kado itu ke mukanya mbak?” dan dia berlalu dengan cemberut.

Yup! I am being egostical (again)!

Saya salah. Dia pantas marah dan cemberut begitu. Ini sama seperti dulu saya pernah dipuji teman lain saat mengenakan baju baru dan saya membalas pujian itu dengan “Ah, ini bajunya murah kok, beli diskonan di Malioboro” –- pdhal: (1) siapa yg tanya dimana saya beli baju dan (2) why not just say “THANK’S” – jelas lebih mudah dan menyenangkan semua pihak.

Begitulah, kadang memang susah mengatakan TERIMA KASIH. Mungkin karena ego saya yang kelewat besar sehingga saya merasa harus selalu menjadi pusat perhatian dan gak pedulian sama orang-orang di sekeliling saya. Saya jadi mikir, misalnya saya menyelamati Chris John atas kemenangan KO-nya, pastinya dia gak akan bilang “Ah, pukulan tadi untung-untungan kok.” Sebaliknya dia akan bilang “terima kasih.”

Juga, katakanlah saya memuji Gigi atas penampilan suksesnya di Jogja 11 januari lalu. Armand Maulana gak akan bilang “Gila apa lo. That concert was junk!” – sebaliknya, dia akan bilang “Makasih.” Sebab seperti orang-orang sukses lainnya, Chris dan Arman sangat menghargai usaha mereka sendiri, dan mereka sudah begitu sejak belum sukses, dan untuk menjadi suskes. Dan seperti semua orang, mereka butuh dihargai.

Intinya, saya musti mulai belajar tentang healthy self-love. Artinya saya harus mulai bisa menghargai diri sendiri. Saya gak perlu ge-er dan salting tiap mendapat pujian sebab saya yakin sama kemampuan sendiri. Temen baik saya benar, pujian itu mirip hadiah, perlu tenaga dan pikiran untuk memuji seseorang, jadi pastinya sangat mengecewakan kalo dilempar balik ke muka kita.

I will try to accept compliment gracefully. Jadi kali lain, saat teman saya memuji penampilan, saya gak akan lagi membalas dengan “Tapi kan, bibir gw dower dan perut gue gendut”. Secara cuma bikin dua pihak jadi enggak nyaman -– lagian saya gak mau seumur hidup teman saya itu jadi mengingat saya sebagai si bibir dower berperut gendut yang gak bisa berterima kasih.

Facebook Comments

Leave a Reply