Books I Like,  Random Thoughts

Cuti Medsos dan Seni Beres-Beres

IT’S 2017. SELAMAT TAHUN BARU!

Desember lalu menyenangkan banget. Pertama, saya berhasil mengatur agar tak ada satupun order kerjaan masuk untuk bulan tersebut. Tujuannya agar tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya masih harus berjibaku dengan naskah-naskah yang belum kelar di masa liburan. Akibatnya liburan tak nyaman, dan anak-anak tak menjadi perhatian. Meski minggu pertama Desember saya masih menyelesaikan beberapa hal, bobotnya ringan-ringan saja. Dan tiga minggu berikutnya, saya benar-benar puas menghabiskan liburan bareng keluarga.

Nusa Lembongan dan kebun teh di Karanganyar adalah tempat liburan pilihan kami kali ini. Menghabiskan hampir satu minggu di pulau indah itu, menikmati segala aktivitas pantai dan laut, berjemur di bawah matahari (yang terakhir sok-sok saja sih, biar kayak bule, hehe). Sementara menghabiskan seharian di kebun teh di lereng gunung Lawu bikin fresh jiwa dan raga banget.

Ada yang beda dengan liburan kali ini (selain tanpa gangguan kerjaan tentunya). Saya memutuskan cuti medsos.

Iya, saya tak membuat status apapun di Facebook, juga tak banyak berkicau di Twitter kecuali promo buku baru. Upload foto di IG hanya beberapa saja, selebihnya saya menikmati kebebasan. Dan bebas dari medsos itu ternyata ngasih efek luar biasa lho.

Awalnya saya membaca postingan di FB tentang remaja putri siswi SMA di Banyuwangi yang mematikan ponselnya selama 10 hari. Saya lupa namanya, tapi kritik viral-nya itu menginspirasi banget. Tak lama kemudian, saya membaca artikel ini. Intinya sama, membebaskan diri dari medsos. Lantas saya pun tertantang untuk mendetoks diri, sebab mulai sebal dengan para pengunggah status medsos belakangan ini.

Setiap kali membaca postingan negatif, rasanya energi seperti disedot vacum cleaner keluaran Jaco Home Shopping yang mampu mengangkat semangka utuh itu. Saya jadi lelah hati, dan lelah fisik. Sialnya, postingan semacam itu bersliweran di mana-mana. Saya bukan satu-satunya orang yang mengeluhkan hal ini, itu sudah pasti. Dan saya juga nggak mau jadi pengeluh yang tak melakukan apapun.

Karena tahu saya tak mampu mengerem ujaran kebencian, maka saya pergi saja dari lingkaran tersebut, Saya uninstall aplikasi FB dan Twitter dari ponsel (iya, medsos saya hanya itu), sehingga tak sedikit-sedikit cek medsos. Jika pun harus cek, saya harus buka laptop. Untungnya tak ada garapan naskah, sehingga waktu saya untuk buka laptop sangat berkurang. Timing-nya tepat.

Tapi seperti kecanduan lainnya, saya lumayan ‘menggigil’ di hari-hari pertama detoksifikasi. Lantas saya memutuskan berbuat sesuatu agar tak kepikiran terus. Beruntungnya, saya dibelikan buku seni beres-beres ala Jepang ini oleh suami. Dari dulu pingin banget buku ini, namun suka lupa menitip ke teman-teman yang ke luar negeri. Senangnya waktu akhirnya buku ini masuk Indonesia. Meski biasanya saya lebih memilih membaca buku berbahasa Inggris, terjemahan buku ini sangat baik. Saya nggak puyeng bacanya.

Menariknya buku ini adalah penulisnya mengajari kita cara-cara menakjubkan dalam membereskan barang-barang. Seperti tertulis dalam buku, awalnya saya pun sempat prejudis, “ngapain beres-beres rumah saja pakai teori segala?” Dan segala rasa tak percaya saya hilang ketika membaca bab-bab awal buku ini. Saya kagum bagaimana sang penulis menjabarkan teorinya, memberi ilustrasi praktek dan juga tips-tips yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam benak saya.

Tak hanya itu, penulis juga mengajari kita cara menghormati setiap barang yang kita miliki. Pakaian misalnya, cara kita melipatnya saja dapat menunjukkan seberapa besar rasa hormat kita pada barang yang telah mengabadikan dirinya untuk melindungi tubuh kita dari cuaca dan rasa malu. Menarik banget karena unsur budaya Jepang begitu kuat di sini. Saya suka sikap menghormati barang-barang ini, sebab akhirnya dapat membantu kita menghormati segala hal dalam hidup kita.

Tentunya ada beberapa hal yang kurang saya setujui juga. Misalnya, membuang barang. Berkali-kali penulis menegaskan bahwa barang-barang yang tak terpakai harus dibuang hari itu juga, secepatnya. Barangkali karena di Jepang ada badan pemerintah yang secara khusus melayani pembuangan barang. Tinggal telepon, mereka datang dengan truknya, lalu kita membayar jasanya.

Bisa juga karena konon kata teman-teman yang pernah tinggal di Tokyo, orang Jepang biasa meletakkan barang-barang tak terpakai di depan rumah dan membiarkan siapa saja mengambilnya, termasuk tivi, sofa, kulkas, komputer yang masih berfungsi dan branded. (Seorang teman suka mengambili barang-barang semacam ini, memperbaiki dan membersihkannya, lantas menggunakannya sendiri. Maklum, ia mahasiswa ber-budget pas-pasan)

Biar tak setuju-setuju amat, pemikiran si penulis berhasil membuat saya mengumpulkan lebih dari setengah tumpukan barang di rumah tanpa membuangnya begitu saja. Buku, mainan dan pakaian layak pakai saya sumbangkan ke panitia donasi bagi korban gempa di Aceh. Sedangkan sisanya, saya loakin. Lumayan dapat beberapa rupiah buat traktir anak-anak makan mie bakso kesukaan mereka.

Oya, rumah saya jadi jauh lebih rapi lho. Belum semua sih, baru ruang tamu, ruang keluarga, dan meja kerja. Januari ini saya akan terus mempraktekan teori KonMari itu biar rumah nggak kayak kapal pecah lagi 🙂

Facebook Comments

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: