Deadline Is My Lifeline

Saya sering bikin status FB begini:

“Wah, kurang tidur. Lagi deadline ketat nih!”

“Duh, deadline kian mendekat tapi ide nggak muncul-muncul juga”

“Sakit kepala malam ini disponsori oleh deadline ketat.”

Dan sejenisnya. Hehe, percayalah. Itu hanya pencitraan. Bukan kebohongan publik, sebab memang saya selalu punya deadline menulis tapi kenyataannya nggak drama-drama amat kayak di status-status itu.

Lantas, kok saya bisa tetap santai. Lagi deadline kok  sempet-sempetnya nulis status dan balas belasan komen di bawahnya. Lah, gimana ya? Kenyataannya memang saya santai kok meski deadline di depan mata.

Begini, saya itu nulisnya suka-suka, sesempatnya, semaunya. Saya menulis setiap hari. Apapun yang terlintas di otak, saya tulis. Entah itu, saat nunggu antrian CS di bank, menemani anak belajar atau nunggu mereka selesai les, atau ketika momen “enggak tau mau ngapain” muncul. Menulisnya juga nggak lama-lama. Dua menit, lima menit, setengah jam, yang penting tulis dulu.

Selalu ada notes dan bolpoin di tas, dan kalau pun tidak, nota-nota belanja di dompet pun jadi. Kalau malas atau tempatnya enggak banget buat menuis, ponsel bisa saya suruh merekam ide. Jika masih malas, saya merekam semua yang saya lihat di otak, dan kemudian meluangkan beberapa menit di rumah buat menuliskannya sebelum lupa.

Nah, jadi. Saat saya butuh ide-ide buat tulisan saya berikutnya, saya sudah punya bank ide. Ini alasan kenapa deadline nggak pernah menakutkan buat saya. Misalnya pun saya harus menulis naskah dalam waktu satu bulan, biasanya saya hanya mengembangkan ide yang saya punya itu jadi seratus lima puluh halaman. (Trik-nya saya tulis kapan-kapan)

Oya, saat belum memutuskan membangun bisnis penulisan pun, saya sudah sering bikin tulisan. Target saya waktu itu, sehari harus ada satu halaman A4 tulisan, entah calon cerpen/novel atau pemikiran yang bisa saya jadikan landasan penulisan non fiksi. Saya juga suka menuliskan kutipan-kutipan pada sebuah buku catatan. Kenapa enggak di komputer? Simpel aja, saya memang rada aneh 😀

Enggak ding. Saya mengingat sesuatu dengan cara kinetik. Ahli psikologi bilang manusia mengingat atau menghapal dengan tiga cara. Visual (dengan mata), audio (dengan teliga) dan kinetik (dengan gerakan). Nah, saya termasuk yang terakhir. Cara mengingat saya adalah dengan menulis ulang segala sesuatu. Saya jarang ingat apa yang saya baca atau dengar, tapi jika sudah ditulis (dengan tangan, bukan diketik di komputer) saya bisa mengingat hingga bertahun-tahun kemudian.

Oke, balik lagi ke deadline. Kadang saya dianggap nggak profesional (oleh teman-teman penulis) karena tidak terlihat punya deadline. Kok bisa sih produktif menulis tanpa tenggat waktu? Masa menulis bisa semaunya? Menulis tuh harus ada jadwalnya. Tapi mereka  juga bingung, santai-santai kok bukunya terbit terus (FYI, tahun ini 5 buku saya terbit lho… iya, memang pamer kok, hehe…)

Iya, saya punya jadwal kapan tulisan saya harus selesai, tapi saya nggak suka tertekan karena hal itu. Bukankah tujuan saya menulis adalah untuk bersenang-senang? Menghibur diri sekaligus menghasilkan uang? Jika saya tertekan, bagaimana saya bisa bersenang-senang menghasilkan uang?

Setiap penulis punya style. Masing-masing berbeda, ada yang baru bisa tune-in menulis jika deadline-nya tinggal beberapa hari, ada juga yang disiplin memenuhi target harian meski sedikit. Jadi, saya enggak pernah merasa bersalah atau malu karena terlihat santai-santai tanpa deadline. Menulis tanpa deadline bukan berarti tulisan tak laku atau kamu bukan penulis produktif. Hanya masalah cara. Mungkin kamu termasuk penyuka deadline karena bisa memicu adrenalin atau seperti saya yang memilih santai-santai saja. It’s a matter of choice. Pilih yang buat kamu paling nyaman dan paling happy ketika menulis, bukan tertekan 🙂

Facebook Comments

Leave a Reply