Saya enggak mudik, sebab memang tak punya kampung halaman.

Sejak kecil saya terbiasa nomaden, hidup berpindah-pindah, mengikuti ayah yang berdinas di beberapa pulau berbeda. Sebenarnya saya punya keluarga besar di Bandung dan Jakarta, mereka sering ngumpul di salah satu kota itu setiap tahun. Hanya saja saya lebih sering absen, sebab keluarga inti saya, ibu dan adik-adik, ada di Jogja. Keluarga mertuapun tinggal 60 kilometer saja dari rumah, jadi tak bisa benar-benar disebut mudik.

Makanya dari dulu saya menyukai program TV yang rutin melaporkan arus mudik dan arus balik. Saya mencoba merasakan atmosfirnya, mencoba berempati pada mereka yang bela-belain pulang kampung naik motor berempat atau lebih. Sebab saya tak pernah mengalaminya.

Terus terang, saya termasuk yang rewel dalam hal bepergian jauh. Kendaraan adalah yang selalu membikin saya menjadi cerewet. Berkali-kali saya ke Jakarta, baik untuk urusan kerja maupun mengunjungi sanak keluarga, dan saya selalu menghadapi dilema.

Naik pesawat? Saya punya  persoalan dengan movement sickness. Iya, ini kata keren untuk bilang mabok udara. Memalukan memang. Makanya, jika tak harus buru-buru, saya malas naik pesawat. Nyetir mobil? Capek dan stress. Naik bis malam? Saya susah tidur karena skeptis sama supir bis yang barangkali menegak nipam berulang-ulang selama perjalanan.

Maka kereta api pagi menjadi yang paling nyaman buat saya, sebab bisa tidur siang, dan ini sama artinya dengan memiliki ekstra jatah tidur. Risiko terberat adalah kebagian gerbong dengan AC tak dingin atau duduk bersebelahan dgn tukang tanya-tanya.

Meski begitu saya kekeuh untuk tidak jajan selama di perjalanan. Saya paranoid karena pernah apes membeli bakpia apek dan wajik Nyonya Week kadaluarsa di stasiun Tugu. Juga sakit perut setelah memesan makanan di Argo Lawu. Sejak itu, saya hanya percaya pada air mineral bersegel yang saya beli di mini market.

Berbeda dengan seorang kawan yang merasa nasi goreng restorasi ArgoLawu itu super enak, saya bahkan ogah menyentuh teh manis atau kopi hangat yang ditawarkan pramugari kereta. Saya telanjur prejudis, berpikir bahwa minuman-minuman manis itu hanya campuran dari sisa-sisa gelas orang lain. Manis perlu dicurigai, seperti senyum pria hidung belang, ia bisa menyamarkan. Apalagi di perjalanan.

Apapun, transportasi bisa jadi persoalan bagi setiap orang. Ia adalah sesuatu yg memungkinkan kita berpindah dari satu ke lain tempat. Transportasi tercipta akibat kebutuhan (dan kemampuan) manusia untuk bergerak. Dalam makna luas, transportasi adalah prilaku manusia dalam bergerak. Maka bisa dipahami bahwa setiap perjalanan punya cirinya sendiri yg membikin kita layak waspada. Perjalanan mirip sebuah keadaan non permanen, tak ada kesetiaan dan tanggung jawab di sana.

Dan itu membuat saya salut pada teman-teman yang setia pada kebiasaan mudik di hari raya. Meski harus berpayah-payah, mereka tetap mampu menikmatinya. Barangkali ini bukan masalah perjalanan, ini masalah bertemu dengan orang-orang tercinta di akhir perjalanan itu sendiri.
Facebook Comments