Great Enemy

Katakanlah saya jadul, tapi saya suka kisah klasik Mahabarata. Kayaknya ini gara-gara waktu kecil, taman bacaan dekat rumah punya koleksi lengkap komik Mahabarata-nya R.A Kosasih. Meski kalau harus menceritakannya secara lengkap saya gak bisa, tapi saya masih terkesan dgn ending dari epik ini, sebab gak ‘happily ever after’. Sebaliknya, diakhiri dgn perginya kelima Pandawa, yg memenangi perang Barathayudha, ke gunung Mahameru utk bertapa. Dlm perjalannya, satu per satu tokoh Pandawa mati, yg tersisa hanya Yudisthira dan anjingnya.

Bertahun-tahun kemudian baru saya tahu mengapa mereka dimatikan di akhir cerita. Dalam dunia yg sempurna, kebaikan dan keburukan harus selalu tampil bersama. Ketidak seimbangan justru akan terjadi saat salah satunya hilang. Para Pandawa harus dimatikan sebab sulit buat mereka terus eksis tanpa kehadiran para Kurawa yg telah mereka kalahkan mati-matian itu. Dan kekalahan itu adalah tragedi dari kisah itu sendiri. Konon kemudian kisah Mahabarata dibuatkan sekuelnya yaitu kisah Kurawasrama, dimana tentara Kurawa kemudian dihidupkan lagi dan perang dimulai lagi. Good must exist, but so must too evil.

Logis juga, sebab apalah artinya kemenangan tanpa mengenyahkan musuh utama? Seumur hidup, Spiderman cuma akan meringkusi pencopet jalanan kalau Green Goblin gak pernah muncul. Bruce wayne gak akan repot-repot menjadi Batman tanpa kehadiran Joker, Pinguin atau Catwoman. Dan Superman? Tanpa Lex Luthor — pastinya akan terlihat tolol dgn cawat merahnya.

Tapi buat saya musuh terbesar masih adalah diri sendiri, begitulah.

Facebook Comments

Leave a Reply