Hate at the First Sight (Part 1)

Saya sedang kepingin membenci seseorang, sebab dia juga benci sama saya. Saya mengerti banget alasan dia benci saya, hanya tak bisa paham mengapa rasa tak sukanya sebesar itu.

Unfollow atau blokir medsos merupakan cara termudah menyampaikan pesan kemarahan atau menabuh genderang perang. Beres!

Saya pun menerima pesan semacam itu dari beberapa orang. Kesal sih, sebab saya pikir seharusnya masalah mereka dengan saya bisa didiskusikan. Saya akan lebih respek jika mereka mengatakan terus terang bahwa kehadiran saya mengganggu hidupnya. Dengan begitu, mudah buat saya dan mereka menyelesaikan masalah. Saya justru akan melihat mereka sebagai pengecut ketika tanpa blablabla “mengenyahkan” penampakan saya dari medsosnya.

Pun begitu, saya tetap nggak bisa benci mereka balik. Otak saya mengatakan demikian, tapi suara-suara kecil di hati terus menyuruh saya memahami perasaan dan keadaan mereka. Dan saya lebih sering nurut sama suara-suara itu. Sebab otak kadang terlalu canggih untuk dipercaya 🙂 . Dan otak saya yang kebanyakan mikir ini sekarang sedang protes. Ia mengajukan pertanyaan (sok) logis:

Why do that person hate me and why can’t I do the same?

Lantas, demi membuat otak orgasme, saya segera Google search artikel-artikel tentang ini. Ada satu tulisan yang muncul di daftar pencarian, dan saya suka banget:

Don’t take peace for granted and undervalued.

Terjemahan bebasnya, jangan meremehkan dan merendahkan kemampuan kita memiliki perasaan damai. Telak banget! Sebab itu yang sedang saya lakukan. Meremehkan kemampuan sendiri.

Sebab saya nggak menyadari bahwa buat sebagian orang, perasaan damai itu sesuatu yang harus mereka dapatkan dengan usaha keras. Sedangkan saya? Saya memilikinya. Tumbuh begitu saja, entah sejak kapan.

Tulisan dalam artikel itu juga menyebutkan ciri-ciri seseorang yang diberikan anugerah berupa kedamaian adalah:

  • Gampang menemukan hal-hal baik, indah dan menyenangkan dari sekitarnya
  • Mampu tidur nyenyak di malam hari tanpa mimpi buruk
  • Merasa bahagia untuk diri sendiri dan orang lain, bahkan pada orang-orang yang kita pikir benci sama kita.

Ah, tentu kalau bilang punya tiga hal tersebut, saya akan dianggap membual. Ya gak apa-apa sih, toh saya nggak perlu meyakinkan siapa-siapa. Yang jelas ketika seseorang menunjukkan rasa benci secara terang-terangan, misalnya dengan ngejutekin, menghina halus di Twitter atau mendadak memblokir akun Facebook, sulit banget buat saya lantas membencinya balik atau masuk ke balas dendam mode on. Paling banter, saya menyumpahinya dengan beberapa mantra kutukan di hari pertama saya tahu sikapnya, hehe…

Sebab buat saya, jika seseorang tak menginginkan saya dalam hidupnya, maka saya akan menghormati diri sendiri apabila saya tidak memaksakan tetap berada dalam lingkarannya. Menjaga jarak yang tepat dengan seseorang bukanlah kebencian, itu adalah moving on tanpa merasa harus lekat dengan masa lalu. Sok bijak, ya?

Iya sih. Tapi daripada memenuhi diri dengan rasa kesal karena tiba-tiba dibenci, saya lebih senang memaafkan diri sendiri. Sebab diri sendiri kadang menyalahkan saya karena tidak bersikap baik pada orang tersebut hingga mereka membenci saya. Dan saya nggak suka disalah-salahin kayak gitu sama diri sendiri. (See? My brain is really annoying! 😀 )

Pagi ini, seorang kawan yang tinggal jauh di negara lain, mengatakan sesuatu yang bikin saya paham. Dia bilang ”(you confuse why you can’t hate someone)  because this is new feeling that you need to embrace. Neither you nor your feeling is wrong but the take it as something you need to learn

Yeap! I was hurt by these people, but they’re my lesson. Mereka kasih saya pengalaman baru, bukan pengalaman menyenangkan tentunya, tapi mendorong saya merasakan lebih banyak kedamaian. Dan seperti semua hal dalam hidup, sebuah hubungan juga bisa kedaluwarsa. Pesan benci mereka sesederhana mengatakan bahwa kisah kami sudah selesai. Our story has reached an end.

Facebook Comments

Leave a Reply