Ibu

Apa logika fashion show dengan penghormatan kepada kaum ibu?

Emang gak ada. Itu cuma ide para perancang busana yang dijelmakan sebagai komoditas pusat belanja terbesar di Jogja. Dan orang kayak saya yang (sok) feminis akan segera menganggapnya konyol. Padahal, hal begitu tidak menghinakan perempuan. Hal begitu hanya memberi alasan untuk merayakan hedonisme. Tak ada relevansinya dengan penghormatan terhadap seorang ibu. Kalaupun ada, tentunya lebih kepada narsisime sang ibu, bukan dedikasi atau komitmennya, maka sebenarnya hal begitu tidak jahat, bahkan sebaliknya mencoba menghormati perempuan.

Pertanyaannya, penghormatan macam apa?

Ada masa dimana pemujaan terhadap dwi peran perempuan disimbolkan dengan seorang perempuan bertangan banyak; memegang sapu, piranti masak, bayi, sampai tas kantor dan segala perlengkapannya. Belakangan, para feminis menyerang pengkultusan super woman ini, sebab menjebak perempuan dalam nilai ideal yang mustahil dipenuhi.

Dan inilah, problem wanita karier: tuntutan berperan ganda. Perkawinan tidak mau membebaskannya. Pasti ada satu titik dimana dia harus memilih antara menjadi ibu atau berkarier. Mungkin di negara kita, seorang perempuan bisa dengan bangga mengatakan dia mampu menjalani kedua peran itu – sebab dia punya pembantu yang menjaga anaknya dengan upah rendah. Kemiskinan memang menguntungkan. Sebab di negara yang tak miskin, pekerja kelas menengah gak mungkin menggaji penjaga bayi 24 jam.

Satu hal lagi, di negara ini, kalaupun perempuan bekerja gak mampu menggaji pembantu utk anak-anaknya. Mereka selalu punya IBU yang dengan penuh suka cita dan tanpa pamrih mau mengopeni cucu-cucunya.

SELAMAT HARI IBU!

Facebook Comments