Indoglish

Fenomena anyar berusia empat belas tahun bernama Cinta Laura Khiel itu spt magnet buat saya. Tapi gak tau kenapa setiap kali melihatnya di infotainment, saya jadi teringat seorg teman lama. Dia kecil dan kurus spt Cinta, dan dia bukan indo. Dia lahir di dusun kecil di Jepara, suaminya blasteran Jerman-Irlandia dan saat ini mereka berdomisili di Boston. Sejak menikah, dia lebih suka bertank-top dan jeans ketat dgn rambut burnett bergelombang. Dia pun lebih nyaman berbahasa Indonesia dgn logat bule plus sisipan bahasa Inggris di mana2. Mirip Cinta, namun dgn aksen Jawa yg medhok. Dan, saya menyebutnya kebarat-baratan.

Kebingungan saya adalah, saya gak terpikir utk menyebut para bule yg ramai-ramai belajar yoga dan meditasi sebagai ketimur-timuran. Richard Gere yg berpindah ke keyakinan Budha pun terlihat keren buat saya. Dlm suatu acara di keraton, seorang mahasiswi bule yg menari Serimpi dan Bedhoyo terkesan begitu mengagumkan. Sepuluh tahun saya sudah mengajar bule-bule berbahasa Indonesia, dan saya menganggap mereka hebat setiap kali mereka mampu mengucapkan kalimat dgn benar –- padahal cara bicaranya hampir sama dgn Cinta; “udah ujhan gak ada ojhek dimana-mana bechek..”

Mungkin itulah hebatnya sikap bawah sadar, ia mengendalikan pikiran tanpa kita sendiri menyadarinya. Semua yg berasal dari barat selalu kelihatan baik, bahkan hal-hal memukau dari timur yg dilihat oleh barat juga jadi kelihatan memukau buat kita. Ini sejenis orientalisme.

Mungkin saya menderita kompleks bangsa terjajah atau spt istilah teman saya “Bule-minded”, sebab saya cinta Cinta Laura Kiehl tapi sebal sama teman saya dari Jepara itu. Saya juga menulis cerita bohong dlm situs blog buatan sendiri dgn bahasa gado-gado Indoglish, tapi kadang sok nasionalis.

Well, saya kira sbg bangsa yg besar kita harus concern dgn crisis identity ini dan gak menyikapinya dgn taked for granted. Gak perlulah kita tiru bule-bule itu, you know

Facebook Comments