Random Thoughts

Kamu Liburan atau Traveling?

Jauh sebelum Rangga menjelaskan ke Cinta di AADC2 tentang bedanya traveling dan liburan, saya sudah baca quotes Paul Theroux ini. Ia adalah seorang writer traveler yang terkenal dengan bukunya The Great Railway Bazaar (Saya sudah baca ini, sayang bukunya hilang. Yang pinjem, balikin woooy!)

Dan karena sudah baca, saya nggak pernah menyebut diri suka traveling. Sebab saya hanya satu kali melakukan perjalanan tanpa tujuan. Sisanya saya sebut liburan. Ini kenapa saya suka sinis sama orang-orang yang menyebut dirinya traveler atau hobi traveling, tapi sebenarnya liburan (dan umumnya sebagai turis)

Memang beda ya antara traveling dan liburan?

Sama-sama mengunjungi daerah baru sih, tapi cara dan tujuannya beda. Hal ini juga pernah dikonfirmasi traveler Indonesia, Trinity, sewaktu saya mendapat kesempatan ketemu di acara launching buku. Beberapa hal yang ketara banget beda misalnya:

Prioritas dan Tujuan

Liburan berarti menikmati destinasi wisata, mengunjungi semua tempat yang ada dalam daftar objek wisata. Pemandangan alam, akomodasi dan transportasi serta kuliner menjadi penting, sebab dengan begitu liburan baru bisa dinikmati. Jika pemandangan alamnya tak indah, fasilitas tak memadai dan kulinernya tak enak, umumnya kita merasa sudah melakukan liburan yang buruk.

Seorang traveler umumnya lebih tertarik mempelajari budaya lokal dan bahasa setempat. Mereka mencari tempat-tempat yang belum banyak pengunjungnya. Kalau perlu, tak tercantum di daftar objek wisata. Mereka mengobrol dan membaur dengan penduduk untuk mendapatkan pengalaman baru. Ini kenapa mereka tak keberatan tidur seadanya, berdesakan di angkot, atau makan di tempat makan mana saja yang bisa mereka temui selama perjalanan.

Cara Bepergian

Orang yang berlibur umumnya memiliki itinerary jelas. Mau menginap di hotel mana, berapa lama, daftar destinasi wisatanya ke mana saja, tiket pesawat PP sudah di tangan, dan lain-lain. Selama di tempat kunjungan, umumnya mereka mengandalkan pemandu wisata atau sekalian mengambil paket tur lengkap atau sewa mobil seharian. Dengan demikian, mereka tak repot dan kebingungan lagi. Kan liburan, masa harus ngurusi begituan?

Seorang traveler umumnya tak memiliki persiapan semacam ini. Misalkan mereka ingin pergi ke Sulawesi, ya sudah, mereka pergi ke sana. Tak pesan tiket balik, tak tahu berapa lama mau di sana, menginap di mana saja, tak keberatan berbagi kamar jika semua penginapan di destinasi wisata sudah penuh, jalan kaki atau naik angkot, dan lebih suka ngobrol dengan penduduk lokal untuk mencari tahu tentang objek wisata ketimbang tanya pemandu.

Kamera

Nah ini nih yang suka bikin saya geli sendiri. Mengaku traveler tapi yang ia lakukan selama di tempat wisata hanyalah memotret sebanyak-banyaknya, lantas buru-buru mengunggah ke media sosial. Saya juga suka ketawa kalau lihat mereka yang tampilannya mirip etalase kamera DLSR berjalan, dan masih sibuk dengan kamera ponsel, tongsis dan segala macam pernak-pernik fotografi lainnya. Nggak masalah kalau menyebut dirinya liburan, sebab orang yang sedang liburan cenderung mengabadikan momen.

Dan itu termasuk foto selfie. Sering lihat kan, begitu turun dari kendaraan wisata, orang-orang sibuk banget berhamburan ke sana kemari mencari spot keren untuk dijadikan latar belakang foto. Sekecil apapun momen liburan rasanya harus untuk diabadikan, sebab belum tentu mereka bisa mengulanginya. Maka hunting foto menjadi penting. Saya juga gitu, kok.

Dan yang sering saya lihat, traveler tidak melakukan hal tersebut. Barangkali mereka memotret, tapi tak harus di setiap spot dan jumlahnya tak harus ribuan. Sebaliknya mereka kelihatan santai, ngobrol dengan penduduk atau berlama-lama menatap keindahan. Seolah sedang merekamnya dalam otak, dan mata adalah lensa kameranya.

Rombongan Vs Sendirian

Traveler cenderung pergi sendirian, atau dalam kelompok kecil berjumlah maksimal 2-3 orang. Mereka juga hanya bawa ransel berisi pakaian secukupnya. Sementara liburan biasanya diisi banyak orang yang pergi berkelompok, entah itu rombongan keluarga, teman, atau perusahaan. Umumnya, meski juga pakai ransel dan menyebut diri backpacker, bawaannya banyak.  Bawaan ini cenderung bertambah saat pulang, sebab merasa perlu beli oleh-oleh. Traveler biasanya nggak beli oleh-oleh dan cenderung menghindari pusat oleh-oleh. Mereka lebih tertarik keluar masuk pasar lokal, membeli satu dua barang kecil yang dianggap unik sebagai kenang-kenangan akan perjalanannya.

Pakaian dan Perlengkapan

Orang yang liburan cenderung mengenakan pakaian yang memberi tahu orang lain bahwa mereka sedang liburan. Entah itu kaos seragam berlogo perusahaan atau grup, tanktop dan celana super pendek biar kayak bule atau pakaian lain yang terlihat eksklusif, beda dari sekitarnya. Saya sering perhatikan gaya berpakaian turis wanita Jepang atau Korea yang chic sekali. Celana capri, baju tipis longgar, aksesoris berkilau, kacamata hitam super besar, dan topi lebar. Tapi itu gak seberapa sih dibandingkan mereka yang pakai kaos bertuliskan I Love Bali selama liburan di Bali.

Traveler umumnya tak pusing mengenai pakaian. Mereka biasanya hanya bawa sedikit baju, mengenakan pakaian yang paling nyaman, bahkan jika mungkin menyesuaikan diri dengan gaya berpakaian orang lokal.

Nah, satu lagi nih. Setelah kembali dari tempat wisata, orang yang liburan cenderung memamerikan ratusan foto di jejaring sosialnya, sementara traveler pulang membawa lebih dari sekedar foto. Mereka membawa pulang wawasan, cara pandang dan pengalaman baru. Beberapa menuliskan kisah perjalanan menjadi artikel atau buku. Sebab bagi traveler, pengalaman jauh lebih penting.

Apa itu berarti traveler lebih baik daripada mereka yang lebih suka liburan?

Pastinya enggak. Lha wong, saya sendiri lebih suka liburan daripada traveling, kok. Sebab lebih cocok buat saya yang kecanduan perencanaan. Bepergian tanpa tujuan dan bersiap menghadapi kejutan selama perjalanan, bukanlah gaya saya. Pernah mencoba sekali, dan tak nyaman. Makanya saya nggak pernah menyebut diri hobi traveling atau backpackeran, lagian saya lebih memilih bawa koper.

Dan saya nulis ini sebab sebal dengan mereka yang heboh menganggap dirinya traveler atau backpacker, padahal sebenarnya berlibur sebagai wisatawan. Lebih sebal lagi karena biasanya mereka pasang foto-foto bagus yang bikin ngiri. Nggak heran lah kalau beberapa sahabat menjuluki saya siti sirik.

Facebook Comments

4 Comments

    • Astrid Savitri

      Barangkali yg saya ributkan cuma masalah terminologi, sebab baru-baru ini jengkel dengan seseorang yg kekeuh ngaku traveler (kayak Trinity) tapi ngeluh waktu harus “liburan dalam kondisi seadanya,” hehe…

      Thanks udah berkunjung, mas Denni ^_^

  • Wulan

    Ooooo….

    Aku ndak nonton dik Rangga, ndak baca bukunya mas Paul juga, jadi baru paham sekarang.
    In this case aku termasuk mlaku mlaku seret koper,
    benci aku kalo sampek tujuan ndak dapet kasur empuk adem ayem ^_^

    *hihihihi… rewel me

    • Astrid Savitri

      Wah, kayaknya lebih benci-an lagi diriku deh. Kasur empuk, kolam renang, makanan enak… kalo nggak bisa dapet, mending di rumah, hehe
      *bukan traveler sejati 🙂

      thanks udah mampir dan komen, Wulan

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: