Madam Air

Cita-cita saya waktu SD standar aja, jadi pilot. Waktu saya jatuh cinta sama Tom Cruise di film Top Gun, cita-cita itu jadi lebih spesifik yaitu jadi pilot pesawat tempur. Setelah masa ABG lewat, saya mulai kepingin jadi pramugari, sebab lebih feminin dan tentu saja tidak harus bertempur. Tapi, saya kecewa waktu ayah saya bilang profesi itu gak ada bedanya dengan pembantu, cuma sedikit lebih keren. Akhirnya saya memilih cita-cita standar lainnya, yaitu jadi dokter dan tentu saja gak pernah kesampaian.

Untungnya saya ganti cita-cita, sebab kalau saya ngotot saya pasti kecewa sendiri. Bukan karena banyak maskapai penerbangan yang gak jelas standar keselamatannya, bukan pula karena shock dengan berita-berita kecelakaan pesawat yang seolah gak pernah berhenti, bukan pula karena saya agak claustrophobia, tapi lebih karena saya punya masalah dengan… motion sickness alias gampang mabok udara.

Itulah kenapa setiap kali saya harus memasuki kabin pesawat, saya merasa gak nyaman. Keringat dingin dan rasa mual sudah muncul sejak sebelum check in. Tentu saja karena beberapa hal yang lebih penting, saya harus rasional melawan semuanya dan tetap memasuki kabin pesawat. Setelah duduk, kantong kertas dan balsem biasanya sudah ada di tangan saya dan dengan noraknya saya selalu mengambil banyak permen yang ditawarkan untuk mengurangi rasa mual selama perjalanan.

Seorang teman bilang, mungkin semua itu hilang kalau saya naik maskapai yang lebih bagus, terus duduk di kelas bisnis yang lebih luas dan nyaman, bukan di kelas ekonomi yang penuh sesak. Buat saya, mau kelas bisnis, mau eksekutif, mau naik Madam Air, Emprit Air, Cacar Air, Kutu Air, Pompa Air… tetap aja saya mabok!

*Saya sedang berduka cita untuk seorang teman. Ia adalah Atase Pers di Kedutaan Besar Australia, yang tewas dalam kecelakaan Garuda Airways di Jogjakarta pada tanggal 7 Maret 2007

May you rest in peace, Elizabeth O’Neil. 🙁

Facebook Comments