Bulan depan, majalah Hai akan terbit buat terakhir kalinya. Konon sih, sebab belum ada pernyataan resmi dari pihak majalah. Saya hanya baca soal ini kemarin di Twitter dan forum Kaskus.

 

Jika benar, maka ini sudah kesekian kalinya majalah-majalah populer gulung tikar, nggak terbit lagi. Sedih deh dengernya, sebab majalah Hai itu memento banget buat saya. Majalah Gadis juga. Bisa dibilang kedua majalah itu berperan besar di masa remaja saya.

Dari majalah Gadis, saya banyak banget belajar buat jadi perempuan mandiri. Kalau remaja sekarang meluangkan banyak waktu buat menonton beragam tutorial dari Youtube, saya belajar banyak hal dari majalah Gadis. Mulai dari cara beresin kamar, cara memilih outfit dan pakai make up (oke, yang terakhir bohong, soalnya saya termasuk ogah dandan), cara mengelola keuangan, cara bersikap asertif dan mengungkapkan pendapat, banyak deh!

Sementara dari majalah Hai, saya belajar banyak tentang karya tulis. Banyak penulis-penulis keren muncul dari majalah ini. Mereka favorit saya – Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya, Gola Gong dengan Balada si Roy, Zara Zettira dengan puluhan cerita kerennya (sekarang saya tak suka dia lagi), Kembang Manggis (yang belakangan saya tahu adalah ibu dari penulis Dee Lestari) dan beberapa lainnya. Belum lagi tulisan-tulisan renyah om Wendo alias Arswendo Atmowiloto yang menginspirasi.

Saya ingat sekali waktu cerpen saya dimuat majalah Hai, dua kali. Rasanya saya sudah ngetop banget waktu itu. Tentu saja pakai nama pena, sebab saya masih malu-malu. Meski nggak lantas terkenal, saya seneng dan bangga banget. Banget sebanget-bangetnya. Padahal honornya waktu itu 17 ribu saja untuk dua tulisan. Masalahnya, cerpen yang dimuat itu barangkali tulisan keduapuluh sekian yang saya kirim ke majalah Hai.

Dulu masih menulis pakai mesin ketik, mengirim naskahnya lewat pos dengan perangko biasa (baru akan sampai sekitar satu minggu setelah masuk kantor pos). Dan ketika amplop-amplop naskah itu kembali ke meja belajar saya, rasanya kecewa banget, tapi lama-lama biasa sih. Nah, saat akhirnya tulisannya saya tembus majalah favorit saya itu, happy-nya luar biasa. Yeaayyy!!! 🙂

Begitulah enaknya menulis hanya untuk menulis. Menulis karena sangat menyukai kegiatan ini. Beda dengan sekarang, meski kegiatannya masih jadi passion saya, tapi saya mempertimbangkan fee. Dan sejalan dengan besarnya fee, maka semakin tinggi juga tanggung jawab saya sebagai penulis.

Di masa sekolah, saya menulis dengan harapan bisa dimuat di majalah sekelas Hai dan Gadis. Waktu itu saya berandai-andai tulisan saya bisa dimuat di media cetak secara rutin. Saya kepingin menulis untuk koran dan majalah, sukur-sukur punya kolom sendiri di sana. Belum kesampaian sih hingga hari ini, malah saya sibuk menulis dan menerbitkan buku.

Saya nggak tahu alasan majalah besar ini harus tutup (jika memang benar), tapi barangkali ada kaitannya dengan remaja milenial yang malas baca apapun yang bukan online. Memang lebih mudah mencari kesenangan lewat media sosial. Meski sama-sama menulis, tapi kontennya jauh beda. Bukan menulis cerita, puisi atau opini tapi menulis status tanpa etika atau memposting foto tak layak tiru. Tak semua remaja seperti itu memang, tapi lumayan banyak yang begini.

Menulis bikin saya merasa lebih kreatif dan berguna. Jadi wajar kan kalau saya sedih jika majalah Hai harus berhenti terbit. Jangan-jangan lima tahun dari sekarang, nggak ada lagi remaja yang bisa merasakan seru-nya menulis di media cetak. Barangkali minat menulis pun mereka tak punya.

Saya sih tetap berharap majalah Hai, dan juga media cetak lain tetap akan eksis dalam beberapa dekade ke depan meski konten (dan ukurannya) menjadi kian ringkas. Sebab konten lebih rinci selalu bisa diakses dari media online. Lagipula media cetak adalah media baca paling portabel yang pernah ada, praktis dibawa dan bisa dibaca di mana saja selama ada cahaya, termasuk ketika butuh inspirasi selama behajat di kamar kecil 🙂

Facebook Comments