Mentor

Menulis itu kan bakat, kan… lantas kenapa juga perlu mentor?

Ada dua hal yang saya nggak setuju dari kalimat itu. Pertama, menulis itu perlu kerja keras. Sama dengan profesi-profesi lain, seorang penulis harus punya disiplin tinggi, keinginan untuk terus belajar dan juga latihan terus menerus. Kalau ada bakat, itu bagus. Kamu bisa lebih cepat dalam menciptakan karya. Kalau tidak, kamu tetap bisa punya karya hebat.

Kedua, seorang penulis sangat perlu (setidaknya) seorang mentor.  Enggak masalah apakah kamu penulis pemula atau penulis yang buku-bukunya best seller terus, kamu bakal mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki mentor.

Saya beruntung banget sudah punya beberapa mentor. Orang-orang hebat yang pernah “mengajar” saya nggak semuanya penulis, tapi berperan banget dalam membentuk mental saya. Mentor pertama, ayah mertua saya. Dia mentor terbaik dalam mengajari saya kesabaran dan keuletan.

Saya lahir dengan sifat (yang menurut ayah saya) mirip Btari Durga. Selalu ingin cepat-cepat, grusa-grusu, pengeluh, gampang kesal dan suka menuntut hasil akhir tanpa peduli sebuah proses. Yang jelas, sabar bukan nama tengah saya.

Cukup lama saya punya sifat jelek ini sampai saya kemudian bisa mengamati bagaimana ayah mertua saya menjalani hari-harinya. Tanpa petuah-petuah ala motivator, beliau “mengajari” saya bagaimana menikmati sebuah proses melahirkan karya, ketimbang senewen menuntut hasil akhirnya saja. Beliau seorang yang berjiwa seni, dan saya mengagumi kesabaran tingkat dewa yang beliau miliki. Tentu saja, saya enggak mungkin bisa sesabar itu, tapi pelan-pelan saya “meng-copyskill-nya. Benar, kesabaran bukan sekedar sifat. Itu juga adalah skill yang bisa dilatih jika kita menginginkannya.

Dalam menulis, kesabaran amat penting. Memilih tema, menyiapkan outline, mematangkan plot, mengumpulkan materi pendukung, mulai menulis bab demi bab, revisi, self-edit, tulis lagi, kirim ke penerbit lalu menunggu kabar – saya nggak tahu kata apa yang lebih tepat buat menggambarkan situasi ini selain kata sabar. Kesabaran juga harus kamu miliki ketika naskah ditolak. Banyak penulis muda yang langsung ngambek ketika sampai di tahap penolakan, padahal hal begini lumrah banget buat penulis profesional.

Mentor kedua adalah mantan atasan saya. Dari beliau, saya belajar banyak tentang kerja keras dan disiplin. Oh, benar bahwa beliau orang yang sangat keras dan galak. Beberapa orang bahkan menyebutnya Dragon Lady saking galaknya. Menurut saya, beliau tipe atasan yang galak-galak baik hati kok (Iya, saya tahu beliau pasti senyum mesem kalau baca ini, hehe…).

Saya nggak tahu deh, kalau enggak pernah jadi staff-nya, mungkin sampai sekarang saya masih jadi si pemalas yang selalu kehilangan arah. Atau seseorang tanpa motivasi yang membiarkan hidupnya diatur-atur orang lain.

Atasan saya menempa saya menjadi orang dengan cara berpikir yang beda dari sebelumnya. Hebatnya, semua beliau lakukan tanpa mengubah kepribadian asli saya. Dengan kata lain, beliau tetap membiarkan saya menjadi diri sendiri, tapi dalam versi yang lebih baik.

Di awal, saya sudah bilang bahwa penulis itu bukan profesi yang nyantai. Kelihatannya sih memang cuma duduk-duduk di depan komputer atau laptop, tapi pemikiran itu hanya buat yang belum pernah menulis. Disiplin dan kerja keras, buat saya itu kuntji! Tanpa keduanya, naskahmu hanya akan berakhir pada tulisan “Pada suatu hari…” selama ratusan purnama. Iya, saya memang suka lebay kalau soal-soal begini.

Mentor ketiga adalah seorang penulis profesional. Saya beruntung banget, penulis dengan puluhan karya itu bersedia kasih mentoring ke saya. Beliau mengajari saya untuk tidak sekedar menulis, tapi meluaskan ladang penulisan itu sendiri. Sebelumnya saya enggak pernah berpikir bahwa menulis bisa begitu menghasilkan. Dulu, saya mengira sumber finansial penulis melulu dari royalti, dan dari beliau saya tahu bahwa lahan profesional ini luasnya kayak samudra biru. Beruntungnya lagi, nggak cuma mengajari, beliau juga memberi saya kesempatan kerja bareng dengannya dalam beberapa proyek penulisan. Asyik, kan?

Saya berharap di masa depan, masih ada banyak mentor lain yang mau mengajari saya lebih banyak hal, sebab saya suka banget belajar hal-hal baru dan tahu bahwa ada jutaan hal di luar sana  yang belum saya ketahui sama sekali.

Nah, kalau kamu masih belum yakin kenapa perlu mentor, mungkin pemikiran saya bisa membantu:

  • Inspirasi. Menulis adalah kerja kreatif yang nggak bisa dihasilkan kalau kita diam-diam saja. Masukan dari seseorang di luar proses penulisan itu mirip dengan oksigen segar yang bisa mencipratkan ide-ide baru saat kamu menulis.
  • Feedback jujur. Setiap penulis, nggak peduli seberapa berpengalamannya dia, memerlukan pembaca yang mampu menunjukkan bahwa ada yang salah dalam karyanya. Setiap penulis perlu seseorang yang bisa memperlihatkan gambaran besar atau mengatakan dengan lembut “Kamu sudah pernah nulis itu sebelumnya, ayo coba nulis sesuatu yang baru”
  • Perkembangan profesional. Seperti sebuah bisnis, menulis adalah uji coba kreatifitas. Oleh sebab itu, penulis harus paham banget seluk beluk profesinya. Seorang mentor akan berbagi informasi atau menunjukkan arah yang benar sehingga kamu bisa mempelajari sendiri hal tersebut.
  • GPS. Mudah banget buat membodohi diri saat menulis, terutama ketika kita mulai kehilangan motivasi. Seorang mentor membantumu membuat tujuan yang jelas dan sesekali memastikan kamu nggak ke mana-mana terlalu jauh dari tujuanmu. Mirip perangkat GPS gitulah.
  • Dukungan emosional. Penulis harus terbiasa menghadapi penolakan. Saat enggak ada penerbit yang mau menerima naskah, kadang penulis suka baper. Di saat begini, penting banget ada mentor bisa kasih dukungan emosional dan mengatakan, “Iya, ditolak memang nggak enak, tapi kamu terus semangat nulis ya.”

Lantas, pertanyaan berikutnya adalah “Bagaimana menemukan seorang mentor penulisan?” – Sebenarnya, mentor penulisan ada di mana-mana, saya termasuk salah satunya. Tapi, yang kamu butuhkan adalah cara mencari mentor yang tepat buat kamu, bukan? Saya bahas di tulisan berikutnya ya. Sementara itu boleh kok kalau mau belajar nulis sama saya. Kirim email saja ke sini, ntar kita belajar bareng-bareng. Sip? 🙂

Facebook Comments

Leave a Reply