Morning Sickness

Adegan klasik dari film Indonesia tahun 80an yang menceritakan kehamilan adalah akting payah dari si pemeran wanita yang mual dan muntah. Well.. sebenarnya pengulangan adegan ini masih bisa kita lihat dalam sinetron di TV sih (dan untuk lebih menguatkannya lagi, si wanita akan memakai daster kedodoran dan terus menerus memegangi perutnya). I took it for granted. Sejak menyadari bahwa saya hamil, saya menunggu-nunggu adegan klasik itu terjadi pada saya, tetapi sia-sia sebab saya tidak mengalami morning sickness. Tidak ada mual-muntah, hanya capek dan ngantuk.

Saya jadi tertarik dengan hal ini dan membuat riset kecil-kecilan. Pusat rasa mual ada di otak, bukan di perut. Tingginya jumlah hormon hCG menekan pusat ini sehingga menciptakan rasa mual. Uniknya, pusat rasa mual ini sebenarnya diatur oleh alam bawah sadar kita sendiri, artinya mau punya morning sikcness atau enggak atau seberapa hebat rasa mual yang diinginkan, semuanya adalah ciptaan alam bawah sadar kita.

Saya enggak merasakan morning sickness karena di bawah sadar saya enggak menginginkannya. Jadi meskipun secara sadar saya tahu bahwa seharusnya saya mual dan muntah, tapi itu enggak terjadi. Menariknya lagi, morning sickness bisa lebih hebat kalau ada kecemasan atau stress. Mungkin itu kenapa orang yang hamilnya karena kecelakaan, mual-muntahnya lebih parah dibandingkan mereka yang memang menginginkan kehamilan itu. Tapi, saya kira adegan payah dalam film-film dulu juga menjadi salah satu faktor kenapa orang yang siap hamil (kecuali kehamilan kembar) masih terinspirasi untuk punya morning sickness. Sugesti lageee…

Ctt: morning sickness sebenarnya adalah penamaan yang salah kaprah, soalnya rasa mual dan muntah itu bisa terjadi kapan saja, bahkan tengah malam.

Facebook Comments

Leave a Reply