Menghabiskan beberapa hari di Jakarta minggu lalu.

Melewati stasiun Gambir selalu membawa saya kembali pada kejadian delapan belas tahun yang lalu. Pada sebuah gerbong kereta malam, dari Jogjakarta menuju ibukota. Di sebelah saya duduk seorang laki-laki.

pada sebuah gerbongSaya nggak pernah tahu siapa dia, sebab tak pernah bertanya namanya. Atau barangkali kami memang bertukar pertanyaan tentang nama, tapi saya tak mampu mengingatnya. Tak banyak yang yang saya ingat tentang laki-laki ini. Waktu membuat saya samar akan wajahnya. Saya hanya mengingat ia sebagai orang berperawakan sedang dan berkulit sawo matang.

Tapi, saya nggak pernah melupakan percakapan kami sepanjang perjalanan kereta malam itu. Ia amat ramah dan menyenangkan. Saya bukan orang yang senang mengobrol dengan orang yang tak saya kenal, apalagi lawan jenis. Selalu ada prejudis. Menariknya, tidak dengan orang ini.

Pertanyaan pertamanya standar. “Sendirian saja ke Jakarta? Mbaknya itu nggak ikut?” – ia mengomentari kawan yang mengantar saya ke stasiun dan melambaikan tangan ketika kereta berangkat.

Biasanya, pertanyaan seperti itu hanya saya jawab sekenanya. Dan saya nggak paham kenapa laki-laki ini kemudian mampu membuat saya betah mengobrol berjam-jam dengannya. Bahkan saat hampir semua orang di kereta terlelap, kami masih mengobrol. Menjelang tengah malam, kelelahan membuat kami berhenti bicara dan memutuskan tidur di bangku masing-masing.

Pagi membuncah ketika kereta memasuki stasiun Gambir. Dengan ramah, ia menunjukkan pada saya di mana harus mencari bis karena saya harus langsung ke Cengkareng untuk mengejar pesawat ke Palembang. Waktu itu pesawat belum semurah sekarang. Mengakali biaya, saya harus naik kereta dari Jogja sebelum melanjutkan perjalanan ke luar pulau.

Ia sempat mengajak saya sarapan di stasiun, dan saya setuju.

Sebab entah kenapa, saya tak ingin berpisah terlalu cepat dengannya. Dan saya tahu dia pun merasa begitu.

Lantas, kami menghabiskan setengah jam berikutnya untuk makan sambil terus mengobrol. Sampai akhirnya saya benar-benar harus ke bandara agar tak ketinggalan waktu check in.

Kami berpisah, dan tak pernah bertemu lagi sampai hari ini. Dan entah kenapa, saya tak pernah benar-benar melupakan orang ini.

Kalau ada yang disayangkan adalah saya tak ingat namanya. Tanpa nama, media sosial secanggih apapun tak terlalu berguna. Sebab kadang, saya ingin bertemu lagi dengannya. Ingin tahu kabarnya, dan tentu saja mengucapkan terima kasih atas percakapan menyenangkan malam itu. Sesuatu yang lupa saya lakukan waktu itu.

Dear you. Siapapun kamu, saya harap hari ini kamu terus diberikan kesehatan, dimudahkan rezeki, dilancarkan segala urusan serta selalu dalam lindunganNya. Berharap banget suatu hari bisa bertemu dan kamu masih mengingat saya 🙂

It was a great conversation. Fun and meaningful, and of course, memorable.

Facebook Comments

Leave a Reply