Dikejar Mas Mas

Saya belum nonton film “mengejar Mas Mas” yang mulai tayang minggu lalu, tapi saya sudah baca reviewnya – seperti biasa, kelihatannya menarik, tapi siapa tau? Sebab kadang harga gak sama dengan rupa. Anyway.. saya bilang menarik di sini adalah krn film ini menyisipkan kehidupan lokalisasi kelas bawah di Jogja. Saya gak tahu lokalisasi mana yg diambil, tapi saya berasumsi daerah Sarkem alias Pasar Kembang, sebab itulah lokalisasi terpopuler di kota ini. Continue reading “Dikejar Mas Mas”

40 Years Old Virgin

Kemarin gak sengaja saya ketemu teman lama. Kami mampir di toko donat dan ngobrol lama. Dia masih sama; masih pencinta alam, masih sibuk dgn program2 cinta lingkungan dan rehabilitasi anak jalanan, masih buat film dokumenter, dan –- tentunya, masih lajang! Mengingat gaya hidupnya yg religius (itu bedanya dia dan saya ^_^ ) dan dari ceritanya ttg kesulitannya menemukan pasangan ideal – saya yakin dia masih perjaka. Continue reading “40 Years Old Virgin”

Madam Air

Cita-cita saya waktu SD standar aja, jadi pilot. Waktu saya jatuh cinta sama Tom Cruise di film Top Gun, cita-cita itu jadi lebih spesifik yaitu jadi pilot pesawat tempur. Setelah masa ABG lewat, saya mulai kepingin jadi pramugari, sebab lebih feminin dan tentu saja tidak harus bertempur. Tapi, saya kecewa waktu ayah saya bilang profesi itu gak ada bedanya dengan pembantu, cuma sedikit lebih keren. Akhirnya saya memilih cita-cita standar lainnya, yaitu jadi dokter dan tentu saja gak pernah kesampaian. Continue reading “Madam Air”

Apa Salahnya Menjadi Hedonis?

Beberapa waktu yang lalu saya ke Jkt untuk urusan kerja dan menginap di apartemen kawan. Sebetulnya saya bisa saja menginap di rumah tante, tapi saya gak tahan bujukan kawan itu.

FYI; dia selalu menanggap saya begitu penting dalam hidupnya, sedangkan saya tidak. Entahlah, mungkin karena buat dia tanpa saya dia gak akan ketemu sama suaminya sekarang. Suaminya, seorang diplomat Australia, memang mantan siswa saya. Continue reading “Apa Salahnya Menjadi Hedonis?”

Ibu

astrid savitri

Apa logika fashion show dengan penghormatan kepada kaum ibu?

Emang gak ada. Itu cuma ide para perancang busana yang dijelmakan sebagai komoditas pusat belanja terbesar di Jogja. Dan orang kayak saya yang (sok) feminis akan segera menganggapnya konyol. Padahal, hal begitu tidak menghinakan perempuan. Hal begitu hanya memberi alasan untuk merayakan hedonisme. Tak ada relevansinya dengan penghormatan terhadap seorang ibu. Kalaupun ada, tentunya lebih kepada narsisime sang ibu, bukan dedikasi atau komitmennya, maka sebenarnya hal begitu tidak jahat, bahkan sebaliknya mencoba menghormati perempuan. Continue reading “Ibu”

Le Divorce

Perceraian

Saya sudah dua kali nonton film “Le Divorce”, tapi saya masih gak mengerti inti cerita film yang dibintangi Kate Hudson itu. Teman saya bilang, saya harus belajar budaya Perancis dulu supaya bisa mengerti. Tapi, Perancis atau bukan, yang pasti saya lagi terkesan dengan budaya perceraian yang makin populer setelah makin banyak selebriti melakukannya. Mulai dari perceraian kilat ala Titi DJ, perceraian dengan masalah yang berlarut-larut ala Tamara Blezinski, perceraian heboh ala Hajjah Lutfiah Sungkar, dan perceraian-perceraian lainnya. Seorang teman pernah bilang, sekarang ini kalau mau ketemu selebriti gampang aja caranya. Tinggal datang ke Pengadilan Agama! 😀

Perceraian memang masalah pribadi, tapi saya senang bahwa para selebriti – khususnya yang perempuan – makin terang-terangan bahkan mengeksploitasi perceraiannya. Sebab ini bisa menginspirasi perempuan-perempuan lainnya. Sebelum ini, banyak istri teraniaya fisik dan batin yang tidak berani menggugat cerai suaminya. Bukan faktor ekonomi yang ditakutkan – tapi lebih ke faktor sosialnya.

Continue reading “Le Divorce”