Inner Beauty

Ada dua jenis kecantikan. Kecantikan dari luar dan kecantikan dari dalam, yang terakhir istilah populernya inner beauty. Sebenarnya saya sampai sekarang belum benar-benar mengerti apa itu inner beauty, tapi dari kebanyakan sumber yang saya baca, kelihatannya itu meliputi EQ, IQ, dan SQ. Saya sering dikeluhi beberapa teman yang merasa kurang cantik, kurang putih, kurang kurus, kurang mulus, kurang mancung, kurang besar (payudaranya), kurang keren, kurang tinggi, kurang menarik, dan segala macam kurang lainnya – termasuk kurang perhatian atau kekurangan cowok! Yang terakhir memang nggak nyambung – biar lucu aja! 🙂 Kebanyakan teman lain yang mendengarkan kekurangan-kekurangan teman-teman saya itu, memberi nasihat serupa tapi tak sama, antara lain percaya diri, gali dan kembangkan sisi positif diri sendiri, lebih memusatkan pikiran pada kelebihan daripada kekurangan dan lain-lain. Semuanya berakhir pada satu kesimpulan: orang-orang akan lebih tertarik pada inner beauty-mu! Hmm.. saya jadi bertanya-tanya, apa iya sih? Soalnya begini, Omas si pelawak, katakanlah EQ, IQ dan SQ-nya cukup tinggi, tapi bagian depan rahang atasnya tetap akan menjadi bahan tertawaan. Tengok Sarah Azhari, yang menurut beberapa teman tidak begitu ber-IQ, apalagi ber-EQ dan ber-SQ tapi ke-bohay-an tubuhnya tetap akan menjadi pujaan. Oke, mungkin saya berlebihan karena mengambil contoh selebritis, tapi Omas dan Sarah hanya bentuk... Read more

Oracle Goes To Cyberworld

Suatu malam, kira-kira pukul 11, saya masih tidak bisa tidur — jadilah saya surf di internet, dan entah bagaimana awalnya, saya masuk ke situs beralamat primbon.com. Mengklaim diri sebagai situs internet pertama dan satu-satunya yang mengulas tuntas segala hal yang berkaitan dengan dunia mistik dan supranatural. Menawarkan berbagai hal mulai dari ramalan jodoh, menafsirkan arti mimpi, weton, sampai makna menstruasi pada wanita. Wah, hebat juga! Saya baru tahu bahwa hal-hal seperti itu sudah sampai ke internet. Saya jadi teringat dua edisi majalah ELLE pemberian seorang teman dari London. Halaman-halaman akhir dari majalah tersebut dipenuhi iklan para psychic yang menawarkan jasa membaca masa depan secara on line lewat telepon (FYI: Jumlahnya sebanding dengan iklan operasi payudara dan sex tools). Waktu itu saya pikir iklan-iklan itu sudah cukup aneh, ternyata ada yang lebih aneh lagi! Menarik ya bahwa ramal meramal disukai oleh siapa saja – terlepas dari percaya atau tidak. Mulai dari kolom horoskop di majalah wanita mingguan yang dibaca oleh teman-teman sekantor saya (dan saya juga tentunya, hehe…) sampai produksi Hollywood, dimana model peramal digambarkan berbeda-beda. Mulai dari peramal biasa dalam Jeepers Creepers atau The Gift, peramal palsu dalam Ghost, peramal bingung dalam Unbreakable, peramal jago telepati dalam X-men, peramal berteknologi... Read more

LEARNING (NOT ONLY) BY DOING Part 1

Seks adalah salah satu bentuk pertahanan diri supaya manusia tetap sehat. Sayangnya, sebuah hubungan seks tidak pernah disertai petunjuk cara pakai. Seks dilakukan dengan insting. Kebanyakan insting tersebut tidak diasah menjadi suatu keahlian, mungkin karena agama, budaya, sistim masyarakat, ketidak-tahuan atau karena tidak terpikir bahwa seks ternyata bisa lebih dioptimalkan. Menurut saya, seks seperti memasak. Meskipun semua orang tahu caranya, tapi untuk mendapatkan rasa yang tepat, kita harus belajar. Bedanya, memasak demi kepuasan lidah, dan seks demi kepuasan genital — meskipun sebenarnya keduanya berpusat di otak. Kalau tadi saya menyebut keahlian – kebanyakan orang akan berpikir saya jorok atau porno. Itulah uniknya bahasa, menurut saya, sebab kata ahli masak terdengar jauh lebih positif daripada ahli seks. Padahal – sekali lagi seperti memasak – kalau kita punya keahlian masak .. bukan berarti kita mau buka restoran kan? Kita memasak demi menyenangkan diri sendiri, dan menurut saya itu tidak jauh berbeda dengan keahlian seks. Saya tidak pernah membuat survey, dan mungkin pemikiran saya berikut ini adalah prejudis, tapi saya kira banyak perempuan menerima seks begitu saja, tanpa mau mempelajarinya.. pokoknya asal pasangannya orgasme. Menurut saya, ini salah satu kesalahan terbesar dalam sebuah hubungan, membiarkan pasangan terus menjadi bodoh dengan tidak memberinya kesempatan... Read more

Choices

“Since birth, modern women have been told we can do and be anything we want. Be an astronaut, the head of an Internet company, a stay-at-home mom. There aren’t any rules anymore, and the choices are endless. And apparently they can be delivered right to your door. But is it possible that we’ve gotten so spoiled by choices that we’ve become unable to make one?” -Carrie Bradshaw- Read more

Big Is Beautiful

Di masa sekarang, seperti kita semua tahu, tubuh gemuk dianggap sangat tidak seksi. Orang gemuk lebih sering diolok-olok. Tidak ada cowok yang tertarik dengan cewek gemuk. Shallow Hall (2001; Gwaynet Paltrow & Jack Black) adalah film komedi yang mengangkat tema ini dengan menarik. Lucunya, dalam beberapa film lain, cowok gemuk tidak sering-sering digambarkan menemui masalah ini, lihat saja The Hitch (2005, Will Smith & Eva Mendez) atau The Nutty Prfofessor (1996; Eddie Murphy & Janet Jackson), bahkan dalam Sex and the City musim terakhir, tokoh Charlotte York yang mungil dan cantik akhirnya menikah dengan pria gemuk. Begitu melihat seseorang bertubuh sangat gemuk, saya suka menertawakannya dalam hati (dan saya kira, saya tidak sendirian). Mungkin karena saya sok, sebab saya tidak mudah gemuk. Tapi, begitu melihat seseorang bertubuh sangat gemuk, saya juga suka bertanya-tanya, apa mereka tidak kuatir dengan masa depannya? Penelitian menunjukkan kegemukan itu tidak sehat – bahkan berbahaya. Sejumlah penyakit mulai dari tekanan darah, kolesterol, jantung bahkan impotensi konon sangat tertarik menghampiri orang-orang dengan berat badan berlebihan.  Tika pangabean, Indy Barens, Dewi Huges, Tike Priyatnakusumah adalah sedikit dari penganut paham Big is beatiful… dan memang benar mereka cantik – tidak diragukan lagi. Dan saya lebih sepaham dengan Angelina Jolie,... Read more

Brain, Beauty and Behaviour

Kalau tidak salah, motto tersebut milik kontes putri Indonesia yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Jakarta kita. Artika Sari Dewi, putri Indonesia 2004, kemudian menambahkan kata BRAVE dibelakangnya. Apapun maksudnya, kata itu masih terdengar seirama – jadi buat saya oke-oke saja meskipun tidak begitu mengerti. Minggu lalu, waktu membuka-buka sebuah majalah wanita, saya tertarik pada sebuah kolom. Dalam kolom itu, beberapa perempuan dengan kisaran umur 20 sampai 35, lajang maupun menikah diminta memilih mana yang lebih penting: BRAIN, BEAUTY atau BEHAVIOUR. Jawaban mereka tentu saja bermacam-macam. Salah satu menjawab kira-kira begini: BEAUTY lebih penting, karena seseorang dengan (good) brain dan (well) behaviour , tidak akan dilirik kalau tidak cantik. Saya kira, saya setuju dengannya. Mmm.. mungkin hampir setuju kalau kemudian saya tidak ingat dua orang yang cukup dekat dengan saya. Teman perempuan saya, otaknya sangat cerdas. Dia lebih muda daripada saya, tapi karena pengetahuannya yang begitu kaya, saya tidak pernah segan bertanya apa saja kepadanya. Dia juga tidak pernah segan membagikan pengetahuan luasnya tentang politik, ekonomi, sastra, dan semacamnya kepada siapa saja. Kecantikannya berbeda dengan versi yang populer di masyarakat (baca: putih, tinggi, langsing dan — syukur-syukur — indo). Sepupu saya, tingginya 171 cm, berkaki panjang dan sangat langsing. Dia... Read more

Iklan

Sebuah iklan pembalut wanita begitu menggelitik saya. Model yang cantik dan keren itu mempromosikan kehebatan pembalut tersebut dengan berucap kira-kira begini: Waktu itu lagi di treadmill… mungkin karena terlalu over doing it kali ya… kenal udang rebus..nah itu … tadinya saya pikir apa bedanya dengan yang lain… setelah di coba.. why not lah.. it works.. it works! Haha.. saya jadi ingat ibu Ida Kusumah dalam film Catatan si Boy I (1980an) dengan kalimat terkenalnya: “Vera?? What happen atuh… aya naon?” Balik lagi ke iklan pembalut tadi. Saya memang tidak berhak protes karena itu iklan bagus hasil pemikiran tim jenius. Tapi saya enggak bisa bohong. Saya geli mendengar bahasa gado-gado yang dipakai dalam iklan itu. Saya concern banget dengan the usage of our language yang nggak benar because bahasa menunjukkan bangsa, right? And kalau bukan kita yang mulai memakainya dengan baik dan benar, who else gitu loh? Saya juga boring mendengar para selebritis kita memakai bahasa campur aduk begitu. Memangnya mereka kelihatan sophisticated apa? Semua itu harus mulai dichange, you know! Sekali lagi, saya tidak sedang protes karena saya sudah coba pembalut yang diiklankan itu dan menurut saya.. it works.. it works.. Read more

Super Size Everything

Kalau saya melewati McD, saya suka ingat film berjudul “Falling Down” (1993) yang dibintangi Michael Douglas. Salah satu adegan favorit saya dalam film itu adalah ketika Michael Douglas menghantam habis-habisan konter sebuah restoran burger sambil bersumpah serapah dengan banyak kata berawalan F. Salah satu musababnya adalah karena burger pesanannya berbeda dengan gambar burger pada neon box di bagian atas belakang kasir. Burger itu begitu gemuk, dagingnya tebal berlemak dengan keju yang sedang meleleh, sedangkan burger yang diterimanya dari pelayan tipis, dingin dengan keju yang bersembunyi di tengah dua lapis roti berwijen yang agak kempes. Terpengaruh film itu, setiap makan di McD, saya ikut bertanya-tanya kenapa bentuk burger yang saya terima tidak pernah sama dengan yang ada di neon box di bagian atas belakang mbak dan mas kasir itu. Pastinya saya tidak akan pernah berani protes. Burger. Konon makanan ini ditemukan secara tidak sengaja oleh koki seorang raja pada abad pertengahan. Sang raja yang gemar berjudi ini sedikit bosan dengan tata cara makan pada abad itu yang aturannya sebanyak jumlah sendok garpu gelas dan piring di meja dalam satu kali acara santap. Suatu hari sang raja begitu asyiknya berjudi dan tidak mau kehilangan waktu untuk makan, menyuruh kokinya membuatkan hidangan lengkap... Read more