Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Page 3 of 14

Beard Talk

Bulan puasa kemarin, ketika sedang menulisi slip setoran di sebuah bank, saya menoleh pada orang di sebelah yang juga sedang melakukan hal sama. Ternyata dia Duta Sheila On7.

Mestinya saya histeris atau minimal minta foto dan tanda tangan, tapi saya terlalu tertarik dengan jenggotnya sebab seingat saya ia klimis. Lantas saya bertanya, “Kok mas Duta sekarang berkumis dan jenggotan?” Ia menjawab sambil tersenyum, ”Iya, biar tuaan dikit.” – dan ia pun dengan sopan berlalu meninggalkan saya yang sibuk bingung.

Continue reading

Bus Story

Ini kisah beberapa tahun lalu ketika saya berada di dalam sebuah bis wisata bertingkat. Di sebelah saya adalah seorang turis asing, yang dari logat Inggris-nya saya bisa menebak bahwa ia berasal dari Australia.

Setelah bisa berjalan beberapa saat, bule Australia itu mencoba memulai percakapan dengan ramah. Awalnya tak ada masalah dengan obrolan kami hingga tiba-tiba ia bertanya, “Kamu orang Melayu?” katanya dalam bahasa Inggris.

Continue reading

Tak (Lagi) Terhubung

Juni. Benar-benar bulan yang sibuk. Saya baru punya waktu luang sekitar dua hari yang lalu setelah sejak awal bulan ini, pekerjaan seperti gak membolehkan saya bersantai. Senang ada momen lebaran, jadi semua kegiatan bisa berhenti untuk beberapa hari. Meski tak benar-benar istirahat karena tetap menyiapkan segala keperluan hari raya, setidaknya saya punya waktu untuk curhat di blog sendiri.

Jadi kali ini saya ingin masturbasi, artinya bersenang-senang dengan diri sendiri, menceritakan hal-hal tak penting dalam postingan ini. Sebentar, tak sepenuhnya tak penting sih, sebab akhir April lalu ada insiden kecil yang lumayan mengubah cara pandang saya hingga hari ini.

Continue reading

Pancasila dan Orang-Orang di Medsos

Iya, ngaku. Saya nggak terlalu hafal lagi kalimat-kalimat dalam sila-sila Pancasila. Kalau mendengar orang lain membacakannya sih masih bisa mengikuti, cuma kalau harus mengingatnya lantas mengucapkannya secara lantang barangkali saya bakal gelagapan. Jadi, hei… siapa bilang bahwa tak hafal Pancasila itu hanya masalah generasi milenial?

astridsv blog

Cuma barangkali saya sedikit beruntung (untuk tidak mengatakan sedang menyombong) karena pernah mengikuti penataran P4 di sekolah dulu. Mendapat sertifikat lagi, meski tak ingat di mana menyimpannya. Ini mungkin yang tak dimiliki generasi setelah saya.

Apakah itu artinya saya dan generasi yang menikmati penataran P4 menjadi lebih baik? Tidak selalu sih, sebab yang jago menghafal selalu mendapat nilai baik (dan saya payah dalam hal ini). Saya kira di sinilah alasannya mengapa banyak orang, termasuk saya, tak memahami Pancasila, sebab ia hanya dijadikan wacana hafalan.

Dan seperti semua yang dihafal, bukan dipahami, ingatan akan lenyap dengan mudah tergantikan oleh memori-memori baru di otak. Kita tahu cara kerja otak. Ia selalu men-delete file-file yang tak lagi dianggap irrelevant atau berguna . Tujuannya agar ada space baru untuk informasi-informasi yang lebih baru. Otak hanya sedia menyimpan ingatan yang memang kita inginkan, dan sesuatu yang menjadi kebiasaan umumnya tak pernah dihapus.

Nah, kebiasaan ber-Pancasila ini – atau dalam istilah yang lebih keren disebut pengamalan Pancasila, yang seringkali tak terdeteksi. Penataran P4 memasukkan kata Pengamalan, namun sebatas soal dan simulasi di kelas.

Minggu ini, ketika Saya Indonesia Saya Pancasila menjadi trending topic dalam menyambut Pekan Pancasila 2017, saya kira kita akan mulai mengingat kembali bagaimana dulu bangsa ini dipersatukan oleh para pendirinya. Nyatanya? Saya dibikin puyeng membaca timeline yang mirip Hari Nyinyir Nasional itu.

Pekan Pancasila yang saya yakin tak bertujuan jelek, malah menjadi pemicu perang baru, setidaknya ini saya lihat di Twitter (sebab Facebook saya relatif bersih, isinya teman-teman yang sepaham. Dan, ya… medsos saya hanya dua itu).

Ironis. Padahal pendiri bangsa harus mumet berbulan-bulan untuk menemukan cara agar kita bisa bersatu. Sampai kemudian mereka sepakat untuk menjadikan bangsa yang saat itu baru lahir sebagai bangsa yang berketuhanan, bangsa yang welas asih serta menghargai kemanusiaan, bangsa yang bersatu tanpa pernah tercerai-berai,  demokratis, dan mengagungkan keadilan.

“Dasar negara kita berbentuk Philosophische Grondslag atau Weltanschauung. Dasar negara Indonesia merdeka adalah kebangsaan, internasionalisme atau peri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan yang berkebudayaan.” ~ Soekarno, dalam pidato tanggal 1 Juni 1945  di Gedung Merdeka, Bandung, di depan sidang BPUPKI pertama.

Saya nggak punya masalah sih dengan siapapun yang mengatakan bahwa Pancasila bukanlah murni pemikiran Bung Karno. Beliau hanya mengotak-atik, atau terpengaruh oleh ide atau faham tokoh lain. Saya pernah baca artikel yang mengatakan bahwa Pancasila itu mirip dengan Pridi Banoyong. Ia adalah empat asas pemersatu Filipina yang terdiri dari Nasionalisme, Demokrasi, Sosialisme, Religius.

Ada juga seorang ahli politik yang bercerita pada saya bahwa India memiliki dasar negara, yaitu Nasionalisme, Humanisme, Demokrasi, Religius, Sosialisme. Perdana menteri Jawarhal Nehru mengungkapkan pemikiran ini di depan kongres dan menyebutnya Panc Svila. Apakah Soekarno meng-copy gagasan Nehru? Saya tidak pernah tahu. Beliau amat dekat dengan perdana menteri India tersebut, bisa jadi mereka saling terinspirasi.

Cuma, saya juga pernah baca bahwa sebenarnya istilah “Pancasila” justru berasal dari buku Sutasoma karangan Mpu Tantular. Kata yang dipublikasi pada abad ke-14 ketika nusantara berada dalam kekuasaan kerajaan Majapahit itu merupakan perintah penguasa kepada rakyat. Perintah itu meliputi larangan untuk mencuri, berbohong, mendengki, melakukan kekerasan dan mabuk-mabukan.

Mengapa kelima hal itu penting hingga dijadikan perintah oleh negara? Sebab mereka dianggap sebagai perusak kesusilaan dan moral bangsa. Dan rusaknya moral bangsa efeknya jauh lebih buruk daripada penjajahan fisik.

Inilah barangkali yang terjadi pada medsos. Kita mungkin tak mencuri, berbohong dan mabuk-mabukkan, tapi kita mendengki dan melakukan kekerasan verbal di sana. Kita menghina siapapun yang bisa kita hina. Kita menertawakan siapapun yang bisa ditertawakan. Kita nyinyir pada siapapun yang sedia mendengarkan.

Saya mungkin tak lagi hafal sila-sila dalam Pancasila, tapi saya masih punya harapan bahwa Pancasila akan terus menjadi sesuatu dalam hidup kita, dan anak-anak saya di masa depan. Pancasila akan terus menjadi dasar dan falsafah negara, pandangan hidup, dan jiwa bangsa.

Jadi, meski miris mendengar tuduhan “mualaf Pancasila” yang sedang happening di medsos, saya tetap berharap kita tak sebodoh itu, bertengkar tentang hal yang tak esensial. Hanya karena ingin tampil beda, kita jadi sok pintar menuduh Pancasila tak pantas jadi dasar negara, padahal ia sudah teruji puluhan tahun.

Utopia

I think John Lennon gave us nothing but utopia…

astridsv's blog

Begitu potongan komentar seorang kawan beberapa waktu lalu pada postingan Beyond Border.

Utopia. Benar, mendengar kata ini mungkin kamu akan langsung teringat tulisan Sir Thomas More yang terbit tahun 1516. Buku tersebut mendeskripsikan kehidupan masyarakat sempurna di negeri khayalan.

Tapi saya malah teringat pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD. Buat saya, kalimat ”Ini Budi. Itu ibu Budi” bukan sekedar pelajaran mengeja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah doktrin tentang kehidupan ideal yang terus ditanamkan ke otak.

Budi, Wati, Iwan — kakak adik yang tinggal di kota dengan kedua orang tuanya. Setiap pagi sehabis sarapan, mereka berangkat ke sekolah sementara bapak pergi bekerja dan ibu pergi ke pasar.

Di sore hari, bapak santai membaca koran sementara duduk ibu menjahit di samping bapak. Wati dan Budi belajar sementara Iwan bermain bola. Ketika liburan tiba, mereka pergi ke desa mengunjungi kakek nenek serta paman bibinya. Bermain di sawah yang menguning, menggembala ternak, memberi makan unggas kemudian bermain di kali lalu menikmati pemandangan alam.

Begitu idealnya gambaran kehidupan Budi dan keluarganya, sehingga saya sempat heran kenapa nenek kakek serta paman bibi saya tidak tinggal di desa. Tak ada keluarga saya yang punya pertanian subur apalagi peternakan makmur. Mereka semua tinggal di kota. Kalau libur, saya dan mereka malah pergi ke Ancol (waktu itu Dufan belum ada) atau kebun raya, pernah juga ke Monas.

Oh, tentu saja saya masih terlalu kecil untuk mengerti apapun tentang kehidupan yang sempurna. Saya cuma merasa hidup saya kok nggak sekeren hidupnya si Budi itu.

Begitulah. Utopia dijabarkan lewat mata pelajaran, dongeng sebelum tidur, novel fiksi, film, bait lagu, atau apa saja. Namun pertanyaannya, kalau tahu tempat ideal itu nggak pernah ada, lalu kenapa kita menciptakannya dalam khayalan?

Entahlah. Barangkali supaya saat seseorang yang bangun subuh buat mengantri sembako, melepas sawah untuk biaya menjadi TKW, menggadaikan motor untuk biaya rumah sakit, atau menjual diri untuk melunasi uang sekolah ~ mereka tetap punya sesuatu; harapan untuk hidup!

Saat situasi menjadi begitu sulit, mengkhayalkan sebuah negeri yang ideal dengan kehidupan yang sempurna bisa jadi sebagai cara untuk bertahan – agar manusia tetap waras dan gak bunuh diri.

Ironisnya, di tengah korupsi, pertikaian antar kepentingan dan segala macam permasalahan bangsa — bait lagu koes plus tentang bukan lautan hanya kolam susu, dimana hanya dengan menancapkan tongkat kayu, maka tumbuhlah ia menjadi pohon berbuah subur, terasa seperti satir.

————-

Utopia/yoo’towpieeu/n; 1 an imaginary place considered to be perfect or ideal. 2 ideally perfect state; especially in its social and political and moral aspects. [Oxford Learner’s Pocket Dictionary]

Agama

”Astrid, kenapa agama begitu penting di sini?”

”Kenapa Bapak bertanya?”

”Karena, setiap berkenalan dengan orang baru, saya pasti ditanya apakah saya Katolik atau Protestan”

”Dan apa jawaban Bapak?”

”Saya kira saya tidak peduli apa agama saya. Lagipula buat saya agama adalah sesuatu yang tak rasional”

agama

Itu adalah sekelumit percakapan saya dengan Greet Andersen beberapa tahun lalu saat saya mendapat kehormatan mengajar bahasa Indonesia kepada duta besar Denmark tersebut. Tentunya obrolan itu dalam bahasa Inggris, sebab ia masih beginner.

Awalnya Greet mengira Indonesia adalah negara Islam seperti di kebanyakan negara di jazirah Arabia, artinya hukum Islam dijalankan secara ketat. Makanya saat pertama menginjakan kaki di bandara Jakarta, dia terheran-heran dengan banyaknya perempuan berkaus dan jeans ketat. Ia juga heran melihat mereka kelihatan tak punya masalah berdampingan dengan perempuan yang berhijab, dan yang paling membuatnya heran (karena tak pernah ia lihat sebelumnya) adalah perempuan berhijab dan mengenakan kaus serta jeans ketat ada di mana-mana.

Ia bercerita di negaranya, meski tak ada larangan seperti di Perancis, mengenakan simbol-simbol agama dilihat sebagai kaum terbelakang. Pada umumnya, beragama bukan hal yang esensi di sana.

Saya bercerita, di sini mengaku tidak beragama justru akan mendatangkan banyak masalah, sebab agama adalah identitas. Seseorang tanpa agama seperti seseorang tanpa nama. Mengenai apakah agama itu dijalankan dengan benar, biasanya tidak menjadi masalah.

Dari obrolan itu, mengertilah Greet mengapa agama adalah salah satu hal yang pasti akan ditanyakan orang Indonesia selain umur, status pernikahan, suku dan pekerjaan.

Namun, saat di sela-sela obrolan Greet sempat menyebut Indonesia sebagai negara sekular, dan itu membuat saya sedikit tak nyaman. Barangkali tak satupun orang Indonesia, dari masa Soekarno hingga Joko Widodo, yang berani secara eksplisit mengatakan Indonesia adalah negara sekular.

Tapi begitulah. Ada kekuatan transformatif dan metaforis dalam bahasa sehingga kita percaya bahwa sebuah kata mampu menggambarkan kenyataan. Makanya saya gentar sama kata itu.

Kembali pada Greet Andersen. Beberapa hari setelah percakapan kami, ia agak terkejut melihat saya memakai kerudung. Katanya; ”Kamu muslim? Saya kira kamu tidak menganggap agama itu penting.”

Sebenarnya sih saat itu, saya cuma mau melayat ke tetangga, tapi dengan jaim dan sok inosen saya menjawab; ”Oh, saya muslim yang taat beribadah, kok” 😀

Sebab, meski saya tak menunjukkan ibadah saya pada siapa-siapa, saya tetap ogah dikatakan tak beragama.

Tentang Teror

Tadi sore, anak laki-laki saya yang duduk di kelas tujuh bertanya mengapa ada terorisme dan siapa yang pertama kali memulainya.

sedih

Pertanyaan yang muncul setelah menonton berita sore mengenai bom di Kampung Melayu Jakarta itu mau tak mau membuat saya berpikir keras. Saya mencoba mengingat-ingat lagi beberapa buku bertema sejarah yang pernah saya baca. Dan, meski senang baca buku, saya lumayan payah dalam hal mengingat apa yang saya baca.

Setahu saya, kata terorisme berasal dari bahasa Perancis, le terreur. Kata ini digunakan pertama kali setelah masa Revolusi Perancis untuk menyebut kekerasan luar biasa yang dilakukan pemerintah pada kelompok yang dianggap menentang.  Pendukung kelompok anti pemerintah tersebut dipenggal, dan jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari dua puluh ribu kepala terlepas dari tubuh atas perintah penguasa saat itu.

Tentu saja teror tersebut diciptakan agar tak ada lagi yang berani melawan pemerintah. Menyebarkan ketakutan memang menjadi cara paling efektif dalam melakukan revolusi, dan cara ini kemudian banyak dilakukan di Amerika, Rusia dan Eropa, terutama pada pertengahan tahun 1900an dan kemudian menular ke seluruh dunia.

David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel pernah memprediksi bahwa terorisme bakal menjadi perang gaya baru di dunia. Fanatisme pada sebuah aliran tertentu perlahan-lahan dapat mengubah diri pengikutnya menjadi pembunuh. Pembunuhan terhadap orang-orang yang tak sepaham bisa saja dilakukan oleh satu orang atau sebuah kelompok.

Sebelum Perang Dunia II, terorisme umumnya dilakukan dengan membunuhi pejabat pemerintah yang dianggap tiran. Namun, menjelang akhir tahun 60an, terorisme mulai menyasar masyarakat sipil tak berdosa. Setahu saya, Front Pembebasan Nasional di Aljazair adalah yang pertama kali mempopulerkan hal ini. Mereka menyebar teror dengan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil, pejabat berpengaruh dan pendukung pemerintah Perancis. Ironisnya, Front Pembebasan Nasional ini adalah gerakan yang memerdekakan Aljazair dari penjajahan Perancis.

Saat ini, pembunuhan semacam itu tak lagi diminati oleh para teroris, sebab tak efektif lagi. Cara baru dalam meneror kemudian beralih. Mereka lebih suka menggunakan bom. Alasannya skala korbannya bisa lebih besar , dengan begitu perhatian dunia bisa terfokus pada mereka. Selain itu ketakutan lebih hebat dapat tercipta dengan lebih mudah.

Saya masih ingat film dokumenter BBC tentang pemboman ‘Bloody Friday” di Irlandia pada Juli 1972. Kelompok pemberontak Irish Republican Army (IRA) menebar teror di kota Belfast dengan meledakkan 19 bom secara beruntun dalam 80 menit. Pusat kota kecil itu berubah mencekam setelah ratusan penduduk sipil terkena imbas ledakan. “Kesukesan” teror bom IRA inilah barangkali yang kemudian menginspirasi teroris-teroris lain di dunia untuk melakukan hal serupa, termasuk di Indonesia.

Jika pada peristiwa bom Bali, bom Marriot, bom Kuningan dan lainnya yang terjadi pada awal tahun 2000an dilakukan karena sentimen terhadap Amerika Serikat dan negara-negara aliansinya, teror bom yang terjadi beberapa tahun terakhir lebih mengarah pada gerakan mendirikan negara Islam. Tapi, apapun tujuannya saya tetap tak pernah bisa mengerti jalan pikiran pelaku teror bom.

Saya tak pernah bisa mengerti seberapa indahnya surga yang dijanjikan untuk mereka. Barangkali pemahaman religius saya terlalu rendah, tapi jika surga dipenuhi oleh pelaku teror semacam mereka, kayaknya saya akan meminta Tuhan agar tidak mengirim saya ke sana deh. Buat saya, tak masuk akal rasanya membunuh orang tak berdosa hanya karena sebuah keyakinan. Kata Jihad telah kehilangan makna sebenarnya, bukan lagi melakukan upaya untuk mencapai kebaikan di jalan Tuhan, tapi membunuhi siapapun yang tak sepaham.

Buat saya membunuh ya membunuh. Ideologi barangkali dapat membuat orang menjadi martir, tapi untuk apa membunuhi orang tak berdosa? Tentara yang gugur ketika bertugas juga pahlawan pembela. Bedanya, jika pulang dengan gelar anumerta, mereka mendapat penghormatan.

Dalam sebuah biografi yang ditulis Walter Isaacson, Albert Einstein mengkatan, “Had I known that the Germans would not succeed in producing an atomic bomb, I would have never lifted a finger.” Jika saya tahu Jerman tak akan pernah berhasil membuat bom atom, saya pasti tak akan unjuk jari. Dengan kata lain, Einstein sangat menyesali keputusannya membantu Amerika mengembangkan teori Reaksi Berantai. Teori yang tak pernah disangkanya menjadi dasar pengembangan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshma dan Nagasaki.

Sedih memang. Semoga tak ada lagi penggila surga yang meledakan bom demi sebuah keyakinan yang berlawanan dengan nurani kebanyakan orang. Hanya demi sebuah perang yang tak pernah dimenangkan. Terlalu menyeramkan jika setelah bom bunuh diri, bom mobil dan bom panci, lantas ada teroris yang beride untuk  meledakkan bom sebesar kota Jakarta. Amit-amit 🙁

My deepest sympathy for the bombing victims in everywhere around the world in the last three days.

Majalah dan Saya

Bulan depan, majalah Hai akan terbit buat terakhir kalinya. Konon sih, sebab belum ada pernyataan resmi dari pihak majalah. Saya hanya baca soal ini kemarin di Twitter dan forum Kaskus.

 

Jika benar, maka ini sudah kesekian kalinya majalah-majalah populer gulung tikar, nggak terbit lagi. Sedih deh dengernya, sebab majalah Hai itu memento banget buat saya. Majalah Gadis juga. Bisa dibilang kedua majalah itu berperan besar di masa remaja saya.

Continue reading

« Older posts Newer posts »

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: