#17. Tak Otomatis Romantis (Part 2)

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

#28harimenulistentangcinta Seumur hidup, saya hanya dua kali berpacar. Sekali saat SMA, dan satu lagi ketika kuliah. Dari kedua pacar itu, tak pernah saya mendapatkan pengalaman hari Valentine. Tak satu pun dari mereka pernah mengatakan “Will you be my Valentine?” Juga tak pernah ada candle light dinner, kartu ucapan penuh simbol hati, kiriman coklat atau bunga. Coklat, saya nggak keberatan nggak dikasih, sebab memang nggak doyan. Tapi bunga? Kadang kepingin juga sih dikirimi. Pacar terakhir yang kemudian saya nikahi, pernah membelikan satu buket mawar merah. Itu dilakukannya hanya satu kali dalam dua puluh empat tahun kami bersama. Lucunya, saya tak merasa terharu atau berbunga-bunga ketika menerimanya. Biasa saja. Sebab saya tahu, dia hanya sedang menuruti keinginan saya, menyenangkan saya. Memberikan bunga atau hadiah bukanlah gayanya, dan ia tak pernah menjadi diri sendiri saat melakukannya. Buatnya cinta adalah apa yang dilakukan, bukan dikatakan. Oh, tentu saja saya akan melayang ke langit ketujuh ketika seorang pria memuji saya cantik, pintar atau seksi. Siapa sih yang tidak? Apalagi jika yang mengatakan seganteng Keanu Reeves atau se-hot Adam Levine. Tak […]

#16. Kepercayaan dan Cinta

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

Ketika sebuah kepercayaan rusak oleh sebuah kebohongan, ada hati yang akan sangat terluka   Kita hanya bisa mencintai orang yang kita percayai Sebab cinta dibangun atas dasar rasa percaya. Sebagai individu yang rasional, kita hanya mampu mencintai seseorang yang bisa kita percaya. Tanpanya, sebah hubungan bakal lekas berakhir sebelum mata selesai berkedip. Sebab cinta merupakan refleksi kemampuan kita memercayai orang lain. Kemampuan untuk secara egois memberikan cinta kepada seseorang hanya muncul apabila kita meyakini ada timbal balik. Kita memercayai untuk dipercayai, namun kita hanya mencintai jika memiliki harapan untuk dicintai. Sebab cinta datang setelah rasa percaya tumbuh. Tanpa rasa percaya, sulit membuka diri pada orang lain. Sebab cinta tak dapat menyelamatkan kita dari roller coaster emosi. Seringkali, kita dibutakan oleh apa yang ditawarkan oleh cinta, yaitu rasa diterima, dikagumi atau disukai orang lain. Sebaliknya, kepercayaan kerap mengingatkan alasan awal sebuah hubungan dibangun. Sebab kita telanjur percaya bahwa cinta mengalahkan segalanya. Sebenarnya justru rasa percayalah yang mendorong kita untuk yakin bahwa kita dapat dan akan mengalahkan segala rintangan hidup. Sebab bukan cinta, melainkan kepercayaan yang membuat […]

#13. Alasan Selingkuh (Part 1)

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

#28harimenulistentangcinta “Astrid, kenapa cowok berselingkuh?” tanya seorang kawan perempuan pada suatu siang. Pertanyaan yang membuat saya gelagapan tak bisa menjawab dan akhirnya kepikiran seharian. Entahlah, saya kok merasa satu-satunya cara menjaga agar cowok nggak selingkuh adalah dengan menciptakan relationship yang baik.  Menurut saya, rasa bersalah menyakiti pasangan bisa lebih kuat buat “menahan” cowok agar tak selingkuh dibandingkan takut putus, dikucilkan teman dan keluarga, atau tertular penyakit mematikan. Persoalannya, pemikiran saya sudah kuno. Sebab, bahkan pernikahan atau hubungan pacaran yang baik-baik saja ternyata tak mampu menahan pria untuk selingkuh. Ia barangkali bertemu teman lama, atau mantannya, lalu kewalahan dengan segala nostalgia di antara mereka. Bisa juga seorang yang belum lama dikenalnya lantas chemistry di antara keduanya memercik. Ia mulai suka menghabiskan waktu dengan orang ini dan mencari jalan untuk bertemu dengannya. Mengirimi pesan teks, menelpon atau ngobrol di media chatting. Semua atas nama persahabatan. Angin segar itu awalnya berembus sepoi-sepoi dalam kehidupan asmaranya, dan kemudian tiba-tiba ia menemukan dirinya telah  jatuh ke dalam sebuah hubungan yang dapat mengubah dunia pasangannya menjadi kocar-kacir.  Pria mulai mengabaikan pasangannya, tak […]

#12. Ketika Semua (Tak) Indah Pada Waktunya

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

Cinta dan seks itu dekat, kan? Jadi saya mau masukkan pembahasan tentang seks dalam tantangan #28harimenulistentangcinta. Oh, tentu tidak mesum. Saya ogah terkena pasal UU ITE, amit-amit! (ketok-ketok meja) 🙁 Tapi begitulah. Kata seks selalu lekat dengan mesum. Seks tak dianggap indah lagi sejak foto-foto dan video telanjang mudah diakses oleh siapa saja dan dari media mana saja. Urusan seks selalu menarik dibahas diam-diam. Entah lewat lelucon sok patriarkis di antara kaum lelaki di tempat ngopi, atau bisik-bisik  antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu. Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang rapat atau grup Whatsapp. Padahal seks sebuah pengetahuan sakral. Ia bukan saja menyoal ketelanjangan, dan kerap diapresiasi dalam karya-karya sastra kuno. Barangkali orang lebih mengenal Kama Sutra dari India, padahal leluhur kita juga punya Serat Centhini. Sebuah karya sastra Jawa kuno gubahan para pujangga hebat dari keraton Surakarta yang dirilis di awal abad ke-19. Informasi seks dan seksualitas di dalamnya jauh lebih lengkap dan “menantang,” Terdiri dari ratusan tembang (lagu) bersyair bahasa Jawa yang hampir seluruhnya berbicara mengenai seks dan seksualitas. […]

#11. The Good of Being Single

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

Tantangan #28harimenulistentangcinta saya katanya bikin beberapa teman kena baper akut 😀 Jadi, kali ini saya mau cerita tentang kawan saya aja deh. Cowok pinter, berpenampilan dan berperilaku baik, lulusan luar negeri, berkarier bagus dan… masih jomblo. 🙂 Dua siang yang lalu saya ketemuan dengan kawan lama itu. Di usia jelang empat puluh, ia sangat menikmati kehidupan membujangnya, dan tak peduli ketika banyak yang mengingatkan bahwa secara konstruksi sosial semestinya ia sudah menikah dan beranak. Saya dan dia membahas masalah konstruksi sosial ini. Ia menceritakan pada saya mengenai sebuah survei yang hasilnya dipublikasi dalam buku berjudul “So Why Have You Never Been Married? – Ten Insights into Why He Hasn’t Wed.” Saya belum pernah baca bukunya sih, jadi saya cuma bisa mendengarkan analisisnya. Intinya buku itu ditulis agar bisa memberi pemahaman, khususnya buat pembaca perempuan, mengapa banyak lelaki sukses dan pintar (seperti kawan itu) lebih suka memilih tidak menikah. Kesimpulannya, para lelaki itu bukan takut pada perkawinan. Mereka takut dengan perkawinan yang gagal. Juga, sepuluh kali lebih takut buat kawin dengan orang yang salah ketimbang perkawinan itu […]

#10. Pasir dalam Genggaman

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

Relationships of all kinds are like sand held in your hand. Held loosely, with an open hand, the sand remains where it is. The minute you close your hand and squeeze tightly to hold on, the sand trickles through your fingers. ~ Kaleel Jamison, penulis. Sebuah hubungan, dalam bentuk apapun, mirip seperti pasir dalam genggaman. Ketika kita melonggarkan genggaman, dengan membuka telapak tangan, pasir tersebut tetap berada di tempatnya.  Namun, di menit pertama kita menutup erat genggaman tersebut, pasir akan segera mencari jalan keluar melalui celah antara jari-jari. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Jamison yakin pemikirannya sangat pas berlaku bagi sebuah hubungan. Genggam dengan santai, dengan penuh rasa hormat sambil memberikan kebebasan bagi pasangan, maka hubungan cintamu nggak akan pernah berantakan. Saya hanya setuju sekitar tujuh puluh dua persen. Sebab buat saya jatuh cinta berarti kerja keras. Kamu dan pasanganmu harus kerja keras untuk membuat sebuah hubungan berhasil. Nggak peduli seberapa dalam cinta dan chemistry yang kamu rasakan pada seseorang, kamu tetap harus menyediakan waktu dan upaya agar hubungan tersebut berhasil. Dalam konteks ini, abaikan mitos dan dongeng mengenai […]

#9. Samsara

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

#28harimenulistentangcinta Kamu percaya bahwa setiap orang punya soul mate? Sebetulnya saya sendiri rada skeptis dengan konsep semacam ini, cuma banyak kawan yang merasa telah menemukan soul mate-nya terlepas apakah mereka bisa memilikinya atau sekedar mempunyai hubungan mutual platonis. Konsep soul mate sendiri berawal dari mitos Yunani. Konon moyang manusia dulunya mempunyai dua kepala dan empat pasang tangan dan kaki (bayangkan betapa ribetnya itu). Suatu hari ia cari gara-gara sama para dewa. Karena jengkel, para dewa lalu memberi hukuman dengan memisahkan mereka tepat di tengah. Jadilah manusia yang sekarang dengan satu kepala dan dua pasang tangan dan kaki. Akibat dari hukuman itu, manusia jadi menyalahkan diri sendiri dan menghabiskan hidup mencari pasangan jiwa yang hilang itu. Nah, itulah soul mate kita. Pada konsep reinkarnasi dan karma, dikenal kata Samsara. Dalam bahasa Sansekerta ‘Sam’ berarti kebersamaan, dan ‘Sarati’ berarti mengalir. Sehingga Samsara bisa diartikan sebagai sebuah lingkaran kehidupan yang tak pernah terputus. Soul mate masuk dalam kategori Samsara ini. Banyak yang meyakini bahwa soul mate pernah bersama di kehidupan sebelumnya. Kemudian, di kehidupan berikutnya, mereka meneruskan kebersamaan […]

#8. Cinta (Tak) Harus Memiliki

Posted on Leave a commentPosted in 28 Hari Menulis Tentang Cinta

#28harimenulistentangcinta Katanya, cinta tak harus memiliki. Kata saya, masa sih? Kayaknya saya kena karma, sebab dulu suka menertawakan orang-orang yang punya prinsip begitu. Buat saya, cinta itu ya harus memiliki. Kalau enggak, ngapain buang-buang waktu dan energi buat mencintainya? Prinsip saya, jatuh cinta itu harus resiprokal. Orang yang kita jatuhi cinta harusnya juga balik mencintai kita.     Nyatanya, teori saya hanya berlaku di dunia yang sempurna, dan sayangnya saya enggak tinggal di sana. Alasan inilah yang membuat seseorang cenderung jatuh cinta dengan orang yang nggak available buatnya, baik secara emosional maupun karena faktor lain. Barangkali ia sudah ada yang punya, atau ingin berkarier tanpa diganggu urusan cinta, atau ia ternyata mata-mata negara sebelah yang sedang merahasiakan identitasnya. Bisa juga ia terlalu jaim, terlalu jual mahal atau memang ia tak tertarik sama sekali padamu. Ada jutaan alasan kenapa seseorang tidak bisa kita miliki, dan apapun itu hasilnya selalu sama. Kita harus meninggalkannya dengan patah hati. Lucunya penolakan tak jarang membuat kita jadi lebih menginginkan orang tersebut. Jika keinginan itu lantas menjadi obsesi, realitas kadang dibuat […]