Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Page 3 of 14

Utopia

I think John Lennon gave us nothing but utopia…

astridsv's blog

Begitu potongan komentar seorang kawan beberapa waktu lalu pada postingan Beyond Border.

Utopia. Benar, mendengar kata ini mungkin kamu akan langsung teringat tulisan Sir Thomas More yang terbit tahun 1516. Buku tersebut mendeskripsikan kehidupan masyarakat sempurna di negeri khayalan.

Tapi saya malah teringat pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD. Buat saya, kalimat ”Ini Budi. Itu ibu Budi” bukan sekedar pelajaran mengeja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah doktrin tentang kehidupan ideal yang terus ditanamkan ke otak.

Budi, Wati, Iwan — kakak adik yang tinggal di kota dengan kedua orang tuanya. Setiap pagi sehabis sarapan, mereka berangkat ke sekolah sementara bapak pergi bekerja dan ibu pergi ke pasar.

Di sore hari, bapak santai membaca koran sementara duduk ibu menjahit di samping bapak. Wati dan Budi belajar sementara Iwan bermain bola. Ketika liburan tiba, mereka pergi ke desa mengunjungi kakek nenek serta paman bibinya. Bermain di sawah yang menguning, menggembala ternak, memberi makan unggas kemudian bermain di kali lalu menikmati pemandangan alam.

Begitu idealnya gambaran kehidupan Budi dan keluarganya, sehingga saya sempat heran kenapa nenek kakek serta paman bibi saya tidak tinggal di desa. Tak ada keluarga saya yang punya pertanian subur apalagi peternakan makmur. Mereka semua tinggal di kota. Kalau libur, saya dan mereka malah pergi ke Ancol (waktu itu Dufan belum ada) atau kebun raya, pernah juga ke Monas.

Oh, tentu saja saya masih terlalu kecil untuk mengerti apapun tentang kehidupan yang sempurna. Saya cuma merasa hidup saya kok nggak sekeren hidupnya si Budi itu.

Begitulah. Utopia dijabarkan lewat mata pelajaran, dongeng sebelum tidur, novel fiksi, film, bait lagu, atau apa saja. Namun pertanyaannya, kalau tahu tempat ideal itu nggak pernah ada, lalu kenapa kita menciptakannya dalam khayalan?

Entahlah. Barangkali supaya saat seseorang yang bangun subuh buat mengantri sembako, melepas sawah untuk biaya menjadi TKW, menggadaikan motor untuk biaya rumah sakit, atau menjual diri untuk melunasi uang sekolah ~ mereka tetap punya sesuatu; harapan untuk hidup!

Saat situasi menjadi begitu sulit, mengkhayalkan sebuah negeri yang ideal dengan kehidupan yang sempurna bisa jadi sebagai cara untuk bertahan – agar manusia tetap waras dan gak bunuh diri.

Ironisnya, di tengah korupsi, pertikaian antar kepentingan dan segala macam permasalahan bangsa — bait lagu koes plus tentang bukan lautan hanya kolam susu, dimana hanya dengan menancapkan tongkat kayu, maka tumbuhlah ia menjadi pohon berbuah subur, terasa seperti satir.

————-

Utopia/yoo’towpieeu/n; 1 an imaginary place considered to be perfect or ideal. 2 ideally perfect state; especially in its social and political and moral aspects. [Oxford Learner’s Pocket Dictionary]

Agama

”Astrid, kenapa agama begitu penting di sini?”

”Kenapa Bapak bertanya?”

”Karena, setiap berkenalan dengan orang baru, saya pasti ditanya apakah saya Katolik atau Protestan”

”Dan apa jawaban Bapak?”

”Saya kira saya tidak peduli apa agama saya. Lagipula buat saya agama adalah sesuatu yang tak rasional”

agama

Itu adalah sekelumit percakapan saya dengan Greet Andersen beberapa tahun lalu saat saya mendapat kehormatan mengajar bahasa Indonesia kepada duta besar Denmark tersebut. Tentunya obrolan itu dalam bahasa Inggris, sebab ia masih beginner.

Awalnya Greet mengira Indonesia adalah negara Islam seperti di kebanyakan negara di jazirah Arabia, artinya hukum Islam dijalankan secara ketat. Makanya saat pertama menginjakan kaki di bandara Jakarta, dia terheran-heran dengan banyaknya perempuan berkaus dan jeans ketat. Ia juga heran melihat mereka kelihatan tak punya masalah berdampingan dengan perempuan yang berhijab, dan yang paling membuatnya heran (karena tak pernah ia lihat sebelumnya) adalah perempuan berhijab dan mengenakan kaus serta jeans ketat ada di mana-mana.

Ia bercerita di negaranya, meski tak ada larangan seperti di Perancis, mengenakan simbol-simbol agama dilihat sebagai kaum terbelakang. Pada umumnya, beragama bukan hal yang esensi di sana.

Saya bercerita, di sini mengaku tidak beragama justru akan mendatangkan banyak masalah, sebab agama adalah identitas. Seseorang tanpa agama seperti seseorang tanpa nama. Mengenai apakah agama itu dijalankan dengan benar, biasanya tidak menjadi masalah.

Dari obrolan itu, mengertilah Greet mengapa agama adalah salah satu hal yang pasti akan ditanyakan orang Indonesia selain umur, status pernikahan, suku dan pekerjaan.

Namun, saat di sela-sela obrolan Greet sempat menyebut Indonesia sebagai negara sekular, dan itu membuat saya sedikit tak nyaman. Barangkali tak satupun orang Indonesia, dari masa Soekarno hingga Joko Widodo, yang berani secara eksplisit mengatakan Indonesia adalah negara sekular.

Tapi begitulah. Ada kekuatan transformatif dan metaforis dalam bahasa sehingga kita percaya bahwa sebuah kata mampu menggambarkan kenyataan. Makanya saya gentar sama kata itu.

Kembali pada Greet Andersen. Beberapa hari setelah percakapan kami, ia agak terkejut melihat saya memakai kerudung. Katanya; ”Kamu muslim? Saya kira kamu tidak menganggap agama itu penting.”

Sebenarnya sih saat itu, saya cuma mau melayat ke tetangga, tapi dengan jaim dan sok inosen saya menjawab; ”Oh, saya muslim yang taat beribadah, kok” 😀

Sebab, meski saya tak menunjukkan ibadah saya pada siapa-siapa, saya tetap ogah dikatakan tak beragama.

Tentang Teror

Tadi sore, anak laki-laki saya yang duduk di kelas tujuh bertanya mengapa ada terorisme dan siapa yang pertama kali memulainya.

sedih

Pertanyaan yang muncul setelah menonton berita sore mengenai bom di Kampung Melayu Jakarta itu mau tak mau membuat saya berpikir keras. Saya mencoba mengingat-ingat lagi beberapa buku bertema sejarah yang pernah saya baca. Dan, meski senang baca buku, saya lumayan payah dalam hal mengingat apa yang saya baca.

Setahu saya, kata terorisme berasal dari bahasa Perancis, le terreur. Kata ini digunakan pertama kali setelah masa Revolusi Perancis untuk menyebut kekerasan luar biasa yang dilakukan pemerintah pada kelompok yang dianggap menentang.  Pendukung kelompok anti pemerintah tersebut dipenggal, dan jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari dua puluh ribu kepala terlepas dari tubuh atas perintah penguasa saat itu.

Tentu saja teror tersebut diciptakan agar tak ada lagi yang berani melawan pemerintah. Menyebarkan ketakutan memang menjadi cara paling efektif dalam melakukan revolusi, dan cara ini kemudian banyak dilakukan di Amerika, Rusia dan Eropa, terutama pada pertengahan tahun 1900an dan kemudian menular ke seluruh dunia.

David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel pernah memprediksi bahwa terorisme bakal menjadi perang gaya baru di dunia. Fanatisme pada sebuah aliran tertentu perlahan-lahan dapat mengubah diri pengikutnya menjadi pembunuh. Pembunuhan terhadap orang-orang yang tak sepaham bisa saja dilakukan oleh satu orang atau sebuah kelompok.

Sebelum Perang Dunia II, terorisme umumnya dilakukan dengan membunuhi pejabat pemerintah yang dianggap tiran. Namun, menjelang akhir tahun 60an, terorisme mulai menyasar masyarakat sipil tak berdosa. Setahu saya, Front Pembebasan Nasional di Aljazair adalah yang pertama kali mempopulerkan hal ini. Mereka menyebar teror dengan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil, pejabat berpengaruh dan pendukung pemerintah Perancis. Ironisnya, Front Pembebasan Nasional ini adalah gerakan yang memerdekakan Aljazair dari penjajahan Perancis.

Saat ini, pembunuhan semacam itu tak lagi diminati oleh para teroris, sebab tak efektif lagi. Cara baru dalam meneror kemudian beralih. Mereka lebih suka menggunakan bom. Alasannya skala korbannya bisa lebih besar , dengan begitu perhatian dunia bisa terfokus pada mereka. Selain itu ketakutan lebih hebat dapat tercipta dengan lebih mudah.

Saya masih ingat film dokumenter BBC tentang pemboman ‘Bloody Friday” di Irlandia pada Juli 1972. Kelompok pemberontak Irish Republican Army (IRA) menebar teror di kota Belfast dengan meledakkan 19 bom secara beruntun dalam 80 menit. Pusat kota kecil itu berubah mencekam setelah ratusan penduduk sipil terkena imbas ledakan. “Kesukesan” teror bom IRA inilah barangkali yang kemudian menginspirasi teroris-teroris lain di dunia untuk melakukan hal serupa, termasuk di Indonesia.

Jika pada peristiwa bom Bali, bom Marriot, bom Kuningan dan lainnya yang terjadi pada awal tahun 2000an dilakukan karena sentimen terhadap Amerika Serikat dan negara-negara aliansinya, teror bom yang terjadi beberapa tahun terakhir lebih mengarah pada gerakan mendirikan negara Islam. Tapi, apapun tujuannya saya tetap tak pernah bisa mengerti jalan pikiran pelaku teror bom.

Saya tak pernah bisa mengerti seberapa indahnya surga yang dijanjikan untuk mereka. Barangkali pemahaman religius saya terlalu rendah, tapi jika surga dipenuhi oleh pelaku teror semacam mereka, kayaknya saya akan meminta Tuhan agar tidak mengirim saya ke sana deh. Buat saya, tak masuk akal rasanya membunuh orang tak berdosa hanya karena sebuah keyakinan. Kata Jihad telah kehilangan makna sebenarnya, bukan lagi melakukan upaya untuk mencapai kebaikan di jalan Tuhan, tapi membunuhi siapapun yang tak sepaham.

Buat saya membunuh ya membunuh. Ideologi barangkali dapat membuat orang menjadi martir, tapi untuk apa membunuhi orang tak berdosa? Tentara yang gugur ketika bertugas juga pahlawan pembela. Bedanya, jika pulang dengan gelar anumerta, mereka mendapat penghormatan.

Dalam sebuah biografi yang ditulis Walter Isaacson, Albert Einstein mengkatan, “Had I known that the Germans would not succeed in producing an atomic bomb, I would have never lifted a finger.” Jika saya tahu Jerman tak akan pernah berhasil membuat bom atom, saya pasti tak akan unjuk jari. Dengan kata lain, Einstein sangat menyesali keputusannya membantu Amerika mengembangkan teori Reaksi Berantai. Teori yang tak pernah disangkanya menjadi dasar pengembangan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshma dan Nagasaki.

Sedih memang. Semoga tak ada lagi penggila surga yang meledakan bom demi sebuah keyakinan yang berlawanan dengan nurani kebanyakan orang. Hanya demi sebuah perang yang tak pernah dimenangkan. Terlalu menyeramkan jika setelah bom bunuh diri, bom mobil dan bom panci, lantas ada teroris yang beride untuk  meledakkan bom sebesar kota Jakarta. Amit-amit 🙁

My deepest sympathy for the bombing victims in everywhere around the world in the last three days.

Majalah dan Saya

Bulan depan, majalah Hai akan terbit buat terakhir kalinya. Konon sih, sebab belum ada pernyataan resmi dari pihak majalah. Saya hanya baca soal ini kemarin di Twitter dan forum Kaskus.

 

Jika benar, maka ini sudah kesekian kalinya majalah-majalah populer gulung tikar, nggak terbit lagi. Sedih deh dengernya, sebab majalah Hai itu memento banget buat saya. Majalah Gadis juga. Bisa dibilang kedua majalah itu berperan besar di masa remaja saya.

Continue reading

Taruna

Satu lagi anak muda mati sia-sia. Institusi ini atau itu, tak pernah ada kejelasan bagaimana kesalahan semacam itu terjadi dalam sistem ketika calon tarunanya mati atas nama kekerasan oleh senior. Oh, barangkali para kakak kelas itu tak jahat, mereka cuma tidak tahu bahwa gak setiap orang tahan dipukuli sampai mati.

Begitulah, sejak remaja ayah saya melarang saya pacaran – apalagi kawin dengan tentara. Lucunya, sewaktu SD saya pernah tertarik masuk ABRI, sebab terinspirasi film 30S/PKI yang – demi mengutuki komunisme – wajib ditonton seluruh pelajar se-Indonesia.

Continue reading

Random Kindness

Suatu siang di Jakarta, saya menumpang mobil kawan. Saat melewati gerbang tol, ia membuat saya terheran-heran, sebab ia membayari juga mobil di belakangnya. Tentu saja saya bertanya, dan jawabannya membikin saya lebih heran lagi. Katanya ia tak tahu siapa empunya mobil di belakang itu, ia hanya suka berbuat baik. Ia senang membayangkan wajah pengemudi tak dikenal itu bahagia karena tak perlu lagi membayar.

berbagi kebaikan

Dalam hati saya meledek, “Konyol, ah!’. Tentu saja saya begitu karena tak terima. Sebab saya malas mengakui kalau kawan saya itu orang baik. Soalnya, saya pernah mencoba berbuat baik juga, tetapi malah ditertawakan. Misalnya, saat makan di restoran burger, saya berinisiatif membuang bungkus burger dan gelas karton ke tempatnya – mencoba berempati pada pelayan restoran. Tak ada pujian, malah kawan-kawan saya bilang saya kebarat-baratan – “Halah…tiru-tiru bule lo!” kata mereka sambil meninggalkan nampan-nampan penuh sampah di meja.

Kali lain, saat naik mobil, kawan yang mengemudi membunyikan klakson keras-keras sambil menyumpah pada sopir angkot yang menyalipnya. Saat itu saya mencoba berempati pada sopir angkot dengan mengatakan pada kawan saya, “Dia kan lagi ngejar setoran, lo kan enggak’. Dan kawan itu memandang saya dengan tatapan aneh. Barangkali seaneh tatapan saya pada teman yg membayari tol untuk mobil di belakangnya tadi.

Berbuat baik sering jadi dilematis. Ada kawan yang ogah membantu orang yang kecelakaan. Alasannya, takut nanti malah berurusan dengan polisi. Kalau ketemu polisi, ujung-ujungnya duit juga. Makanya meski kesal, saya tak marah pada orang di depan saya yang membuka pintu minimarket lalu lebih suka menghempaskannya ketimbang menahannya sebentar, meski tahu ada orang lain di belakangnya.

Saya pun tak mencoba menegur mahasiswa yang terus duduk di bangku bis padahal di dekatnya ada simbok sayur yang kehabisan tempat duduk, berdiri tanpa bisa berpegangan karena keduanya tangannya sibuk memegangi bakulnya. Saya juga hanya bisa membatin bila melihat anak kecil membuang sampah di jalan, karena saya tahu ia tak salah. Ia cuma tak mengerti, sebab orang tuanya tak pernah memberi tahu.

Saya percaya bahwa berbuat baik tak bisa disuruh. Hal begitu cuma bisa dilakukan saat ada kesadaran pribadi. Saya bisa saja menceramahi atau memberi tahu orang lain agar tak menyampah sembarangan, tidak menyumpahi orang lain, tidak merokok di depan anak-anak, dan segala hal tentang perbuatan moral lainnya. Hanya saja itu tak terlalu berguna.

Yang saya tahu, kesadaran tentang moral timbul setelah melihat kebaikan yang dilakukan orang lain, bukan yang diucapkan. Persis seperti yang digambarkan oleh Anne Herbert dalam bukunya Random Acts of Kindness. Buku terbitan tahun 93 ini mengupas tentang kisah nyata orang-orang yang berbuat kebaikan secara acak, dan tanpa pamrih.

Pada teman saya yang berbuat kebaikan di jalan tol itu, ada keinginan buat meniru apa yang dilakukannya – membayari tol buat kendaraan tak dikenal di belakangnya. Persoalannya cuma satu; Jogja tak punya jalan tol.

Ngapem, Nyadran dan Padusan

Menjelang bulan puasa, saya suka mengamati kegiatan penduduk kampung dekat rumah, yang barangkali juga dilakukan kebanyakan kampung di Jogja dan Jawa tengah. Setidaknya ada tiga tradisi sakral turun temurun yang masih wajib dijalankan sampai sekarang; Ngapem, Nyadran dan Padusan. Namanya tradisi, memang gak berhubungan dengan ajaran Islam, cuma tanpanya berpuasa terasa ada yang kurang.

ngapem tradisi sebelum ramadhan
Ngapem adalah kegiatan membuat kue apem. Dilakukan dalam kurun waktu sebulan sebelum puasa dimulai, setelah pihak Keraton mengadakan acara Ngapem. Kue apem ini bersama ketan dan kolak – setelah dibacakan doa – akan dikirim ke para tetangga, teman, kenalan, besan, bahkan atasan. Karena penasaran saya pernah bertanya apa esensi dari Ngapem ini, sayangnya tidak ada yang ingat – barangkali karena tradisi ini sudah berusia ratusan tahun.

Yang menarik adalah bila saya dikirimi sepaket apem ketan kolak, maka kemudian saya harus membalas mengirimi paket yang sama kepada si pengirim tadi. Bayangkan kalau saya mendapat lima puluh paket dalam sehari! Beruntung saya suka makan.

Lalu ada tradisi Nyadran, sebuah ritual ziarah ke makam para moyang, tetua dan kerabat. Diawali dengan bersih-bersih makam, lalu penduduk kampung – dengan membawa besek nasi dan lauk pauk berjalan menuju makam. Seorang Modin (pemimpin agama) akan mengumpulkan besek-besek ini lalu membacakan doa, dan kemudian upacara diakhiri dengan menaburkan bunga ke pusara-pusara leluhur.

Nah, yang terakhir ini, Padusan, adalah yang paling unik. Dilakukan 1-2 hari sebelum puasa hari pertama. Pantai, kolam renang, sumber mata air dan pemandian umum di Jogja akan begitu penuh orang. Tua-muda, besar-kecil, dewasa dan anak-anak, semua tumplek jadi satu.

Larangan mandi di pantai-pantai selatan yang berombak ganas seolah gak ada artinya lagi. Buat kamu yang pada hari itu ingin bisa berenang santai di kolam atau pantai, jangan harap bisa bergaya dada, bergerak pun cukup sulit. Meski lucu, tradisi ini adalah bentuk sinkretis kebudayaan Jawa-Islam. Di dalamnya ada keharusan membersihkan diri sebelum mulai berpuasa.

Puasa memang bukan melulu milik agama Islam. Hampir semua agama dan kepercayaan menyarankan berpuasa mengingat manfaatnya yang baik. Namun menuru saya, puasa Ramadhan adalah yang paling unik, sebab dilakukan terus menerus selama satu bulan.

Saya belum tahu persis kapan awal puasa tahun ini akan dimulai, tapi buat semua yang akan berpuasa… selamat menjalankannya ya! Semoga lancar 🙂

Jemawa

Saya lagi kecewa, dan kepingin ngomongin seseorang.

Ia seorang penulis yang (tadinya) saya sukai. Buku-bukunya banyak dan ia terkenal. Lantas, saya merasa ia telah berubah menjadi jemawa. Tak tahan kritik. Merasa penulis best seller, lantas marah ketika ada orang lain yang memiliki pendapat atas buku-bukunya. Meski tak benar-benar marah secara verbal, gestur-nya menunjukkan “Emang lo siapa? Berani-berani ngritik gue, udah pernah nulis buku lo?”

Ini saya lihat ketika menghadiri bedah buku dan book signing event-nya di Jogja dua tahun lalu. Ia memperlihatkan ekspresi tak senang ketika beberapa mahasiswa dari fakultas sastra mempertanyakan sesuatu dari karyanya. Dan tentunya saya langsung kecewa, sebab (sebelum saya tahu bagaimana reaksinya atas kritik) saya penyuka tulisannya.

Beberapa hari lalu, saya lihat di medsos-nya, penulis tersebut marah-marah atas masukan follower-nya tentang konten bukunya. “Kalau ngasih komen, yang sopan, dong!” begitu reaksinya. Duh, saya langsung ilfil dan berniat tak akan pernah membeli karyanya lagi. Dan kayaknya saya nggak sendirian. Lagipula siapa sih yang nggak males kalau kasih feedback aja dimarahi hanya karena si penulis merasa dia lebih tahu sastra ketimbang pemberi komentar? Padahal buku solo-nya sedikit, sisanya buku keroyokan alias antologi, atau duet dengan penulis lain.

Karena setengah kecewa dan setengah sebal, saya langsung berujar sambil ketok-ketok meja,“Amit-amit deh aku jadi penulis sombong begitu.” Tapi lantas tersadar, jangan-jangan saya sudah seperti dia. Kemudian saya berusaha mengingat semua yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Benar, saya sudah menulis dua puluh buku, tiga per empatnya saya tulis sendiri. Sisanya saya tulis berdua dengan teman penulis. Eh, ini termasuk jemawa, kan ya? 🙂

Satu hal yang diajarkan suami pada saya, bahwa banyaknya buku saya yang sudah terbit hanya menunjukkan satu hal, yaitu saya bisa menulis sesuatu yang disukai penerbit dan dibeli pembaca. Jika mau terus seperti itu, satu-satunya cara adalah dengan terus belajar . Meng-upgrade diri. Tidak melulu dengan banyak baca buku atau mengikuti pelatihan menulis, tapi juga dengan belajar menerima kritik.

Bagaimana pun juga, pembaca adalah pembeli buku-buku saya. Mereka berhak mengkritik apapun yang mereka beli, dengan harga yang tak murah pula! Wajar jika ada yang nggak puas atau merasa terkecoh dengan tulisan saya, lantas memprotes. Lha wong, duit buat beli buku itu bisa buat beli satu cup Caramel Macchiato ukuran Venti di Starbuck, kok.

Trus, apa saya harus pasrah saja jika ada yang mengritik? Awalnya sih, siapa pun pasti langsung panas jika diprotes, apalagi saya yang mudah kesal dan baper. Cuma, memberi respons negatif juga enggak akan memperbaiki keadaan sih. Ya, ditampung saja dulu sambil bilang thank you, lalu setelah tenang gunakan kritikan itu sebagai panduan buat menulis dengan lebih baik.

Respons negatif cuma bakal membuat namamu sebagai penulis tercoreng. Padahal, kelangsungan karier penulis bergantung dari namanya. Dan mendapatkan nama dalam dunia penulisan (atau profesi apapun) bukan hal yang bisa dicapai semalam dua malam. Perlu kerja keras konsisten. Nah, masa cuma gara-gara kita emosi dan merespons kritik secara negatif, trus kerja keras kita berantakan? Malesin banget kan?

Lantas, bagaimana kalau pembaca mengkritik tanpa sopan santun? Tahu kan bagaimana kebanyakan orang sekarang berbahasa di medsos? Kadang pilihan katanya benar-benar menyakitkan. But well, we can’t control other people anyway. Jadi, kendalikan saja diri sendiri. Kalau komentarnya kejam, ya jangan dijawab dengan kejam. Apa bedanya saya dengan mereka kalau saya ikut-ikutan berkata pedas atas komentar mereka.

Lagipula, bukannya kalau ada kritik artinya karya kita memang benar-benar dibaca ya? Pembaca yang peduli akan selalu berusaha agar penulis kesayangannya tetap berada di jalur, tidak berubah menjadi jemawa.

« Older posts Newer posts »

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: