Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Page 4 of 14

Apa yang Paling Kamu Sesali dalam Hidup?

“Astrid, apa yang paling kamu sesali dalam hidupmu?” tanya seorang sahabat suatu kali, membuat saya terperangah dan berpikir lama.

Sebab saya belum pernah memikirkannya. Oke, barangkali ada beberapa hal yang ingin saya lakukan tetapi nggak jadi. Mengambil S2, kursus bahasa Spanyol, dan menjadi model. Tapi semua itu ada alasannya, jadi tak pernah saya sesali.

Continue reading

Nggak Ada Waktu Buat Menulis

Kadang bosan ditanya “bagaimana caranya jadi penulis produktif?” atau “bagaimana cara mengatur waktu untuk menulis?” sebab selalu ada yang ngeyel tiap kali saya menjawabnya. Saya sih nggak pernah keberatan kalau ada yang berargumen, cuma kadang argumen penanya terasa defensif. Misalnya, ya…

“Ya, kan mbak Astrid enggak kerja (kantoran) jadi bisa punya waktu buat menulis.”
“Mbak enak, anak-anaknya udah pada gede. Anak saya kan masih kecil, nggak bisa ditinggal.”
“Duh, ibu-ibu kayak aku sih udah enggak ada waktu buat menulis. Harus masak, nyuci, nyetrika, ngurus anak dan suami. Habis deh waktunya.”

Oh, argumen-argumen penuh pemakluman begitu suka bikin saya kesal setengah mati. Continue reading

IDGAF

Saya punya masalah dengan dianggap serius, terutama saat sedang sedih. Beberapa kawan mengira saya lagi berpura-pura galau atas nama sensasi, sebagian lagi terheran-heran. Sebagian yang terakhir ini barangkali menganggap otak saya  nggak merekam file kesedihan.

jangan lupa bahagia

Nggak salah juga sih kalau kawan-kawan berpikir begitu, sebab Continue reading

It Started With A Dream (Part 2)

Kawan,

Pernahkah kamu tiba-tiba bermimpi tentang seorang dari masa lalu, yang terlalu lama enggak pernah kamu jumpai, lalu bangun dan bertanya-tanya mengapa kamu bermimpi tentangnya? Lantas kamu mulai memikirkannya. Dan tak lama setelahnya, dengan tiba-tiba juga, orang itu menyapamu akrab di whatsapp dan kemudian berlanjut di fesbuk – sesuatu yg belum pernah terjadi sebelumnya, meski kamu memiliki kontaknya.

Continue reading

When Life Gives You Surprises (Part 2)

I feel a bit sentimental tonight

Buat beberapa orang, ngomongin saat-saat sulit di masa lalu itu bikin malu. Kebanyakan orang tenar juga lebih senang membagikan kisah suksesnya ketimbang masa-masa susahnya. Buat saya, hal-hal sulit di masa lalu justru harus diomongin atau diceritain ke orang-orang terdekat. Bukan pingin sok menderita, sebab saya perlu mengingat hal-hal nggak enak itu sebagai reminder bagi diri sendiri.

Sebenarnya, saya nggak pernah melalui titik balik kehidupan yang ekstrim. Saya juga enggak pernah menganggap masa lalu suram hanya karena ada kejadian-kejadian nggak enak yang menghalangi rencana atau keinginan saya. Barangkali karena dasarnya saya senang mikir positif, enggak merasa sedang bawa beban dan nggak betah mendengarkan pendapat orang lain tentang hidup saya.

Ada masa, saat ayah saya meninggal mendadak karena serangan jantung beberapa tahun yang lalu (tujuh belas tahun yang lalu sih tepatnya), situasi di rumah jadi lumayan keganggu. Saya dan adik-adik yang biasanya dikasih uang bulanan ratusan ribu (dan kadang masih minta tambah) harus mulai berhemat. Terbiasa tinggal di rumah besar, naik mobil bagus ke mana-mana, liburan ke Bali-Lombok bolak-balik, pesan tiket pesawat semudah pesan ojek online, mendadak harus mengerem kemewahan-kemewahan tersebut.

Beruntung bahwa sejak semester lima (meski tanpa sepengetahuan ayah) saya sudah punya kerjaan. Gaji kecil waktu itu nggak masalah, yang penting pengakuan terhadap intelegensi dan bakat. Namun, mendadak saya harus mencari cara agar bisa bergaji lebih tinggi. Bukan untuk bantu-bantu keuangan keluarga, tapi lebih untuk membiayai diri sendiri. Ayah saya meninggalkan cukup materi agar ibu, saya dan adik-adik bisa tetap hidup senang. Cuma saya terlalu angkuh buat menerimanya, dan lebih suka menikmati penghasilan sendiri.

Ayah saya meninggal satu setengah bulan sebelum pernikahan saya. Kepergiannya yang tiba-tiba banget sempat membuat saya kebingungan untuk meneruskan rencana pernikahan yang telah disusun sejak setahun sebelumnya. Sempat terpikir buat membatalkan saja, tapi keluarga mencegah. Ibu saya bilang, teruskan saja sebab itu yang diinginkan ayah. Jadilah, selepas empat puluh hari kepergiannya, saya menerima janji nikah yang diucapkan suami saya di depan penghulu. Perasaan saya kacau waktu itu, antara senang karena akhirnya menikah dan masih begitu berduka akan kepergian ayah saya.

Tapi ya, memang kayaknya saya harus deh kehilangan ayah saya saat itu. Dengan begitu, saya jadi jauh lebih mandiri mengelola keluarga. Saya sempat membayangkan, jika ayah masih ada, barangkali sampai hari ini kami enggak akan punya rumah hasil jerih payah sendiri. Ayah yang terlalu sayang sama anak-anaknya, enggak akan tega membiarkan saya bekerja keras hanya untuk memiliki rumah dan mobil dan lebih suka menghadiahi. Ia juga pasti akan terus membantu keuangan kami setiap bulan.

Akibatnya sudah ketebak. Saya enggak akan tahu rasanya susah atau kerja keras. Saya juga mungkin enggak pernah belajar menghargai kemampuan diri sendiri, sebab terbiasa dengan hidup yang mudah. Dan barangkali saya akan tetap jadi orang yang nggak ngerti nilai uang yang sebenarnya. Malu hati deh kalau cerita begini, sebab di luar sana banyak banget yang lebih tidak beruntung daripada saya. Tapi untuk ukuran orang yang biasa ‘hidup enak’ dan ‘gampang, masa-masa setelah ayah pergi itu bener-bener sebuah ujian.

Lantas, apa saya menjalan hidup dengan tenang dan hepi-hepi aja?

Ya enggak lah. Namanya juga manusia, pasti ada emosi-emosinya.  Tapi apa boleh buat, kerjaan saya menuntut agar tetap ramah dan profesional karena waktu itu saya menghadapi klien-klien orang asing. Nggak cocok deh ya kalau saya sering galau di depan mereka dan teman-teman kerja. Jadi, di satu sisi, hidup rasanya berat banget, tapi di sisi lain harus jadi pribadi yang bisa diajak kerja sama, brainstorming, dan ngobrol. Multi-tasking mental nggak tuh judulnya?

Untung saya perempuan. Dan perempuan itu yang udah dari sananya dikaruniai kelebihan yaitu bisa lembut sekaligus kuat dalam waktu yang bersamaan. Marah, kesal, bete, baper pasti ada, tapi saya nggak punya alasan untuk menunjukkannya di muka umum, kan? Mesti kuat dong. Lagipula, yang lagi nggak enak itu cuma satu sisi kehidupan aja kok, selebihnya sangat bisa dinikmati dan disyukuri. Mental saya nggak goyah dan sisi perempuan saya tetap lembut. Saya malah menjadi lebih humoris sejak saat itu. Sampai sekarang, teman-teman mengganggap saya sebagai ‘si lucu yang nggak pernah sedih dan baper’ – meski sebenarnya nggak gitu-gitu amat sih.

Tujuh belas tahun setelah kepergian ayah, dan saya merasa bisa membuatnya bahagia. Meski sukses yang saya inginkan belum di tangan, saya merasa ayah bangga. Dulu, saya sering melihatnya berwajah cemas dalam mimpi-mimpi saya, tapi sekarang tidak lagi. Barangkali ia sekarang lebih tenang karena tahu anak perempuannya baik-baik saja setelah ia tak lagi menjaganya. Barangkali saat ini, ia sedang memamerkan kehebatan saya di depan malaikat-malaikat di surga, seperti dulu ia suka membanggakan saya di depan teman-temannya.

Hope you’re doing well in heaven,Dad. I love you to the moon and back.

Move On Itu Gampang

Move on itu gampang. Melepaskan kenangan masa lalu yang sulit.

Buat saya move on itu tindakan, bukan niat. Kita move on bukan karena ingin, tapi karena harus. Nggak bisa dong kita terus-terusan sengsara, bertahan pada pemikiran “seandainya saja…” dan nggak berhenti menyalahkan diri sendiri.

move on itu gampang

Putus cinta nggak pernah mudah, sebab kamu harus berurusan dengan rasa sakit yang begitu kuat. Dan rasa sakit itu baru awalnya, sebab setelah berhasil mengatasi rasa itu, mulailah fase kekosongan. Rasa hampa bakal kamu rasakan hingga ke relung-relung tergelap dalam hati kamu.

Nggak ada yang bisa memahami kamu, bahkan orang-orang terdekat pun jadi susah dipercaya. Kalimat penghibur semacam “tenang saja, nanti pasti akan ada yang lebih baik,” sama sekali nggak ngebantu. Sebaliknya, malah menjengkelkan. Ini adalah kenyataan menyakitkan karena kamu masih dalam tahap rentan, sebab satu-satunya orang yang kamu inginkan adalah orang yang telah pergi dari hidupmu.

Tentu saja, kamu bisa menghapus semua hal yang mengingatkanmu padanya. Men-delete foto-fotonya dari ponsel, menghapus semua percakapan Whatsapp, membuang barang-barang yang pernah diberinya. Tetap saja, pada akhirnya ada hal yang tidak dapat dengan mudah dibuang, yakni kenangan saat bersama.

Tidak peduli seberapa keras mencoba, kamu tidak dapat membuangnya. Dan semakin kamu mencoba untuk melupakan, semakin tajam dan jelas ingatanmu pada saat-saat manis dengannya. Kamu terus merindukan perhatian atau ucapan dia di masa lalu yang selama ini kamu abaikan. Kamu menyesali diri mengapa dulu nggak memberikan lebih banyak cinta padanya.

Tapi, hei, itu semua masa lalu. Berhenti menyiksa diri dengan penyesalan, sebab masa lalu adalah satu-satunya waktu yang tidak bisa kamu kendalikan.

Kamu pernah bersamanya, dan sekarang waktunya melepaskan keterikatanmu padanya. Rasa sakit akan terus datang dan pergi seperti gelombang laut, tapi sekali lagi, itu tidak akan membunuhmu, sebaliknya justru akan membuatmu lebih kuat. Jadi, berhenti melarikan diri dari rasa sakit merupakan cara terbaik.

Wajar jika rasanya seperti masih ada lubang menganga di dada. Kadang-kadang, rasanya seperti bara terakhir dalam api. Kenyataannya, kamu sendirian. Kamu ada di sini, sendiri. Tanpanya.

Tapi, kamu memiliki keluarga dan teman-teman. Mereka lah yang akan membantumu melalui semuanya. Mereka adalah tempat mencurhakan hati, pikiran, dan perasaanmu.

Hatimu sakit? Itu bagus, sebab berarti kamu benar-benar mencintainya. Kamu dan dia pernah berbagi cinta, makanya kamu merasa tak bisa berhenti mencintainya.  Tapi, sekarang saatnya kamu harus mulai mencintai diri sendiri.

Frank Herbert pernah bilang, “Ending itu nggak nyata. Ia hanya tempat di mana kita berhenti bercerita.”

When Life Gives You Surprises

I know life always surprises me, mostly in a good way. I don’t know when I started to realize it, but  I notice that the last five or six years, I experience a lot of things that change me to what I’m now.

indahnya hidup

I was a perfectionist. I usually had plans for everything and made wishes on how my days should turn out. I even expected a lot on how other people will act only to found out that it made me frustrated when things didn’t work as I hope. Unfortunately, things seem to twist too often and turned in ways I didn’t expect.

 Too often I found myself caught up in a situation in which my thoughts were racing. I was carried away and engaged in what was happening. Without warning, I was caught off guard, unprepared and surprised when something happened or when someone did or said thins that hurt me. And that has caused me negative stress and even anxiety.

Then I realize that life isn’t so linear. From time to time, even the best plans can go awry. Those unexpected moments I experienced taught me who I am and how flexible I am to “go with the flow.”  And those unexpected outcomes taught me that I must maintain equipoise between what I want and what is.

Like it or not, life will make me gather my friends and family for a huge celebration, and it also will make me curl up and wonder what went wrong. It takes time for me to learn that nothing went wrong. It is life that unfolds at its own rhythm.  I cannot always predict that there will be logical results to my actions. Life is full of lessons on the paths which dished out to me, some with greater obstacles to overcome. It is only my sense of humor, my métier, and my willingness to push through and learn the lessons that can make me endure and overcome things.

I know that I should expect the unexpected as life is full of surprises. There are many things I can’t prevent from happening because they’re meant to happen, but instead of running away from it, I should embrace it, solve it and learn from it.

#21. Sahabat Jadi Cinta… Atau Musuh

Wah, saya kalah tantangan nih dari murid-murid kelas menulis online saya. Mereka konsisten dengan #28harimenulistentangcinta, sementara saya hanya sampai tulisan ke 21. Alasan sakit dan deadline kerjaan kayaknya agak basi ya, tapi itulah yang terjadi. Ya sudahlah, tulisan kali ini dijadikan penutup saja untuk tantangan ini 🙂

sahabat

Terinspirasi banget sama miniseri yang lagi tayang di salah satu TV swasta. Temanya persahabatan yang kemudian berubah jadi cinta. Sebenarnya saya nggak tahu gimana persisnya perasaan seseorang yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Untungnya saya pendengar dan pengamat yang baik. Kisah beberapa teman yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri terekam jelas dalam ingatan. Dan karena berada di luar lingkaran, saya bisa melihat situasi sedikit lebih jelas daripada mereka yang terlibat.

Jatuh cinta dengan sahabat baik membawa emosi campuran. Kamu nggak tahu apakah sahabatmu merasakan hal yang sama, sehingga khawatir jika mengakui perasaan justru menghancurkan persahabatan luar biasa yang sudah dibangun bertahun-tahun. Memang sih, ada banyak pasangan bahagia yang memulai hubungan dari teman, lalu sahabat dan akhirnya cinta. Hubungan tersebut menjadi begitu berarti sebab sudah mengenal dengan baik satu sama lain sebelumnya, sehingga masing-masing merasa lebih nyaman ketika memulai hubungan cinta yang lebih serius.

Cuma, saya tetap percaya bahwa persahabatan antara seorang cowok dan seorang cewek itu sejatinya tak ada. Dalam dunia yang serba sempurna, tentu saja ada persahabatan manis antara cowok dan cewek yang sifatnya platonis dan seimbang. Ini hanya terjadi keduanya mampu menjalin komunikasi terbaik dan menghadapi dunia bersama. Sayangnya, dunia yang sempurna itu enggak eksis. Kebanyakan persahabatan macam itu selalu diakhiri dengan jatuh cinta yang ditindak lanjuti dengan menjadi pasangan atau, sebaliknya, saling menghindari.

Sejak kecil saya bermimpi memiliki persahabatan macam ini. Tapi cinta kemudian lebih berkuasa atas mimpi saya. Seringnya saya memilih menghindari situasi ini meski menjalani cinta macam ini juga bukan kesalahan. Buat saya cinta tetap enggak mampu membuat persahabatan beda gender menjadi platonis karena kemudian datanglah sejumlah tuntutan yang sebelumnya enggak pernah terpikirkan.

Tapi hidup memang penuh pilihan.

 

And when life surprises you, remember that not all these surprises are pleasant. So you need to be ready for what life brings you
« Older posts Newer posts »

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: