#20. Marriage Trivia

#28harimenulistentangcinta So everyone, here is our cheesy story…   Jumpa Pertama? Di kampus. Dia kakak kelas saya, dan kami sering papasan tapi nggak pernah menyapa. Lantas suatu hari tiba-tiba dia mendekati saya yang lagi sendirian nunggu kelas berikutnya. Memperkenalkan diri dengan pede, lalu bilang mau pinjam disket data. Belakangan saya tahu itu hanya alasan, sebab ia tak butuh disket dan datanya. Dia cuma ingin kenalan, tapi khawatir ditolak karena saya (katanya) jaim banget di kampus 😀 Tanggal Jadian? Nggak punya tanggal jadian. Soalnya dia bukan tipe yang suka nembak dan saya juga bukan orang yang butuh pengakuan semacam “I love you, Astrid, mau nggak kamu jadi pacarku?” Cocok, jalan. Nggak cocok, ya udahan. Se-simple itu 🙂 Menikah tanggal 20 Februari 2000, setelah masa tujuh tahun pacaran.   Naksir Duluan? Dia  😛 Tau sih saat dia pedekate, tapi saya nggak punya ekspektasi apa-apa. Soalnya, dia pendiam dan dikenal sebagai ‘anak baik-baik’ sementara saya doyan main, temennya kebanyakan cowok, nggak suka dandan, sering heboh sendiri, tukang ngatur, ceroboh dan kadang jutek. Awalnya saya kira dia pasti nyari cewek feminin yang rajin belajar dan taat beragama, berbakti pada orang tua serta nusa bangsa 😀 Nggak taunya, dia sukanya cewek ‘berantakan’ kayak saya, hehe  ... Read more

#18. Cinta Salah Jatuh

It takes two to Tango, three is a crowd Kita tak pernah tahu kapan dan dengan siapa akan jatuh cinta. Namun, bagaimana jika ternyata kamu jatuh cinta pada pacar sahabatmu? Oh, barangkali kamu akan mengalami kekacauan mental yang lumayan masif selama beberapa waktu. Apalagi, rasanya kejam jika ingin merebut pacar sahabat sendiri, meski perasaan kamu benar-benar sulit dikendalikan. Begitulah cinta segitiga memang selalu masuk dalam situasi paling ‘nggak banget’ dalam kehidupan seseorang. Salah cara mengatasi dapat membuat persahabatan buyar lebih cepat daripada pernikahan pertama Birtney Spears. Mengapa kamu menjadi sangat tertarik pada pacar teman dekatmu? Kamu dan sahabatmu pasti memiliki selera serupa. Kalian berdua mungkin memiliki kesamaan sifat, hobi, dan ketertarikan. Jika tidak, sulit rasanya menjadi dekat. Kesamaan selera ini barangkali juga berlaku dalam memilih pasangan. Tambahan lagi, pacar sahabatmu selalu ada di dekat kalian berdua, sehingga waktumu banyak untuk memperhatikan senyum manis atau selera humornya. Kita tahu, semakin sering kita menghabiskan waktu dengan seseorang, semakin besar peluang kita jatuh hati padanya. Ketertarikan terbangun melalui ikatan, dan ikatan tercipta lewat kebersamaan dan hal-hal yang dilakukan bersama. Jadi, wajar jika suatu hari kamu menemukan dirimu telah jatuh cinta pada pacar sahabatmu, dan ini bukan berarti kamu jahat. Kamu hanya harus tahu... Read more

#17. Tak Otomatis Romantis (Part 2)

#28harimenulistentangcinta Seumur hidup, saya hanya dua kali berpacar. Sekali saat SMA, dan satu lagi ketika kuliah. Dari kedua pacar itu, tak pernah saya mendapatkan pengalaman hari Valentine. Tak satu pun dari mereka pernah mengatakan “Will you be my Valentine?” Juga tak pernah ada candle light dinner, kartu ucapan penuh simbol hati, kiriman coklat atau bunga. Coklat, saya nggak keberatan nggak dikasih, sebab memang nggak doyan. Tapi bunga? Kadang kepingin juga sih dikirimi. Pacar terakhir yang kemudian saya nikahi, pernah membelikan satu buket mawar merah. Itu dilakukannya hanya satu kali dalam dua puluh empat tahun kami bersama. Lucunya, saya tak merasa terharu atau berbunga-bunga ketika menerimanya. Biasa saja. Sebab saya tahu, dia hanya sedang menuruti keinginan saya, menyenangkan saya. Memberikan bunga atau hadiah bukanlah gayanya, dan ia tak pernah menjadi diri sendiri saat melakukannya. Buatnya cinta adalah apa yang dilakukan, bukan dikatakan. Oh, tentu saja saya akan melayang ke langit ketujuh ketika seorang pria memuji saya cantik, pintar atau seksi. Siapa sih yang tidak? Apalagi jika yang mengatakan seganteng Keanu Reeves atau se-hot Adam Levine. Tak ada yang lebih membuat seorang perempuan meleleh daripada sebuah pujian dari orang yang sangat disukainya. Saya pun begitu. Ge-er setengah mati jika ada yang memuji,... Read more

#16. Kepercayaan dan Cinta

Ketika sebuah kepercayaan rusak oleh sebuah kebohongan, ada hati yang akan sangat terluka   Kita hanya bisa mencintai orang yang kita percayai Sebab cinta dibangun atas dasar rasa percaya. Sebagai individu yang rasional, kita hanya mampu mencintai seseorang yang bisa kita percaya. Tanpanya, sebah hubungan bakal lekas berakhir sebelum mata selesai berkedip. Sebab cinta merupakan refleksi kemampuan kita memercayai orang lain. Kemampuan untuk secara egois memberikan cinta kepada seseorang hanya muncul apabila kita meyakini ada timbal balik. Kita memercayai untuk dipercayai, namun kita hanya mencintai jika memiliki harapan untuk dicintai. Sebab cinta datang setelah rasa percaya tumbuh. Tanpa rasa percaya, sulit membuka diri pada orang lain. Sebab cinta tak dapat menyelamatkan kita dari roller coaster emosi. Seringkali, kita dibutakan oleh apa yang ditawarkan oleh cinta, yaitu rasa diterima, dikagumi atau disukai orang lain. Sebaliknya, kepercayaan kerap mengingatkan alasan awal sebuah hubungan dibangun. Sebab kita telanjur percaya bahwa cinta mengalahkan segalanya. Sebenarnya justru rasa percayalah yang mendorong kita untuk yakin bahwa kita dapat dan akan mengalahkan segala rintangan hidup. Sebab bukan cinta, melainkan kepercayaan yang membuat kita mampu mencintai lagi. Ketika pada akhirnya kita patah hati, rasa percaya adalah satu-satunya yang mampu mengajak kita menemukan seseorang yang lebih baik di antara... Read more

#13. Alasan Selingkuh (Part 1)

#28harimenulistentangcinta “Astrid, kenapa cowok berselingkuh?” tanya seorang kawan perempuan pada suatu siang. Pertanyaan yang membuat saya gelagapan tak bisa menjawab dan akhirnya kepikiran seharian. Entahlah, saya kok merasa satu-satunya cara menjaga agar cowok nggak selingkuh adalah dengan menciptakan relationship yang baik.  Menurut saya, rasa bersalah menyakiti pasangan bisa lebih kuat buat “menahan” cowok agar tak selingkuh dibandingkan takut putus, dikucilkan teman dan keluarga, atau tertular penyakit mematikan. Persoalannya, pemikiran saya sudah kuno. Sebab, bahkan pernikahan atau hubungan pacaran yang baik-baik saja ternyata tak mampu menahan pria untuk selingkuh. Ia barangkali bertemu teman lama, atau mantannya, lalu kewalahan dengan segala nostalgia di antara mereka. Bisa juga seorang yang belum lama dikenalnya lantas chemistry di antara keduanya memercik. Ia mulai suka menghabiskan waktu dengan orang ini dan mencari jalan untuk bertemu dengannya. Mengirimi pesan teks, menelpon atau ngobrol di media chatting. Semua atas nama persahabatan. Angin segar itu awalnya berembus sepoi-sepoi dalam kehidupan asmaranya, dan kemudian tiba-tiba ia menemukan dirinya telah  jatuh ke dalam sebuah hubungan yang dapat mengubah dunia pasangannya menjadi kocar-kacir.  Pria mulai mengabaikan pasangannya, tak lagi punya waktu untuknya dan tiba-tiba kehilangan ketertarikan. Sebab ‘persahabatan’ dengan perempuan lain telanjur mekar dan membuatnya sesak nafas akibat dorongan adrenalin yang tak terkendali.... Read more

#12. Ketika Semua (Tak) Indah Pada Waktunya

Cinta dan seks itu dekat, kan? Jadi saya mau masukkan pembahasan tentang seks dalam tantangan #28harimenulistentangcinta. Oh, tentu tidak mesum. Saya ogah terkena pasal UU ITE, amit-amit! (ketok-ketok meja) 🙁 Tapi begitulah. Kata seks selalu lekat dengan mesum. Seks tak dianggap indah lagi sejak foto-foto dan video telanjang mudah diakses oleh siapa saja dan dari media mana saja. Urusan seks selalu menarik dibahas diam-diam. Entah lewat lelucon sok patriarkis di antara kaum lelaki di tempat ngopi, atau bisik-bisik  antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu. Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang rapat atau grup Whatsapp. Padahal seks sebuah pengetahuan sakral. Ia bukan saja menyoal ketelanjangan, dan kerap diapresiasi dalam karya-karya sastra kuno. Barangkali orang lebih mengenal Kama Sutra dari India, padahal leluhur kita juga punya Serat Centhini. Sebuah karya sastra Jawa kuno gubahan para pujangga hebat dari keraton Surakarta yang dirilis di awal abad ke-19. Informasi seks dan seksualitas di dalamnya jauh lebih lengkap dan “menantang,” Terdiri dari ratusan tembang (lagu) bersyair bahasa Jawa yang hampir seluruhnya berbicara mengenai seks dan seksualitas. Begitu mengagumkannya karya sastra ini sehingga diterjemahkan dalam bahasa Perancis oleh Elizabeth D. Inandiak dengan judul Les Chants de l’ile a dormir debout le Livre... Read more

#11. The Good of Being Single

Tantangan #28harimenulistentangcinta saya katanya bikin beberapa teman kena baper akut 😀 Jadi, kali ini saya mau cerita tentang kawan saya aja deh. Cowok pinter, berpenampilan dan berperilaku baik, lulusan luar negeri, berkarier bagus dan… masih jomblo. 🙂 Dua siang yang lalu saya ketemuan dengan kawan lama itu. Di usia jelang empat puluh, ia sangat menikmati kehidupan membujangnya, dan tak peduli ketika banyak yang mengingatkan bahwa secara konstruksi sosial semestinya ia sudah menikah dan beranak. Saya dan dia membahas masalah konstruksi sosial ini. Ia menceritakan pada saya mengenai sebuah survei yang hasilnya dipublikasi dalam buku berjudul “So Why Have You Never Been Married? – Ten Insights into Why He Hasn’t Wed.” Saya belum pernah baca bukunya sih, jadi saya cuma bisa mendengarkan analisisnya. Intinya buku itu ditulis agar bisa memberi pemahaman, khususnya buat pembaca perempuan, mengapa banyak lelaki sukses dan pintar (seperti kawan itu) lebih suka memilih tidak menikah. Kesimpulannya, para lelaki itu bukan takut pada perkawinan. Mereka takut dengan perkawinan yang gagal. Juga, sepuluh kali lebih takut buat kawin dengan orang yang salah ketimbang perkawinan itu sendiri. Saya kira situasinya di sini mungkin berbeda, tapi memang saat ini makin banyak orang menunda perkawinan dan menyebutnya sebagai pilihan hidup. Barangkali ini sebuah... Read more