Troli

troli

Sebetulnya, ada yang lumayan mengganggu saya kalau pergi ke hipermarket. Areal koridor yang begitu luas seperti tak rela menganggur. Ia dipenuhi rak-rak barang yang membuat lebarnya berkurang sehingga tak beda dengan gang. Padahal troli belanja gak lagi berukuran medium, sebaliknya ia didesain dengan ukuran jumbo sehingga tak hanya bisa memuat belanjaan, tetapi anggota keluarga sekaligus. Dan troli-troli sebesar itu harus melewati gang-gang kelinci dalam bangunan hipermarket.

 

Continue reading “Troli”

Xenophobia dan Inferior Complex

Medsos saya diblokir seorang kawan yang gak menyukai saya lagi. Menurutnya saya sok kebarat-baratan. Sebetulnya saya gak pasti juga bagian mana dari pikiran saya yang ia tuduh begitu, tapi malas bertanya karena sudah sebal duluan. Cuma kemudian saya penasaran, apa sih kebarat-baratan itu?

Sebab saya gak berbikini saat liburan di pantai, meski bukan dengan alasan moralitas tetapi lebih soal minder sama bentuk tubuh sendiri. Saat makan kentang goreng, saya selalu mencocolnya ke sambal botol. Kalau saya memang keamrik-amrikan, maka saya  akan menggunakan saus tomat, atau dengan mayonise kalau saya ke-eropa-eropaan.

Continue reading “Xenophobia dan Inferior Complex”

Masih Penting, Ya?

Dua kawan membaca brosur seukuran folio sambil cekikian, mirip saat saya cekikikan krn membaca komik Benny & Mice – Lost in Bali. Karena penasaran, saya bertanya. Ternyata mereka menertawakan sebuah testimoni.

“Waktu kuliah saya melakukan hal terlalu jauh dgn pacar saya. Kemudian kami putus. Sekarang saya bingung sekali karena tak mau calon suami saya kecewa dengan kondisi saya yang sudah tidak perawan lagi. Bisakah ibu membantu saya agar kembali perawan?”

Continue reading “Masih Penting, Ya?”

Bule Minded

Pada tahun-tahun awal mengajar BIPA, saya pernah kepingin berpacar bule. Sekarang, setelah sepuluh tahun lewat, tak pernah sekalipun saya kencan dengan orang asing. Persoalannya cuma satu. Tak ada bule yang mau menjadikan saya pacar. ‘Terlalu outspoken’ katanya. ‘Kurang Indonesia’ kata yang lain. ‘Kulit lo nggak eksotis sih!’ ejek seorang kawan.

Barangkali label-label itu gak benar, tapi tetap membikin saya terpengaruh. Lantas saya mencoba mengingat-ingat kenapa saya (pernah) berniat pacaran dengan pria asing.

Continue reading “Bule Minded”

En Route

astrid savitri

Saya enggak mudik, sebab memang tak punya kampung halaman.

Sejak kecil saya terbiasa nomaden, hidup berpindah-pindah, mengikuti ayah yang berdinas di beberapa pulau berbeda. Sebenarnya saya punya keluarga besar di Bandung dan Jakarta, mereka sering ngumpul di salah satu kota itu setiap tahun. Hanya saja saya lebih sering absen, sebab keluarga inti saya, ibu dan adik-adik, ada di Jogja. Keluarga mertuapun tinggal 60 kilometer saja dari rumah, jadi tak bisa benar-benar disebut mudik. Continue reading “En Route”

Petasan

Satu hal yang saya gak suka dari bulan puasa adalah suara petasan. Entah di tempat lain, tapi di sekitar rumah saya suara petasan masih menjadi hal yang wajib ditoleransi. Sayangnya saya kurang bisa mentoleransi bunyi -bunyian keras. Telinga saya peka dan saya gampang kaget. Continue reading “Petasan”