Rutinitas Menulis

Rutinitas Menulis
Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Sama dengan banyak hal lain dalam hidup, tidak ada cara terbaik yang cocok diterapkan pada setiap individu. Setiap penulis bekerja dengan caranya masing-masing, juga memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri, dan kepribadian yang tak sama.

Misalnya, seorang penulis bisa saja menulis secara full-time seharian, sementara ada penulis lain hanya bisa menulis beberapa jam saja. Sudah pasti, rutinitas menulis yang sama tak bisa berhasil bagi kedua penulis tersebut.

Lantas, bagaimana kita bisa menciptakan rutinitas menulis yang paling tepat buat diri sendiri? Yang bisa membantu kita memfokuskan diri secara penuh dan menjadi seproduktif mungkin? Yang bisa membuat kita mendapatkan keseimbangan antara menulis dan hal-hal lain dalam hidup?

Ada beberapa cara menciptakan rutinitas menulis, mungkin salah satunya pas buatmu.

#1 Rutinitas Berdasarkan Tujuan

Satu hal yang harus dipertimbangkan ketika menciptakan rutinitas menulis adalah bagaimana rutinitas itu bisa membantumu mencapai tujuan?

Nggak ada gunanya punya rutinitas seperti menulis setiap hari kalau kamu nggak punya tujuan yang jelas. Misalnya, tujuanmu menyelesaikan draft bab pertama naskahmu akhir minggu depan, nah pecahkan tujuan ini menjadi beberapa target kecil, misalnya menulis satu halaman A4 setiap hari selama setengah jam selama minggu ini. Ketika tujuan kecil-kecil ini sudah kamu miliki, gunakan sebagai rutinitas menulis.

Catatan, usahakan agar selalu menyesuaikan tujuan dengan kemampuan ya. Misalnya, kalau kamu hanya mampu menulis seratus lima puluh kata atau setengah halaman, ya jangan memaksa diri menulis lima halaman sehari.

#2 Ciptakan Waktu, Bukan Cari Waktu

Waktu, selalu menjadi masalah umum para penulis. Banyak penulis yang yakin bahwa mereka tidak punya waktu untuk menulis secara teratur, makanya tak merasa harus menciptakan rutinitas menulis, hanya mencatat ide-ide di sana dan di sini.

Tentu cara itu bagus untuk penulis-penulis yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Kenyataannya sulit menyelesaikan naskah jika hanya berhenti pada ide-ide. Agar menjadi penulis yang benar-benar produktif dan menghasilkan karya, rutinitas menjadi penting.

Ada pepatah Cina yang saya suka dan pas banget buat menunjukkan bedanya menciptakan waktu dan mencari waktu;

Time is a created thing. To say, ‘I don’t have time’ is like saying, ‘I don’t want to.’ ~ Lao Tzu

Dedikasi dalam menulis, seberapa besar komitmen yang sedia kamu berikan untuk menghasilkan karya tulis, jika kamu benar-benar memiliki passion untuk itu, maka ciptakan waktu untuk menulis, sebab mencari waktu biasanya berakhir dengan kata tidak ada (waktu).

Sehari-hari saya mendedikasikan empat hingga lima jam menulis, sebab itu profesi saya. Tapi, tentu saja ada kalanya saya benar-benar sedang ‘tidak ingin’ menulis atau terlalu lelah. Dalam situasi ini, saya tetap menciptakan waktu di tengah rasa malas, meski hanya sepuluh atau lima belas menit sehari.

#3 Tentukan Waktu Paling Produktif

Seperti yang saya bilang tadi, setiap penulis memiliki cara kerja berbeda. Saya, misalnya, bekerja lebih cepat di malam hari, saat anggota keluarga lain sudah tertidur, dan lingkungan rumah lebih sepi. Pikiran saya lebih segar jika hanya mendengar suara-suara nokturnal, dan tentunya saya merasa lebih poduktif di jam-jam ini.

Penulis lain mungkin menganggap bahwa pagi hari setelah berolahraga adalah waktu produktif, atau bahkan sore hari sebelum mandi. Tak masalah, tentukan saja waktu produktif yang paling sesuai, di mana pada jam-jam itu, ide-ide dalam kepala seperti digelontorkan menjadi tulisan.

Rutinitas menulis merupakan cara terbaik agar naskah garapan kita lekas selesai dan kemudian terbit. Dan dalam sebuah rutinitas, repetisi adalah kunci. Semakin teratur kita menulis, semakin mudah menciptakan rutinitas menulis dan mencapai tujuan kita menerbitkan karya.

Penulis Haruki Murakami pernah mengatakan:

Serious writers write, inspired or not. Over time they discover that routine is a better friend than inspiration.

Jadi, yuk kita mulai menciptakan rutinitas menulis. Semangat menulis 🙂

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: