astrid savitri
Democracy and Freedom,  Random Thoughts

Sepatu

Gegara rajin nontonin IG story, saya jadi tahu bahwa kaos yang dikenakan Pak Presiden saat peresmian kereta Bandara beberapa hari lalu itu adalah produk lokal. Saya lupa mereknya, tapi tetap takjub. Betapa tidak! Presiden yang satu ini memang suka bikin heboh. Sebelum kaos, beliau membuat heboh warganet dengan jaket bomber dan sepatunya. Pilihan sepatu beliau memang tak biasa untuk seorang berjabatan tinggi.

Tapi sepatu selalu lekat dengan pribadi seseorang. Konon, kita bisa tertipu dengan pakaian atau makeup, tapi tidak dengan pilihan sepatu yang dikenakan. Penelitian dari sebuah universitas di Inggris menunjukkan bahwa secara tak sadar, kita cenderung menilai kepribadian orang lain lewat sepatunya.

Saya sendiri bukan penggemar sepatu model terkini, apalagi yang mahal. Tiga ratus ribu sudah kelewat tinggi buat harga sepatu-sepatu saya. Dulu, semasa masih ngantor, saya kerap mengenakan high-heels. Tentu saja saya pede, sebab rekan-rekan kerja saya bilang betis saya tambah seksi. Ckckck…

Hanya saja, dengan berjalannya waktu, mengenakan sepatu bertumit tinggi tak lagi nyaman buat saya. Benar, kaki saya jadi terlihat jauh lebih indah dan jenjang, tapi rasa sakit setelah kelamaan memakainya membuat saya akhirnya lebih suka membeli sepatu-sepatu flat, atau pakai sandal sekalian. Kenyamanan menjadi prioritas. Barangkali kenyamanan juga yang membuat Pak Presiden memilih model sepatu yang tak umum bagi pepimpin negara.

Saya ingat ketika presiden George W. Bush dilempari sepatu beberapa tahun lali. Saya kira insiden menggelikan ini bakal susah dilupakan, belum lagi gerak refleks sang presiden saat menghindarinya – bukan main! Tak butuh waktu lama, insiden tersebut segera dibuatkan video game-nya, sangat menarik bahwa kita bisa main lempar sepatu dengan presiden Bush sebagai targetnya.

Sebetulnya, bukan hanya George W. Bush, Imelda Marcos atau Joko Widodo saja yang pernah membikin kehebohan dengan sepatu, Presiden Suharto juga pernah.

Tahun 1974, cerita ayah saya waktu itu, Presiden Soeharto muncul di halaman pertama Kompas. Beliau difoto saat menengok sebuah lahan pertanian. Sebenarnya tidak ada yang luar biasa, tapi yang menarik perhatian adalah sepatu pak presiden; sejenis boot setinggi mata kaki dengan sol bergigi. Terlihat nyaman, gagah dan keren. Model yang tak umum di negara ini pada tahun itu.

Beberapa waktu kemudian, ketahuanlah bahwa sepatu itu bermerek Kickers. Sepatu dengan warna-warna pudar macam hijau kecoklatan dengan jahitan benang putih sebagai aksen, membuat bangga siapapun yang memakainya. Barangkali mirip perasaan abege saat wabah sepatu DocMart awal tahun 90an, atau ketika sepatu Crocs membuat ratusan orang rela mengantre di pertokoan. Cuma kalau sepatu DocMart atau Crocs dijual dengan harga empat ratus ribuan, sepasang sepatu Kickers di tahun 70an berharga dua puluh dua ribu rupiah sepasang.

Yup, dua puluh dua ribu rupiah! Jumlah itu setara dgn tiga celana Levis atau lebih dari dua bulan uang kos ayah saya waktu beliau kuliah di Bandung. Barang dengan harga tak jamak, dengan segera menjelma menjadi simbol kemewahan yang hadir dalam ketimpangan. Simbol kaum borjuis.

Saya tak pernah paham dengan perasaan orang-orang masa itu, sebab saya datang dari generasi yang hampir tak pernah merasakan perjuangan hidup sederhana. Saya lahir dari masa perayaan jor-joran, dan menjadi dewasa pada era di mana hedonisme adalah lumrah.

Hedonisme memang pernah menjadi target kritik gerakan mahasiswa tahun 70an. Soe Hok Gie pernah menolak undangan pejabat untuk hadir di Hotel Indonesia demi menunjukkan perlawanan pada gaya hidup mewah. Di tahun 1977 kecurangan dan kebobrokan pemerintahan Orde Baru semakin kasatmata, cuma tak ada yang berani bicara.

Pada akhirnya, moral anti hedonisme yang diperjuangkan para mahasiswa terpecah. Anak-anak pejabat mulai ngampus pakai sepatu Kickers, naik mobil mahal dan memilih berolaharga golf atau reli agar kelihatan keren. Sementara, mahasiswa-mahasiswa yang kecewa karena merasa kalah berjuang lebih memilih naik gunung.

Dan begitulah, sepatu untuk naik gunung pun tak lepas dari cengkraman kapitalisme. Dibikinnya, para pencinta alam membeli merek-merek luar yang harganya jauh lebih tinggi daripada gunung yang mereka daki.

Untungnya, saya tak suka naik gunung. Saya lebih memilih pergi ke mall. Sialnya, mall adalah tempat di mana sepatu-sepatu bermerek dijual. Lantas, di mana kesedehanaan berlaku jika hedonisme dipamerkan di mana-mana?

Entahlah. Yang saya tahu, di antara semua kemewahan itu, masih ada begitu banyak orang yang membeli sepatu seharga di bawah lima puluh ribu pun tak mampu. Ironis memang.

Facebook Comments

2 Comments

  • Wieda

    Sepatu….jadi ingat Imelda Marcos yg hobby nya ngumpulin sepatu
    Sepatu saja banyaknya sepatu untuk jalan
    Eh ada juga sepatu untuk hujan2 dan untuk dingin
    Klo sandal croc atau sepatu croc saya ada beberapa biji yg saya beli karena pas on sale harganya? Ngga lebih dari 70 ribuan

    • Astrid Savitri

      Ah, iya. Bertahun-tahun membangun imej, Imelda Marcos akhirnya hanya identik dengan sepatu ya, hehe… Crocs aku juga punya, khusus buat hujan2an krn ga licin tapi gapernah suka bentuknya. Sepatu2 paling sering aku beli dari Payless, sebab ada nomer 41 buat cewek, dan sering diskon 😀 … Thanks for stopping by mbak Wieda 🙂

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: