Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: belajar nulis

Menemukan Inpirasi dalam Menulis

Tidak peduli seberapa cintanya kamu pada kegiatan menulis, akan selalu ada hari dimana kamu kehabisan inspirasi. Berikut 10 cara favorit saya menemukan kembali inspirasi baru dalam menulis:

Blog

Blog walking adalah salah satu kegiatan favorit saya, terutama ketika menunggu. Selain blog milik sendiri, ada puluhan blog bagus di luar sana yang menulis beragam topik. Saya suka membaca pemikiran dan pengalaman orang lain, ini menginspirasi saya untuk menulis lagi.

Continue reading

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading

Uniformity

Pernah dengar kata demassification?

pensil warna, jadi penulisSaya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman.

Untungnya, saya kira, hal begitu nggak terjadi di dunia nyata. Closer milik The Chainsmokers boleh jadi menduduki peringkat pertama chart tangga lagu Billboard tahun lalu, tapi banyak juga yang nggak suka dan memilih lainnya. Jutaan jeans merk Levi’s telah diproduksi, tapi tetap saja orang punya gaya sendiri-sendiri ketika mengenakannya.

Dulu banyak yang khawatir bahwa KFC akan memonopoli pasar. Untungnya meski waralaba sang kolonel itu ada di mana-mana, ia tak dengan mudah menggeser kedudukan ratu ayam goreng kita, Ny. Suharti. Sama seperti saat Coca Cola mulai populer di Indonesia – meski memang sempat memukul industri minuman lokal, namun kemudian Sosro muncul, dan lantas diikuti brand lainnya. Dan rupanya kebanyakan dari kita masih bertahan memilih wedhang ronde atau sekoteng.

Ini bukan masalah anti Amerika atau modernisme versus tradisional. Ini semata-mata masalah perut – yang ogah distandarisasi. Meski dulu para pemuda bersumpah satu nusa satu bangsa satu bahasa, tapi tetap aja mereka (dan kita) ogah bersumpah untuk menyebut soto Madura, soto Bandung, soto betawi, soto Kudus, dan lain-lain sebagai soto Indonesia.

Itu kenapa saya suka aja makan di food court yang berceceran mal-mal (sementara mal bercecearan di mana-mana) sebab begitu banyak pilihannya. Sate padang, rica-rica menado, pempek palembang, gudeg Jogja, kimbab Korea, katsu Jepang, spageti Italia, burger Amerika… semuanya berbeda-beda. Tempat semacam ini buat saya mirip penolakan teori ‘demassification’-nya Alvin Toffler tadi.

Jadi, saya kadang suka heran sama orang-orang, yang atas nama pribadi, golongan, partai, agama, kelompok, atau apapun masih bertengkar mengenai keberagaman.

Ditolak? Jangan Baper Ah…

Dalam dua tahun, delapan buku saya diterbitkan dan bisa dengan mudah dicari di toko buku.

“Wah, Astrid.. kamu hebat banget, ih”

Eh, bentar. Dalam dua tahun itu sebenarnya saya mengirim sekitar dua puluh naskah, dan delapan saja yang berhasil terbit. Lantas ke mana dua belas naskah lainnya? Ya, ditolak. Sekarang masih saya simpan di laptop dengan rencana suatu hari mau saya revisi dan kirim lagi ke penerbit lain.

Memang sedih dan terluka banget ya (tsah..) kalau sampai naskah yang udah kita tulis berbulan-bulan ditolak begitu saja oleh penerbit. Tapi mau bagaimana lagi? Itu hak mereka. Oya, omong-omong, selain penolakan-penolakan dari penerbit, saya juga pernah mengalami diketawain editor karena kesalahan riset naskah, dimarahin klien ghostwriting, ditinggal kabur tanpa dibayar padahal naskah sudah setengah jadi, didepak dari proyek impian tanpa alasan jelas, naskah yang telanjur jual putus ternyata dicetak ulang dan saya nggak dapat bagian. Ya, gitu deh. Kebayang kan bete-nya.

Continue reading

Gimana Sih Cara Nulis Buku?

Menulis itu mudah. Yang harus kamu lakukan adalah mencoret kata-kata yang salah –Mark Twain

Pertanyaan itu hampir selalu ditanyakan ke saya oleh mereka yang tahu saya penulis, atau ingin bisa menulis (seperti saya, haha…). Barangkali, seperti beberapa teman penulis, saya akan menjawab malas dengan “Menulis itu mudah kok!” dan jawaban ini mirip template default sebab kenyataannya menulis itu tidak mudah.

Bagian tersulit bagi kebanyakan penulis bukanlah menerbitkan bukunya, apalagi sekarang ini ada lebih banyak peluang untuk menjadi penulis daripada sebelumnya. Saya bisa bilang, menerbitkan buku bukan bagian yang harus saya lakukan dengan kerja keras, melainkan penulisan itu sendiri.

Continue reading

8 + 1 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Nulis Cerpen

  1. Latihan. Cerpen merupakan cara yang tepat untuk melatihmu mengembangkan sebuah cerita, lengkap dengan bagian awal, pertengahan dan akhir – dengan lebih mudah daripada sebuah nove.
  2. Dumay. Pembaca sekarang itu, selain layar ponselnya kecil, rentang perhatiannya juga lebih singkat. Jurnal sastra, jurnal online, dan majalah yang memuat cerpen seringkali dibaca secara online. Oleh karena itu, kamu bisa mencapai target pasar yang berlainan melalui cerpen-cerpenmu
  3. Terhubung. Cerpen dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk menulis di internet. Kamu bisa mengembangkan e-book antologi atau cerita serial. Kamu juga bisa melakukannya dengan memulai blog dan memosting berkala.
  4. Awal yang Baik. Banyak penulis hebat memulai karier kepenulisannya dengan menulis cerpen. Stephen King, Ernest Hemingway, and Mark Twain menjadi novelis terkenal sepanjang masa, dan mereka menyempurnakan karyanya dengan menulis cepren.
  5. Eksperimen. Cerpen merupakan cara yang baik untuk mencoba beberapa genre berbeda tanpa harus menghabiskan ribuan kata, yang harus direvisi, ditulis ulang dan dicetak di atas kertas. Kamu juga mungkin menemukan bahwa kamu lebih cocok menulis genre tertentu, yang amat berbeda dengan yang selama ini kamu sering tulis.
  6. Reputasi. Cerpen juga cara yang baik untuk membantumu membangun reputasi sebab bisa menunjukkan pada penerbit bahwa kamu adalah penulis yang berkarya. Majalah-majalah yang memuat cerpen seringkali dibaca oleh para reviewer, penerbit dan editor.
  7. Kompetisi. Mengikuti lomba menulis cerpen dapat menjadi lompatan karir. Memenangkan kompetisi bergengsi, atau jika ceritamu dilibatkan dalam buku antologi, dapat menjadi resume yang bagus bagi karier dan juga penghargaan yang luar biasa bagi dirimu sendiri. Selain feedback, kamu bahkan mungkin memenangkan hadiah berupa uang dari beberapa lomba. Hal ini jarang terjadi dalam penulisan novel.
  8. Konsentrasi. Cerpen memaksamu menuliskan kisah secara to the point. Tidak adanya sub-plot, dan juga jumlah karakter yang terbatas, membuatmu lebih mudah berkonsentrasi pada plot utama. Ini bagus bagi penulis yang harus sering kesulitan mengisi kisah latar belakang pada novel-novelnya

    +1 Cinta. Menulis cerpen karena kamu cinta banget menulis.

    Ingin belajar menulis cerpen? Kontak saya di savitriastrid@gmail.com atau gabung di Facebook fanpage Penulis Menulis

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: