Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀

Padahal nama pena atau pseudonyms adalah hal yang umum buat seorang penulis. Banyak penulis besar atau best seller yang tak menggunakan nama aslinya. JK Rowling, misalnya, bernama asli Joanne. Mark Twain dilahirkan dengan nama Samuel  Clemens, dan Multatuli adalah nama samaran dari Edward Douwes Dekker.

Lantas kenapa seorang penulis menggunakan nama pena? Alasannya beragam, ada yang karena ingin menyebrang genre, menjaga privacy dari penggemar, menjaga perasaan penggemar atau beralih penerbit.

Stephen King barangkali bakal ditinggalkan penggemarnya jika ia Continue reading