Saya lagi kecewa, dan kepingin ngomongin seseorang.

Ia seorang penulis yang (tadinya) saya sukai. Buku-bukunya banyak dan ia terkenal. Lantas, saya merasa ia telah berubah menjadi jemawa. Tak tahan kritik. Merasa penulis best seller, lantas marah ketika ada orang lain yang memiliki pendapat atas buku-bukunya. Meski tak benar-benar marah secara verbal, gestur-nya menunjukkan “Emang lo siapa? Berani-berani ngritik gue, udah pernah nulis buku lo?”

Ini saya lihat ketika menghadiri bedah buku dan book signing event-nya di Jogja dua tahun lalu. Ia memperlihatkan ekspresi tak senang ketika beberapa mahasiswa dari fakultas sastra mempertanyakan sesuatu dari karyanya. Dan tentunya saya langsung kecewa, sebab (sebelum saya tahu bagaimana reaksinya atas kritik) saya penyuka tulisannya.

Beberapa hari lalu, saya lihat di medsos-nya, penulis tersebut marah-marah atas masukan follower-nya tentang konten bukunya. “Kalau ngasih komen, yang sopan, dong!” begitu reaksinya. Duh, saya langsung ilfil dan berniat tak akan pernah membeli karyanya lagi. Dan kayaknya saya nggak sendirian. Lagipula siapa sih yang nggak males kalau kasih feedback aja dimarahi hanya karena si penulis merasa dia lebih tahu sastra ketimbang pemberi komentar? Padahal buku solo-nya sedikit, sisanya buku keroyokan alias antologi, atau duet dengan penulis lain.

Karena setengah kecewa dan setengah sebal, saya langsung berujar sambil ketok-ketok meja,“Amit-amit deh aku jadi penulis sombong begitu.” Tapi lantas tersadar, jangan-jangan saya sudah seperti dia. Kemudian saya berusaha mengingat semua yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Benar, saya sudah menulis dua puluh buku, tiga per empatnya saya tulis sendiri. Sisanya saya tulis berdua dengan teman penulis. Eh, ini termasuk jemawa, kan ya? 🙂

Satu hal yang diajarkan suami pada saya, bahwa banyaknya buku saya yang sudah terbit hanya menunjukkan satu hal, yaitu saya bisa menulis sesuatu yang disukai penerbit dan dibeli pembaca. Jika mau terus seperti itu, satu-satunya cara adalah dengan terus belajar . Meng-upgrade diri. Tidak melulu dengan banyak baca buku atau mengikuti pelatihan menulis, tapi juga dengan belajar menerima kritik.

Bagaimana pun juga, pembaca adalah pembeli buku-buku saya. Mereka berhak mengkritik apapun yang mereka beli, dengan harga yang tak murah pula! Wajar jika ada yang nggak puas atau merasa terkecoh dengan tulisan saya, lantas memprotes. Lha wong, duit buat beli buku itu bisa buat beli satu cup Caramel Macchiato ukuran Venti di Starbuck, kok.

Trus, apa saya harus pasrah saja jika ada yang mengritik? Awalnya sih, siapa pun pasti langsung panas jika diprotes, apalagi saya yang mudah kesal dan baper. Cuma, memberi respons negatif juga enggak akan memperbaiki keadaan sih. Ya, ditampung saja dulu sambil bilang thank you, lalu setelah tenang gunakan kritikan itu sebagai panduan buat menulis dengan lebih baik.

Respons negatif cuma bakal membuat namamu sebagai penulis tercoreng. Padahal, kelangsungan karier penulis bergantung dari namanya. Dan mendapatkan nama dalam dunia penulisan (atau profesi apapun) bukan hal yang bisa dicapai semalam dua malam. Perlu kerja keras konsisten. Nah, masa cuma gara-gara kita emosi dan merespons kritik secara negatif, trus kerja keras kita berantakan? Malesin banget kan?

Lantas, bagaimana kalau pembaca mengkritik tanpa sopan santun? Tahu kan bagaimana kebanyakan orang sekarang berbahasa di medsos? Kadang pilihan katanya benar-benar menyakitkan. But well, we can’t control other people anyway. Jadi, kendalikan saja diri sendiri. Kalau komentarnya kejam, ya jangan dijawab dengan kejam. Apa bedanya saya dengan mereka kalau saya ikut-ikutan berkata pedas atas komentar mereka.

Lagipula, bukannya kalau ada kritik artinya karya kita memang benar-benar dibaca ya? Pembaca yang peduli akan selalu berusaha agar penulis kesayangannya tetap berada di jalur, tidak berubah menjadi jemawa.