Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: buku fiksi

Menemukan Inpirasi dalam Menulis

Tidak peduli seberapa cintanya kamu pada kegiatan menulis, akan selalu ada hari dimana kamu kehabisan inspirasi. Berikut 10 cara favorit saya menemukan kembali inspirasi baru dalam menulis:

Blog

Blog walking adalah salah satu kegiatan favorit saya, terutama ketika menunggu. Selain blog milik sendiri, ada puluhan blog bagus di luar sana yang menulis beragam topik. Saya suka membaca pemikiran dan pengalaman orang lain, ini menginspirasi saya untuk menulis lagi.

Continue reading

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading

Ditolak? Jangan Baper Ah…

Dalam dua tahun, delapan buku saya diterbitkan dan bisa dengan mudah dicari di toko buku.

“Wah, Astrid.. kamu hebat banget, ih”

Eh, bentar. Dalam dua tahun itu sebenarnya saya mengirim sekitar dua puluh naskah, dan delapan saja yang berhasil terbit. Lantas ke mana dua belas naskah lainnya? Ya, ditolak. Sekarang masih saya simpan di laptop dengan rencana suatu hari mau saya revisi dan kirim lagi ke penerbit lain.

Memang sedih dan terluka banget ya (tsah..) kalau sampai naskah yang udah kita tulis berbulan-bulan ditolak begitu saja oleh penerbit. Tapi mau bagaimana lagi? Itu hak mereka. Oya, omong-omong, selain penolakan-penolakan dari penerbit, saya juga pernah mengalami diketawain editor karena kesalahan riset naskah, dimarahin klien ghostwriting, ditinggal kabur tanpa dibayar padahal naskah sudah setengah jadi, didepak dari proyek impian tanpa alasan jelas, naskah yang telanjur jual putus ternyata dicetak ulang dan saya nggak dapat bagian. Ya, gitu deh. Kebayang kan bete-nya.

Continue reading

Pengalaman Pertama Menulis Buku Dongeng

Selalu ada yang pertama buat semua hal. Pertengahan 25-dongeng-nusantara-dan-dunia-tepopuler-sepanjang-masabulan Mei lalu, saya ditantang penerbit buat menulis buku dongeng. Wah, seneng banget karena memang sudah lama pingin bisa menulis kisah-kisah menarik buat anak-anak. Pingin membukukan dongeng-dongeng yang sering saya ceritakan ke anak-anak saya, tepatnya.

Sayangnya, saya salah menangkap maksud penerbit. Mereka maunya saya re-write kumpulan dongeng nusantara, bukan menulis dongeng baru. Re-write di sini artinya mem-parafrase dongeng-dongeng populer dengan bahasa versi saya, tapi kisahnya tetap ikut pakem. Kecewa? Ya, sedikit. Tapi karena sudah kadung senang, ya tetap saja saya jalan. Pikir saya, “Ah, lebih mudah, nih! Kan tinggal kumpulkan materinya, sumbernya banyak, lantas ditulis ulang dengan kalimat sendiri.”

Kalau dilihat dari proses itu, ya sih lebih mudah. Makanya proses penulisan buku dongeng bisa saya selesaikan dalam dua minggu. Tapi ternyata justru di sini tantangannya.

Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: