Menemukan Inpirasi dalam Menulis

Tidak peduli seberapa cintanya kamu pada kegiatan menulis, akan selalu ada hari dimana kamu kehabisan inspirasi. Berikut 10 cara favorit saya menemukan kembali inspirasi baru dalam menulis:

Blog

Blog walking adalah salah satu kegiatan favorit saya, terutama ketika menunggu. Selain blog milik sendiri, ada puluhan blog bagus di luar sana yang menulis beragam topik. Saya suka membaca pemikiran dan pengalaman orang lain, ini menginspirasi saya untuk menulis lagi.

Continue reading “Menemukan Inpirasi dalam Menulis”

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading “Rutinitas Menulis”

Uniformity

pensil warna, jadi penulis
Pernah dengar kata demassification?

Saya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman. Continue reading “Uniformity”

Mentor

Menulis itu kan bakat, kan… lantas kenapa juga perlu mentor?

Ada dua hal yang saya nggak setuju dari kalimat itu. Pertama, menulis itu perlu kerja keras. Sama dengan profesi-profesi lain, seorang penulis harus punya disiplin tinggi, keinginan untuk terus belajar dan juga latihan terus menerus. Kalau ada bakat, itu bagus. Kamu bisa lebih cepat dalam menciptakan karya. Kalau tidak, kamu tetap bisa punya karya hebat.

Kedua, seorang penulis sangat perlu (setidaknya) seorang mentor.  Enggak masalah apakah kamu penulis pemula atau penulis yang buku-bukunya best seller terus, kamu bakal mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki mentor.

Continue reading “Mentor”