Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: Buku

Menemukan Inpirasi dalam Menulis

Tidak peduli seberapa cintanya kamu pada kegiatan menulis, akan selalu ada hari dimana kamu kehabisan inspirasi. Berikut 10 cara favorit saya menemukan kembali inspirasi baru dalam menulis:

Blog

Blog walking adalah salah satu kegiatan favorit saya, terutama ketika menunggu. Selain blog milik sendiri, ada puluhan blog bagus di luar sana yang menulis beragam topik. Saya suka membaca pemikiran dan pengalaman orang lain, ini menginspirasi saya untuk menulis lagi.

Continue reading

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading

Plot Outline vs Sinopsis

Apa perbedaan antara plot outline dan sinopsis? Pertanyaan ini banyak masuk ke kontak saya.

Di awal belajar menulis, saya juga kesulitan membedakan istilah-istilah tersebut. Lantas saya belajar bahwa sinopsis adalah ringkasan dari novelmu. Penerbit mungkin akan meminta kamu menulis sinopsis sebagai bagian dari proposal naskah. Jadi, sinopsis umumnya dibuat setelah naskah selesai ditulis.

Sedangkan plot outline adalah sesuatu yang harus dibuat sebelum menulis novel. Plot outline ini kemudian kita gunakan sebagai panduan selama proses penulisan untuk membantu kita mengingat bagaimana cerita tersebut ingin kita ungkapkan. “Plotters” atau penulis yang mengandalkan plot outline akan merencanakan isi novel terlebih dahulu. Merencanakan bagaimana novelmu akan ditulis ngebantu banget dalam mengurangi waktu menulis ulang naskahmu.

Continue reading

Gimana Sih Cara Nulis Buku?

Menulis itu mudah. Yang harus kamu lakukan adalah mencoret kata-kata yang salah –Mark Twain

Pertanyaan itu hampir selalu ditanyakan ke saya oleh mereka yang tahu saya penulis, atau ingin bisa menulis (seperti saya, haha…). Barangkali, seperti beberapa teman penulis, saya akan menjawab malas dengan “Menulis itu mudah kok!” dan jawaban ini mirip template default sebab kenyataannya menulis itu tidak mudah.

Bagian tersulit bagi kebanyakan penulis bukanlah menerbitkan bukunya, apalagi sekarang ini ada lebih banyak peluang untuk menjadi penulis daripada sebelumnya. Saya bisa bilang, menerbitkan buku bukan bagian yang harus saya lakukan dengan kerja keras, melainkan penulisan itu sendiri.

Continue reading

8 + 1 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Nulis Cerpen

  1. Latihan. Cerpen merupakan cara yang tepat untuk melatihmu mengembangkan sebuah cerita, lengkap dengan bagian awal, pertengahan dan akhir – dengan lebih mudah daripada sebuah nove.
  2. Dumay. Pembaca sekarang itu, selain layar ponselnya kecil, rentang perhatiannya juga lebih singkat. Jurnal sastra, jurnal online, dan majalah yang memuat cerpen seringkali dibaca secara online. Oleh karena itu, kamu bisa mencapai target pasar yang berlainan melalui cerpen-cerpenmu
  3. Terhubung. Cerpen dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk menulis di internet. Kamu bisa mengembangkan e-book antologi atau cerita serial. Kamu juga bisa melakukannya dengan memulai blog dan memosting berkala.
  4. Awal yang Baik. Banyak penulis hebat memulai karier kepenulisannya dengan menulis cerpen. Stephen King, Ernest Hemingway, and Mark Twain menjadi novelis terkenal sepanjang masa, dan mereka menyempurnakan karyanya dengan menulis cepren.
  5. Eksperimen. Cerpen merupakan cara yang baik untuk mencoba beberapa genre berbeda tanpa harus menghabiskan ribuan kata, yang harus direvisi, ditulis ulang dan dicetak di atas kertas. Kamu juga mungkin menemukan bahwa kamu lebih cocok menulis genre tertentu, yang amat berbeda dengan yang selama ini kamu sering tulis.
  6. Reputasi. Cerpen juga cara yang baik untuk membantumu membangun reputasi sebab bisa menunjukkan pada penerbit bahwa kamu adalah penulis yang berkarya. Majalah-majalah yang memuat cerpen seringkali dibaca oleh para reviewer, penerbit dan editor.
  7. Kompetisi. Mengikuti lomba menulis cerpen dapat menjadi lompatan karir. Memenangkan kompetisi bergengsi, atau jika ceritamu dilibatkan dalam buku antologi, dapat menjadi resume yang bagus bagi karier dan juga penghargaan yang luar biasa bagi dirimu sendiri. Selain feedback, kamu bahkan mungkin memenangkan hadiah berupa uang dari beberapa lomba. Hal ini jarang terjadi dalam penulisan novel.
  8. Konsentrasi. Cerpen memaksamu menuliskan kisah secara to the point. Tidak adanya sub-plot, dan juga jumlah karakter yang terbatas, membuatmu lebih mudah berkonsentrasi pada plot utama. Ini bagus bagi penulis yang harus sering kesulitan mengisi kisah latar belakang pada novel-novelnya

    +1 Cinta. Menulis cerpen karena kamu cinta banget menulis.

    Ingin belajar menulis cerpen? Kontak saya di savitriastrid@gmail.com atau gabung di Facebook fanpage Penulis Menulis

Kok Kamu Ingin Jadi Penulis?

Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan pada saya. Buat orang-orang yang sudah mengenal saya sejak lama, pertanyaannya malah lebih spesifik, “Kok bisa sih kamu jadi penulis?” Pertanyaan mereka bukan tanpa dasar. Latar belakang pendidikan sarjana saya jauh dari dunia tulis menulis. Saya kuliah di jurusan arsitektur. Iya, arsitektur! Seharusnya saat ini saya berprofesi sebagai arsitek, perancang bangunan dan gedung, bukan penulis buku.

Saya kira kita semua setuju bahwa jalan hidup memang unik, dan sulit ditebak. Belajar arsitektur selama enam tahun, lulus dengan nilai baik dan sempat bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen di almamater saya. Sebelum lulus kuliah, saya juga bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing – atau bahasa kerennya ekspatriat. Dan pekerjaan inilah yang kemudian saya tekuni lebih serius setelah menerima gelar sarjana teknik. Aneh, kan? Susah-susah belajar arsitektur, malah memilih jadi pengajar bahasa.

Continue reading

Door Duisternis Tot Licht

Sudah pernah baca buku “Door Duisternis Tot Licht”?

Saya belum. Soalnya saya gak bisa bahasa Belanda. Kalaupun bisa, saya gak yakin kepingin membacanya sebab ada sentimen pribadi dengan motivasi penyusun buku itu, Mr. Abendenon. Dialah orang yang bersusah payah mengumpulkan surat-surat Kartini dan menyusunnya menjadi buku lantas diberi judul Door Duisternis Tot Licht.

Doorduisternistotlicht

Ironisnya dia jugalah yang menghalang-halangi niat Kartini untuk bersekolah di negeri Belanda, padahal sudah ada sponsor dan beasiswa untuknya dan kedua adik perempuannya. Seperti semua tahu, Kartini batal berangkat, lantas digiring kawin dengan lelaki yang sudah punya sekian istri.

”Door Duisternis Tot Licht” terbit tahun 1911 dan langsung menyedot perhatian berbagai kalangan hingga para bangsawan Belanda, termasuk ratu Wilhelmina, menyumbangkan ratusan gulden kepada yayasan Kartini untuk memperbaiki kondisi pendidikan perempuan di Jawa. Sebagai catatan; Yayasan Kartini dikelola oleh anak lelaki Abendenon sendiri, dan gak pernah ada catatan sejarah tentang perbaikan pendidikan yang didanai oleh yayasan ini.

Saya kenal Kartini sebagai legenda – sama legendanya dengan Ratu Pantai Selatan dan Rara Jongrang. Buat saya, Kartini cuma wajah dalam poster, yang ultahnya selalu dirayakan dengan kontes berkebaya di sekolah dan komoditas mall. Padahal kebaya cuma identitas kultural yang gak ada hubungannya sama sekali dengan perjuangannya.

Cuma sepuluh tahun terakhir saya gak lagi melihat Kartini sebagai sosok yang melulu sedih sepanjang hidupnya (seperti yang diperankan Yenny Rachman dalam filmnya) atau dari sisi domestik bahwa ia perempuan pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan dan mati.

Pandangan saya — bahwa Kartini adalah pahlawan bangsa, pendekar kaumnya, pelopor dan perintis emansipasi dan berkat Kartini, perempuan sekarang bisa sampai di sekolah tinggi dan sejajar kedudukannya dengan lelaki — juga berubah. Sebab ternyata itu semua cuma sebagian kecil dari perjuangan Kartini yang sebenarnya yaitu; melawan feodalisme dan mengangkat derajat rakyat kecil.

Memang, saya lebih mengenal Kartini dari buku ”Panggil Aku Kartini Saja”karya Pramoedya Ananta Toer, bukan dari ”Door Duisternis Tot Licht” maupun ”Habis Gelap Terbitlah Terang.” – Dan saya lebih percaya analisa Pramoedya ketimbang si Belanda itu, sebab Pramoedya membuat riset sedangkan Abendenon hanya memilih (tanpa pertimbangan siapapun) surat-surat Kartini yang dirasanya layak dan menguntungkan politik etis Belanda saat itu. Cuma dia dan Tuhan yang tahu apa isi surat-surat lain dari Kartini yang tidak dipilihnya (atau di mana surat-surat lainnya itu)

Dan tentang ”Habis Gelap Terbitlah Terang” itu, setahu saya diterjemahkan Armijn Pane ke dalam bahasa Melayu – bahasa yang saya juga gak ngerti. Entah kalau sekarang sudah ada edisi bahasa Indonesia modern, soalnya sudah lama saya gak sempat ke toko buku.

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: