Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: cara jadi penulis

Menemukan Inpirasi dalam Menulis

Tidak peduli seberapa cintanya kamu pada kegiatan menulis, akan selalu ada hari dimana kamu kehabisan inspirasi. Berikut 10 cara favorit saya menemukan kembali inspirasi baru dalam menulis:

Blog

Blog walking adalah salah satu kegiatan favorit saya, terutama ketika menunggu. Selain blog milik sendiri, ada puluhan blog bagus di luar sana yang menulis beragam topik. Saya suka membaca pemikiran dan pengalaman orang lain, ini menginspirasi saya untuk menulis lagi.

Continue reading

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading

Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?

Mengawali karier sebagai freelance writer sejak delapan tahun yang lalu, dan kemudian memulai bisnis penulisan, mengajari saya banyak hal. Ternyata benar bahwa kemampuan menulis cuma salah satu keahlian yang wajib dikuasai, jika ingin menjadi penulis freelance sukses.

Sama hal dengan jenis pekerjaan freelance lain, penulis freelance juga menjalankan bisnis sendiri. Dengan begitu, pekerjaan menulis bukan satu-satunya, sebab penulis freelance juga harus bisa mengatur banyak hal, mulai dariinvoice dan pembayaran, hingga marketing dan membangun jejaring.

Continue reading

Uniformity

Pernah dengar kata demassification?

pensil warna, jadi penulisSaya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman.

Untungnya, saya kira, hal begitu nggak terjadi di dunia nyata. Closer milik The Chainsmokers boleh jadi menduduki peringkat pertama chart tangga lagu Billboard tahun lalu, tapi banyak juga yang nggak suka dan memilih lainnya. Jutaan jeans merk Levi’s telah diproduksi, tapi tetap saja orang punya gaya sendiri-sendiri ketika mengenakannya.

Dulu banyak yang khawatir bahwa KFC akan memonopoli pasar. Untungnya meski waralaba sang kolonel itu ada di mana-mana, ia tak dengan mudah menggeser kedudukan ratu ayam goreng kita, Ny. Suharti. Sama seperti saat Coca Cola mulai populer di Indonesia – meski memang sempat memukul industri minuman lokal, namun kemudian Sosro muncul, dan lantas diikuti brand lainnya. Dan rupanya kebanyakan dari kita masih bertahan memilih wedhang ronde atau sekoteng.

Ini bukan masalah anti Amerika atau modernisme versus tradisional. Ini semata-mata masalah perut – yang ogah distandarisasi. Meski dulu para pemuda bersumpah satu nusa satu bangsa satu bahasa, tapi tetap aja mereka (dan kita) ogah bersumpah untuk menyebut soto Madura, soto Bandung, soto betawi, soto Kudus, dan lain-lain sebagai soto Indonesia.

Itu kenapa saya suka aja makan di food court yang berceceran mal-mal (sementara mal bercecearan di mana-mana) sebab begitu banyak pilihannya. Sate padang, rica-rica menado, pempek palembang, gudeg Jogja, kimbab Korea, katsu Jepang, spageti Italia, burger Amerika… semuanya berbeda-beda. Tempat semacam ini buat saya mirip penolakan teori ‘demassification’-nya Alvin Toffler tadi.

Jadi, saya kadang suka heran sama orang-orang, yang atas nama pribadi, golongan, partai, agama, kelompok, atau apapun masih bertengkar mengenai keberagaman.

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: