Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: cara menulis naskah

Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?

Mengawali karier sebagai freelance writer sejak delapan tahun yang lalu, dan kemudian memulai bisnis penulisan, mengajari saya banyak hal. Ternyata benar bahwa kemampuan menulis cuma salah satu keahlian yang wajib dikuasai, jika ingin menjadi penulis freelance sukses.

Sama hal dengan jenis pekerjaan freelance lain, penulis freelance juga menjalankan bisnis sendiri. Dengan begitu, pekerjaan menulis bukan satu-satunya, sebab penulis freelance juga harus bisa mengatur banyak hal, mulai dariinvoice dan pembayaran, hingga marketing dan membangun jejaring.

Continue reading

#13. Alasan Selingkuh (Part 1)

#28harimenulistentangcinta

“Astrid, kenapa cowok berselingkuh?” tanya seorang kawan perempuan pada suatu siang. Pertanyaan yang membuat saya gelagapan tak bisa menjawab dan akhirnya kepikiran seharian.

selingkuh

Entahlah, saya kok merasa satu-satunya cara menjaga agar cowok nggak selingkuh adalah dengan menciptakan relationship yang baik.  Menurut saya, rasa bersalah menyakiti pasangan bisa lebih kuat buat “menahan” cowok agar tak selingkuh dibandingkan takut putus, dikucilkan teman dan keluarga, atau tertular penyakit mematikan.

Persoalannya, pemikiran saya sudah kuno. Sebab, bahkan pernikahan atau hubungan pacaran yang baik-baik saja ternyata tak mampu menahan pria untuk selingkuh. Ia barangkali bertemu teman lama, atau mantannya, lalu kewalahan dengan segala nostalgia di antara mereka. Bisa juga seorang yang belum lama dikenalnya lantas chemistry di antara keduanya memercik. Ia mulai suka menghabiskan waktu dengan orang ini dan mencari jalan untuk bertemu dengannya. Mengirimi pesan teks, menelpon atau ngobrol di media chatting. Semua atas nama persahabatan.

Angin segar itu awalnya berembus sepoi-sepoi dalam kehidupan asmaranya, dan kemudian tiba-tiba ia menemukan dirinya telah  jatuh ke dalam sebuah hubungan yang dapat mengubah dunia pasangannya menjadi kocar-kacir.  Pria mulai mengabaikan pasangannya, tak lagi punya waktu untuknya dan tiba-tiba kehilangan ketertarikan.

Sebab ‘persahabatan’ dengan perempuan lain telanjur mekar dan membuatnya sesak nafas akibat dorongan adrenalin yang tak terkendali. Dalam hati, ia tahu persis bahwa yang dilakukannya salah, tapi menolak menerima. Mengendalikan perasaan tampaknya tidak mungkin, sehingga meski merasa bersalah, pria terus melanjutkan hubungan tersebut.

Berselingkuh memang seperti adiksi. Kecanduan. Kita tahu itu salah, tapi kita menyukainya, sebab ia memuaskan kebutuhan. Misanya, jika pria merasa perlu terus mengasah kecerdasan dan pasangannya tak mampu memenuhi, ia mungkin akan menjadi tertarik pada seseorang yang intelek dan dapat memuaskan kebutuhan mentalnya itu.

Setiap pesan teks, sependek apapun, dan setiap percakapan serta pertemuan menjadi begitu istimewa, walau paham hubungan tersebut tidak akan ke mana-mana. Ia, secara fisik dan emosional, butuh bertemu selingkuhannya dan sangat sulit berhenti. Sebab berhenti artinya melepaskan diri dari kebutuhan. Pria tak siap merasakan kekosongan jika kehilangan hal tersebut. Inilah yang membuat perselingkuhan tak mampu ia hentikan.

Tapi sebentar. Bukankah hal-hal yang saya tulis di atas menjadi seperti pembenaran? Bahwa pria berselingkuh sebab pasangannya tak mampu memenuhi kebutuhannya? Apa itu artinya bude-bude saya yang ceriwis itu benar, bahwa jika istri dicerai, itu artinya ia nggak becus mengurus suaminya?

Oh, tentu saja bukan itu yang saya maksud. Saya masih yakin, gender bisa setara. Pria dan wanita bisa menjadi mitra sejajar, bukan saling mendominasi. Namun saya juga yakin bahwa pria lahir dengan sifat sebagai pemburu. Itu berlaku dari zaman pra sejarah hingga hari ini. Ia memburu apa yang ia anggap memenuhi kebutuhannya.

Dari jutaan alasan yang ada, alasan teratas seorang pria berselingkuh adalah aspek hubungan seksual yang bermasalah. Ia barangkali tak lagi berminat main seks dengan pasangannya, atau bosan dengan seks yang repetitif. Dan ini bukan kesalahan pasangannya. Ketika sensasi seks berkurang, itu adalah kesalahan mereka berdua sebagai pasangan. Jeleknya, ketika pria mulai bosan, libidonya justru menuntut lebih.

Alasan lain yang bisa saya pikirkan adalah pria berselingkuh karena ada kesempatan – dan dia mengambilnya. Rekan kerja, teman Facebook atau orang yang baru dikenal di suatu acara dapat saja membuatnya merasa seperti ‘seseorang yang baru’ atau menjadi ‘seseorang yang diinginkan.’ Ia lantas merasa hebat dan berharga lagi. Jika kebanggaan ini kemudian menyumpal moral, ia akan merusak hubungan dengan pasangannya. Selamanya.

Di luar kedua alasan tadi, pria juga barangkali akan berselingkuh ketika merasa dirinya mengalami kekacauan emosional. Bisa karena argumen pahit dengan pasangan atau hal-hal lain. Pria seringkali menyelesaikan gejolak emosi melalui cara-cara destruktif seperti minum alkohol, mengonsumi obat-obatan, melakukan kekerasan dan seks terlarang. Pria cenderung akan melakukan apa pun agar rasa sakitnya pergi, dan seks adalah yang paling efektif serta efisien.

Lumayan rumit memang, sebab bagian otak pria yang memikirkan seks itu luas. Seorang kawan bilang, pada saat bersamaan pria hanya bisa menggunakan salah satu, entah otak atau penisnya. Kawan lain mengatakan bahwa pria memikirkan seks setiap tujuh detik. Itu setara dengan 8000 kali sehari! Entah dia dapat data dari mana 😀

Jika seks dan kebutuhan mental yang tak terpenuhi membuat pria berselingkuh, lantas apa dong yang mendorong seorang wanita melakukan hal sama? Saya tulis di postingan berikutnya ya, udah ngantuk soalnya 🙂

#6. Percintaan Serat Optika

#28harimenulistentangcinta

Sebenarnya ragu-ragu juga mau menulis tentang percintaan serat optika, sebab saya ‘anak lama’. Zaman saya pacaran, jangankan Whatsapp, sms pun belum ada. Telpon? Tak semua rumah punya. Rumah saya termasuk yang tak memiliki alat komunikasi itu.

kencan online

 

 

Jika menceritakan hal ini, para milenial pasti terheran-heran dan bertanya, “Lantas bagaimana caranya berkomunikasi? Bagaimana bisa mengecek dia di mana, dengan siapa, sedang berbuat apa?”

Tak bisa. Tak ada Whatsapp untuk bisa bertanya langsung. Tak ada Facebook, Path, Twitter, IG dan medsos lain untuk mengintip aktivitasnya, mengetahui makanan yang ia pesan, atau berlama-lama memandangi wajahnya lewat layar.

Namun saya kira di situlah romansanya. Setiap kali janjian kencan, saya selalu deg-degan. Dia jadi datang nggak ya? Sudah berangkat menjemput saya belum ya? Kok dia terlambat, ke mana dulu ya? Begitu juga ketika bangun pagi dan merindukannya, saya bertanya-tanya sendiri. Dia sudah bangun belum ya? Dia kangen aku nggak ya? Dia… dia… dia… dan segalanya tentang dia dapat menimbulkan rasa penasaran yang memuncak menjadi kerinduan yang ditutup dengan senyum-senyum sendiri saat memutar ulang hal-hal indah yang dilakukan berdua.

Siksaan manis ini mungkin tak dapat dipahami oleh milenials. Barangkali mereka juga akan menganggap kisah saya terlalu primitif. Sama seperti saya menganggap percintaan para Neanderthal adalah barbar. Pria masa itu barangkali langsung membopong wanita yang ditemuinya di tengah jalan lantas masuk ke dalam gua untuk bermain seks. Tak ada basa-basi, pedekate, apalagi foreplay. Padahal menurut manusia pra sejarah, cara itu romantis banget.

Anyway, meski tak pernah, saya rasa nggak ada yang salah dengan percintaan serat optika. Bertemu pasangan melalui dunia maya bukan lagi hal memalukan. Namun, seperti semua hal dalam hidup, selalu ada risiko untuk keputusan yang kita ambil. Dan dalam percintaan online, risiko yang paling umum adalah penipuan.

Dengan teknologi, seseorang bisa mengubah identitas dirinya menjadi siapapun. Ia bisa menjadi pribadi yang begitu menarik, perhatian, penyayang, dan bisa diandalkan. Ia juga bisa mengaku single padahal sudah berkeluarga. Sebenarnya di dunia nyata juga begitu sih, ngaku-ngaku bujangan kepada setiap wanita, ternyata cucunya segudang…. *halah, itu mah lagunya Anggun 😀

Tapi Anggun benar. Mau di dunia maya, dunia nyata hingga dunia lain, jujur dalam percintaan itu penting. Nggak masalah dengan editing foto-foto selfie Instagram atau re-touch avatar Tinder, tapi nggak perlu juga kali sampai memiripkan wajah dengan Raisa atau Dian Sastro. Cowok juga sebaiknya nggak nekat mem-photoshop tubuhnya supaya mirip pria-pria L-Men. Kalau memang beneran six pack dan atletis sih nggak apa-apa, lah kalau beda jauh? Calon gebetan online-mu bisa-bisa ilfil duluan. Kalimat motivasi “jadilah diri sendiri” barangkali terdengar basi, tapi benar. Meski maya, dunia itu juga penuh dengan manusia, dan mereka juga nggak suka dibohongi.

Dan jangan pernah mau dibohongi.

Menurutmu kenapa Roro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso? Sebab ia tahu perangai sang calon suaminya yang buruk. Lha, dari mana dia tahu? Yang pasti bukan dari gosip selebriti, trending topic Twitter atau status Facebook lah. Saya kira Roro Jonggrang sudah mengirimkan hulubalangnya sebagai mata-mata. Jika tidak begitu, ia akan menurut saja menikah dengan pria yang abusive dan tempramental. Meski menolak Bandung tetap mengubahnya menjadi candi keseribu, setidaknya Roro Jonggrang menjadi candi yang berbahagia. Ini analisis ngawur saya aja sih.

Intinya, jika Roro Jonggrang saja melakukan survei calon pasangan, masa kamu enggak? Google up dong semuanya tentang dia. Jangan percaya bio yang ia tampilkan di media online, sebab Google bisa membantumu mencari tahu mengenai identitas asli, silsilah keluarga, teman-teman, rahasia dan aib pribadinya, eh! 😀 … Pokoknya, manfaatkan si mesin pencari agar tak mudah tertipu. Meski mungkin datanya tak seratus persen benar, setidaknya kamu punya gambaran seperti apa orang yang sedang kamu sukai itu.

Bicara tentang teman-temannya, jangan kaget melihat interaksinya dengan mereka. Orang yang kamu sukai itu bisa berbeda jauh dari harapan kamu. Misalnya, ia begitu ramah dan menyenangkan pada lawan jenisnya, lantas belum apa-apa kamu sudah cemburu dan mengasumsikan ia sebagu si genit perayu. Percintaan melalui media online bukan tempat yang tepat buat kamu yang hatinya serapuh gelas-gelas kaca. Baper nggak punya tempat di sini.

Jadi, siap dengan percintaan serat optika? Saya sih tidak.

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading

Pseudonyms

Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀

Padahal nama pena atau pseudonyms adalah hal yang umum buat seorang penulis. Banyak penulis besar atau best seller yang tak menggunakan nama aslinya. JK Rowling, misalnya, bernama asli Joanne. Mark Twain dilahirkan dengan nama Samuel  Clemens, dan Multatuli adalah nama samaran dari Edward Douwes Dekker.

Lantas kenapa seorang penulis menggunakan nama pena? Alasannya beragam, ada yang karena ingin menyebrang genre, menjaga privacy dari penggemar, menjaga perasaan penggemar atau beralih penerbit.

Stephen King barangkali bakal ditinggalkan penggemarnya jika ia Continue reading

Mentor

Menulis itu kan bakat, kan… lantas kenapa juga perlu mentor?

Ada dua hal yang saya nggak setuju dari kalimat itu. Pertama, menulis itu perlu kerja keras. Sama dengan profesi-profesi lain, seorang penulis harus punya disiplin tinggi, keinginan untuk terus belajar dan juga latihan terus menerus. Kalau ada bakat, itu bagus. Kamu bisa lebih cepat dalam menciptakan karya. Kalau tidak, kamu tetap bisa punya karya hebat.

Kedua, seorang penulis sangat perlu (setidaknya) seorang mentor.  Enggak masalah apakah kamu penulis pemula atau penulis yang buku-bukunya best seller terus, kamu bakal mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki mentor.

Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: