Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading “Rutinitas Menulis”

Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?

Mengawali karier sebagai freelance writer sejak delapan tahun yang lalu, dan kemudian memulai bisnis penulisan, mengajari saya banyak hal. Ternyata benar bahwa kemampuan menulis cuma salah satu keahlian yang wajib dikuasai, jika ingin menjadi penulis freelance sukses.

Sama hal dengan jenis pekerjaan freelance lain, penulis freelance juga menjalankan bisnis sendiri. Dengan begitu, pekerjaan menulis bukan satu-satunya, sebab penulis freelance juga harus bisa mengatur banyak hal, mulai dariinvoice dan pembayaran, hingga marketing dan membangun jejaring.

Continue reading “Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?”

#3. Bukan Piring yang Sama

selingkuh

Hari Ketiga #28harimenulistentangcinta challenge

Pernahkah kamu menyukai pasangan orang lain?

Saya sering sih. Waktu remaja saya suka banget sama Tom Cruise dan pingin pacaran sama dia, padahal saya tahu dia sudah menikah sama Nicole Kidman. Pas gedean dikit, saya ngefans berat sama Keanu Reeves lantas berimajinasi menjadi pasangan sehidup sematinya, padahal kala itu dia belum bercerai dari istrinya. Belakangan, gara-gara sering nonton K-Drama, saya jadi suka berkhayal ciuman sama Lee Min Ho, meski tahu dia punya pacar (dan saya juga sudah menikah) Continue reading “#3. Bukan Piring yang Sama”

Uniformity

pensil warna, jadi penulis
Pernah dengar kata demassification?

Saya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman. Continue reading “Uniformity”

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading “8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu”