Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: jasa ghostwriting

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading

Pseudonyms

Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀

Padahal nama pena atau pseudonyms adalah hal yang umum buat seorang penulis. Banyak penulis besar atau best seller yang tak menggunakan nama aslinya. JK Rowling, misalnya, bernama asli Joanne. Mark Twain dilahirkan dengan nama Samuel  Clemens, dan Multatuli adalah nama samaran dari Edward Douwes Dekker.

Lantas kenapa seorang penulis menggunakan nama pena? Alasannya beragam, ada yang karena ingin menyebrang genre, menjaga privacy dari penggemar, menjaga perasaan penggemar atau beralih penerbit.

Stephen King barangkali bakal ditinggalkan penggemarnya jika ia Continue reading

Tahun Baru Semangat Baru!

Yeay, akhirnya launching website! Yeay, akhirnya punya tim!

Awal tahun 2017 ini saya semangat banget memulai teamwork untuk membesarkan bisnis. “Sudah waktunya” kata seorang mentor yang beberapa kali mengatakan bahwa sejak lama ia melihat banyak potensi dalam diri saya (tapi saya sibuk minder, jadi nggak mendengarkan dia)

Tertunda sekitar dua tahun. Saya selalu berpikir terlalu sibuk untuk mengurusi sebuah tim dan cenderung multitasking. Padahal bisnis saya sudah berjalan cukup lama, klien saya nggak sedikit dan order kadang harus ditahan sebab terus mengalir. Dan saya dengan sok merasa sangat mampu banget menjalankannya sendirian. Tentu saja, pemikiran ini kemudian ditertawakan mentor-mentor saya.

Tahun lalu sempat bergabung dengan sebuah tim serupa, tapi tak berjalan mulus. Saya mengira jika kerja bareng dengan senior bakal sukses. Ternyata enggak juga. Kolaborasi itu ternyata nggak bisa dengan senior seilmu. Harus dengan beda ilmu dan kapasitas, setidaknya masing-masing memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki partnernya.

Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: