Ngapem, Nyadran dan Padusan

Posted on Leave a commentPosted in About LIfe, Beliefs

Menjelang bulan puasa, saya suka mengamati kegiatan penduduk kampung dekat rumah, yang barangkali juga dilakukan kebanyakan kampung di Jogja dan Jawa tengah. Setidaknya ada tiga tradisi sakral turun temurun yang masih wajib dijalankan sampai sekarang; Ngapem, Nyadran dan Padusan. Namanya tradisi, memang gak berhubungan dengan ajaran Islam, cuma tanpanya berpuasa terasa ada yang kurang. Ngapem adalah kegiatan membuat kue apem. Dilakukan dalam kurun waktu sebulan sebelum puasa dimulai, setelah pihak Keraton mengadakan acara Ngapem. Kue apem ini bersama ketan dan kolak – setelah dibacakan doa – akan dikirim ke para tetangga, teman, kenalan, besan, bahkan atasan. Karena penasaran saya pernah bertanya apa esensi dari Ngapem ini, sayangnya tidak ada yang ingat – barangkali karena tradisi ini sudah berusia ratusan tahun. Yang menarik adalah bila saya dikirimi sepaket apem ketan kolak, maka kemudian saya harus membalas mengirimi paket yang sama kepada si pengirim tadi. Bayangkan kalau saya mendapat lima puluh paket dalam sehari! Beruntung saya suka makan. Lalu ada tradisi Nyadran, sebuah ritual ziarah ke makam para moyang, tetua dan kerabat. Diawali dengan bersih-bersih makam, lalu penduduk kampung – dengan membawa besek nasi dan lauk […]

The Year of Living Dangerously

Posted on Leave a commentPosted in Personal

Saya bukan sengaja asal comot judul*, tapi memang judul tulisan saya kali ini agak cocok dengan keadaan Jogja yang — kalau mau dibesar-besarkan — ada di tengah-tengah bahaya! Bayangkan, gempa di selatan (bahkan gempa susulannya masih terasa sampai sekarang) dan letusan Merapi di utara! Memang sih, kelihatannya letusan merapi tidak akan mencapai Jogjakarta karena jaraknya terlalu jauh.. tapi hidup dalam perasaan takut dan trauma benar-benar tidak menyenangkan! Berita atau isu kecil saja bisa bikin gak bisa tidur atau makan. Kamu baca laporan tentang orang-orang yang harus masuk bangsal jiwa karena “teror” bencana alam tersebut, kan? Cerita lain adalah tentang teman yang masih muntah-muntah dan susah tidur sampai sekarang hanya karena dia berkunjung ke rumah sakit sesudah gempa (niatnya sih membantu), dan ada juga relawan asing (seorang dokter) yang juga harus dirawat di bangsal jiwa karena depresi dengan keadaan korban gempa yang dibantunya. Perasaan “insecure” yang terus menerus memang mengganggu, sulitnya itu hanya bisa dihilangkan dari dalam diri kita. Bangsal jiwa, dokter jiwa atau obat-obatan lebih hanya untuk membantu, tetapi kepercayaan dan penerimaan bahwa ada sesuatu yang […]

Things You Don’t See Everyday

Posted on Leave a commentPosted in About LIfe

Apa yang terjadi setelah bencana gempa bumi di Jogja?! Kamu bisa melihat bahwa setiap orang ingin berpartisipasi membantu korban, ada yang dengan menyumbangkan uang, pakaian, tikar – apa saja atau bagi mahasiswa yang tidak memiliki cukup materi untuk disumbangkan, banyak yang turun jadi relawan. Sungguh mulia! Mereka harus mau dikeluh-kesahi oleh para korban yang sangat tertekan dan kesakitan. Modalnya cuma ketulusan hati! Di jalan-jalan utama Jogja, kamu bisa melihat posko gempa setiap beberapa meter dimana siapa pun bisa menyalurkan bantuan. Sungguh membanggakan rasa kemanusiaan yang timbul secara spontan untuk membantu orang-orang yang tertimpa bencana! Kamu juga akan melihat van-van mewah (bukan plat AB) bersliweran dengan sirine, bendera, spanduk atau tempelan kertas di kaca depan yang menunjukkan keberadaan mereka sebagai kendaraan pembawa bantuan. Ironisnya van-van yang sama terlihat parkir di depan rumah makan padang terbesar dan termahal atau di depan Dagadu – dan menurut cerita satu teman yang bekerja sebagai kasir di sana, cukup banyak “relawan” dari luar kota yang melakukan aksi borong habis kaos Dagadu – bukan untuk disumbang, tetapi untuk oleh-oleh. Mumpung di Jogja! […]