Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: mentoring

Rutinitas Menulis

Inspirasi, kreatifitas, dedikasi, dan sejumput bakat – semua itu adalah elemen yang dibutuhkan seorang penulis.

Buat saya, ada satu hal yang mungkin lebih penting dari semua elemen tersebut jika disatukan. Satu hal yang dijamin bisa membantu supaya lebih produktif, dan satu hal itu namanya rutinitas menulis.

Setiap penulis yang ingin menerbitkan bukunya HARUS menciptakan rutinitas menulis

Tanpa rutinitas ini, mudah banget penulis jatuh ke perangkap bernama procrastination, kebiasaan menunda-nunda akut, yang hanya bakal bikin kecewa diri sendiri karena hasil karya kita nggak sebagus yang kita mau. Tanpa rutinitas, sulit membiasakan diri untuk menulis. Padahal kita tahu kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus kita bentuk jika ingin melihat buku kita terbit dan dibaca banyak orang.

Continue reading

Mentor

Menulis itu kan bakat, kan… lantas kenapa juga perlu mentor?

Ada dua hal yang saya nggak setuju dari kalimat itu. Pertama, menulis itu perlu kerja keras. Sama dengan profesi-profesi lain, seorang penulis harus punya disiplin tinggi, keinginan untuk terus belajar dan juga latihan terus menerus. Kalau ada bakat, itu bagus. Kamu bisa lebih cepat dalam menciptakan karya. Kalau tidak, kamu tetap bisa punya karya hebat.

Kedua, seorang penulis sangat perlu (setidaknya) seorang mentor.  Enggak masalah apakah kamu penulis pemula atau penulis yang buku-bukunya best seller terus, kamu bakal mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki mentor.

Continue reading

Pengalaman Pertama Menulis Buku Dongeng

Selalu ada yang pertama buat semua hal. Pertengahan 25-dongeng-nusantara-dan-dunia-tepopuler-sepanjang-masabulan Mei lalu, saya ditantang penerbit buat menulis buku dongeng. Wah, seneng banget karena memang sudah lama pingin bisa menulis kisah-kisah menarik buat anak-anak. Pingin membukukan dongeng-dongeng yang sering saya ceritakan ke anak-anak saya, tepatnya.

Sayangnya, saya salah menangkap maksud penerbit. Mereka maunya saya re-write kumpulan dongeng nusantara, bukan menulis dongeng baru. Re-write di sini artinya mem-parafrase dongeng-dongeng populer dengan bahasa versi saya, tapi kisahnya tetap ikut pakem. Kecewa? Ya, sedikit. Tapi karena sudah kadung senang, ya tetap saja saya jalan. Pikir saya, “Ah, lebih mudah, nih! Kan tinggal kumpulkan materinya, sumbernya banyak, lantas ditulis ulang dengan kalimat sendiri.”

Kalau dilihat dari proses itu, ya sih lebih mudah. Makanya proses penulisan buku dongeng bisa saya selesaikan dalam dua minggu. Tapi ternyata justru di sini tantangannya.

Continue reading

Kok Kamu Ingin Jadi Penulis?

Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan pada saya. Buat orang-orang yang sudah mengenal saya sejak lama, pertanyaannya malah lebih spesifik, “Kok bisa sih kamu jadi penulis?” Pertanyaan mereka bukan tanpa dasar. Latar belakang pendidikan sarjana saya jauh dari dunia tulis menulis. Saya kuliah di jurusan arsitektur. Iya, arsitektur! Seharusnya saat ini saya berprofesi sebagai arsitek, perancang bangunan dan gedung, bukan penulis buku.

Saya kira kita semua setuju bahwa jalan hidup memang unik, dan sulit ditebak. Belajar arsitektur selama enam tahun, lulus dengan nilai baik dan sempat bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen di almamater saya. Sebelum lulus kuliah, saya juga bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing – atau bahasa kerennya ekspatriat. Dan pekerjaan inilah yang kemudian saya tekuni lebih serius setelah menerima gelar sarjana teknik. Aneh, kan? Susah-susah belajar arsitektur, malah memilih jadi pengajar bahasa.

Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: